Constance Wu Ingin Beradu Peran dengan Lucy Liu di Sekuel Crazy Rich Asians

Jakarta: Salah satu tokoh tituler film box office Crazy Rich Asians, Constance Wu mengungkapkan ia ingin kembali beradu peran dengan Margareth Cho. Di samping itu, ia juga ingin beradu peran dengan Lucy Liu.

“Aku menyukai Sandra Oh. Dia sosok fenomenal. Aku juga menyukai Lucy Liu, dia adalah ikon bagiku,” paparnya dalam wawancara bersama ET Online.

Constance Wu juga berpendapat, berkat Margareth Cho, film Crazy Rich Asians ikut diterima penikmat film di luar Asia. Menurutnya, Margareth Cho adalah sosok panutan warga ras Asia-Amerika.

“Semua perempuan Asia-Amerika seperti Magareth Cho yang menjadi pionir sebagai representasi orang Asia dan memberi jalan bagi film, seperti Crazy Rich Asians. Aku akan sangat senang bekerja sama dengan SBOBET orang-orang seperti mereka,” imbuhnya.

Crazy Rich Asians merupakan bagian seri pertama dari trilogi novel besutan Kevin Kwan. Judul novel kedua, China Rich Girlfriend kabarnya akan segera diangkat ke layar lebar. Sementara seri ketiga berjudul Rich People Problems.

Sutradara John M. Chu telah mengonfirmasi untuk memimpin proyek film sekuel dan kembali reuni dengan penulis naskah Peter Chiarelli dan Adele Lim. Beberapa pemain utama yakni Constance Wu dan Henry Goulding masih terlibat dalam proyek sekuel.

Crazy Rich Asians menjadi film box office setelah dirilis perdana di Amerika Serikat pada 15 Agustus 2018. Film ini berkisah tentang asmara pemuda kaya raya asal Singapura, Nick Young (Henry Goulding) dan kekasihnya Rachel Chu (Constance Wu). Perbedaan strata dalam masing-masing keluarga sempat membuat keduanya terancam tidak dapat menjalin hubungan serius.

Sebelum tenar lewat Crazy Rich Asians, Constance Wu pernah bekerja sebagai pelayan restoran. “Aku bekerja sebagai pelayan, di sini, New York City kurang lebih selama 10 tahun,” ceritanya.

Ia membagikan pengalamannya ketika bertemu dengan Winfrey. “Suatu hari aku bertemu dengan Winfrey dan celakanya aku menumpahkan airnya. Dia sangat cool bahkan tidak menyadarinya,” paparnya.

Dilan 1991 dan Milea Siap Syuting di Bandung

Iqbaal dan Vanesha saat jumpa pers film Dilan 1991 di Bandung, Senin, 29 Oktober 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Bandung: Proyek dua film sekuel adaptasi Dilan 1991 dan Milea telah masuk tahap pra-produksi dan akan mulai syuting dalam waktu dekat. Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla akan kembali beradu akting sebagai Dilan dan Milea.

Kisahnya diadaptasi dari novel Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 dan Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq, melanjutkan kisah cinta Dilan dan Milea dari novel dan film pertama.

Naskah adaptasi ditulis Titien Wattimena bersama Pidi Baiq. Fajar Bustomi kembali menjadi sutradara. Ody Mulya Hidayat menjadi produser dalam bendera Max Pictures.

“Persiapan sudah 70 persen lebih. Kami sudah melakukan workshop yang sempat tertunda karena Iqbaal kemarin masih harus syuting. Sekarang semuanya sudah berjalan dan Iqbaal sudah ikut workshop sbobet indonesia,” kata Ody dalam jumpa pers di Bandung, Senin, 29 Oktober 2018.

Selain Iqbaal dan Vanesha, pemain lama yang kembali terlibat adalah Ceu Popon, Yoriko Angeline, Zulfa Maharani, Zara JKT48, Giulio Parengkuan, Gusti Rayhan, Omara Esteghal, Azzura Pinkania.

Lalu ada sejumlah pemain baru, antara lain Bucek Depp, Maudy Koesnaedi, Ence Bagus, dan Jerome Kurnia. Bucek, yang akan berperan sebagai ayah Dilan, telah memangkas rambut jadi pendek demi peran ini.

Kedua film ini memang akan diproduksi dalam satu rangkaian jadwal sekaligus demi mengamankan waktu terkait jadwal studi pemain. Syuting akan berlangsung selama tujuh pekan mulai 3 November 2018.

Dilan 1991 dijadwalkan rilis di bioskop pada 2019. Milea akan dirilis tahun berikutnya.

Gandeng Studio Film, Apple Siap Saingi HBO dan Netflix

California: Dalam era disrupsi teknologi internet, Apple telah mengambil langkah jauh dalam bisnis produksi film dan konten orisinil. Perusahaan pembuat komputer dan gawai canggih ini dikabarkan telah menjalin kontrak jangka panjang dengan A24, studio independen pembuat film-film peraih nomine Oscar.

Kabar ini datang dari Reuters, yang melaporkan bahwa menurut sumber internal, Apple akan bekerja sama dengan A24 untuk membuat film dan pertunjukan asli selama beberapa tahun. Sebelumnya, kontrak kerja sama telah dijalin dengan selebritas dan sineas Hollywood untuk produksi film dan serial. Modal awal yang telah dikucurkan Apple untuk program konten asli mencapai USD1 miliar atau sekitar Rp14,5 triliun.

Proyek yang telah resmi diumumkan antara lain pertunjukan oleh Oprah Winfrey, serial drama oleh Damien Chazele sutradara La La Land, serial thriller dari M Night Shyamalan, antologi sci-fi Amazing Stories, serial distopia See, serta adaptasi novel sci-fi klasik Foundation.

A24 adalah perusahaan independen yang aktif sejak 2012 dan berbasis di New York. Mereka berawal sebagai studio distribusi, sebelum kemudian berkembang menjadi studio produksi film dan tayangan televisi. Selama lima tahun terakhir, mereka telah merilis lebih dari 75 film, seperti Moonlight peraih Oscar, Lady Bird, Room, Hereditary, The Lobster, serta Swiss Army Man.

Apple adalah perusahaan teknologi sejak 1976 dan belakangan melebarkan sayap bisnis ke distribusi musik dan video lewat Apple Music. Dengan pengembangan bisnis ke produksi konten asli, Apple akan bersaing dengan sejumlah platform yang lebih dulu berkembang seperti Netflix, Amazon, dan HBO.

(ELG)

Stan Lee Getol Sisipkan Pesan Anti-Rasisme dalam Komik Marvel

Los Angeles: Penulis sekaligus komikus komik Marvel, Stan Lee punya misi khusus dalam tokoh Marvel besutannya. Pada 1968, ia menuliskan tentang fanatisme dan rasisme yang akan terus menjangkit di dunia. Pemikiran visioner itu dituliskan Stan Lee dalam kolom Stan’s Soapbox pada 1960-an.

“Kefanatikan dan rasisme adalah salah satu penyakit sosial paling mematikan yang menjangkiti dunia saat ini,” tulis Stan Lee, dilansir dari Washington Post, Selasa 13 November 2018.

Tentang fanatisme dan rasisme, Stan Lee menulisnya pada tahun ketika Martin Luther King Jr. dan Robert F. Kennedy tewas dibunuh. Kalimat ini pernah ditulis kembali olehnya melalui Twitter pada 15 Agustus 2017, menanggapi tentang kekerasan mematikan yang dipicu nasionalis kulit putih di Charlottesville. 

Pada akhir tulisannya, Stan menuliskan harapan bagi manusia. “Cepat atau lambat, jika manusia layak menjalani takdirnya, kita harus mengisi hati kita dengan toleransi.”

Ia menggunakan kalimat ini untuk menghadapi dan mencela kefanatikan. Nilai-nilai ini dikisahkan dalam komik Marvel.

“Mavel selalu dan akan selalu menjadi cerminan dari dunia di luar jendela kita. Dunia mungkin akan berubah dan berkembang, tetapi satu hal yang tidak akan berubah adalah cara kita menyampaikan cerita tentang kepahlawanan,” ungkap Lee dalam sebuah video yang dibagikan pada musim semi lalu.

“Cerita-cerita itu memiliki ruang untuk semua orang, tanpa memandang ras, jenis kelamin, atau warna kulit mereka. Satu-satunya hal yang tidak kita miliki adalah kebencian, intoleransi dan kefanatikan,”tulisnya.

Contoh pada karakter Black Panther yang diciptakan pada 1966 oleh Stan Lee bersama Jack Kirby. Karakter Black Panther adalah raja Afrika yang memerintah negara kaya dan berteknologi maju, Wakanda. Karakternya sebagai wujud pahlawan super berkulit hitam pertama di dunia.

Perlawanan terhadap nilai rasisme Amerika juga diangkat dalam film X-Men. Para mutan X-Men yang selalu menghadapi diskriminasi.

“Saya selau merasa X-Men, secara halus, sering menyentuh subjek rasisme dan ketidaksetaraan, dan saya percaya bahwa subjek telah muncul dalam judul lain juga,” tuturnya dalam wawancara khusus bersama Washington Post dua tahun lalu.

“Kami tidak akan pernah berusaha keras mengenai masalah ini, yang harus ditangani dengan hati-hati dan kecerdasan.”

Dalam Stan’s Soapbox, ia juga menuliskan bagaimana kebesarana kekuatan cinta dapat mengalahkan rasa benci. Ia mengibaratkan tiga tokoh pembawa perdamaian dari Kristen, Buddha, dan Moses ketika ajaran dan perbuatan mereka dapat mempengaruhi jutaan orang selama bertahun-tahun yang keberadaannya masih terasa di setiap sudut bumi.

“Sekarang perhatikan para praktisi kebencian yang telah menodai halaman-halaman sejarah. Siapa yang masih memuliakan kata-kata mereka? Di mana penghormatan masih dibayar untuk ingatan mereka? Spanduk apa yang masih diangkat untuk tujuan mereka?”

“Kekuatan cinta dan kekuatan kebencian, mana yang paling abadi? Ketika Anda cenderung putus asa… biarkan jawabannya menopang Anda,” tulis Lee.

Stanley Martin Lieber meninggal dunia pada 12 November 2018 waktu setempat. Ia meninggal dalam usia 95 tahun.

(ASA)

Daftar Lengkap Nominasi FFI 2018

Jakarta: Komite Festival Film Indonesia telah mengumumkan daftar nomine untuk seluruh kategori penghargaan Piala Citra 2018. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak memborong nominasi dengan masuk ke dalam 14 dari 18 kategori untuk film cerita panjang.

Total ada 22 judul film cerita panjang yang menjadi nomine 18 kategori. Film-film ini dipilih dari 130-an film bioskop setahun terakhir, lewat seleksi yang melibatkan 20 asosiasi. Selain film cerita panjang, nomine lain adalah tujuh film cerita pendek, tiga dokumenter panjang, 10 dokumenter pendek, dan enam film animasi.

Setelah Marlina, peraih nominasi terbanyak berikutnya adalah Aruna & Lidahnya dengan sembilan kategori, Sekala Niskala dengan sembilan nomine dalam delapan kategori, Wiro Sableng dengan delapan kategori, serta Sultan Agung dengan enam kategori.

Selain Wiro Sableng, keempat film di atas menjadi nomine film cerita panjang terbaik.

Menariknya, sejumlah kategori “terpanas” berhasil ditembus hanya oleh tiga atau empat film saja, sedangkan kategori lain bisa sampai lebih dari lima film. Misalnya, sutradara terbaik, film terbaik, penulis skenario adaptasi terbaik, dan dokumenter panjang terbaik.

Berikut daftar nomine 22 kategori penghargaan untuk Piala Citra 2018. Malam Anugerah akan dihelat di Jakarta pada 10 Desember 2018.

1. Penata Busana Terbaik
– Adrianto Sinaga (Wiro Sableng)
– Bambang Sugiarto (Wage)
– Gemaila Gea Geriantiana (Chrisye)
– Meutia Pudjowarsito (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

2. Penata Rias Terbaik
– Darto Unge (Sultan Agung)
– Didin Syamsyudin (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Jerry Octavianus (Wiro Sableng)
– Novie Ariyanti (Sebelum Iblis Menjemput)
– Retno Astuti (Wage)

3. Pengarah Artistik Terbaik
– Adrianto Sinaga (Wiro Sableng)
– Alan Sebastian, Edy Wibowo (Sultan Agung)
– Frans XR Paat (Wage)
– Frans XR Paat (Kafir)
– Frans XR Paat (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

4. Penata Efek Visual Terbaik
– Canary Project (Kafir)
– Danny S Kim, Teguh Raharjo (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Geppetto Animation (22 Menit)
– Keliek Wicaksono (Wiro Sableng)
– x.Jo, Hery Kuntoro (Sultan Agung)

5. Penata Musik Terbaik
– Aghi Narrotama, Bemby Gusti (Kafir)
– Aksan Sjuman (Kulari ke Pantai)
– Aria Prayogi (Wiro Sableng)
– Ken Jenie, Mar Galo (Aruna & Lidahnya)
– Zeke Khaseli, Yudi Arfani (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

6. Pencipta Lagu Tema Terbaik
– Ade Avery, Jessilardus Mates, Ayudia Bing Slamet – Teman tapi Menikah (Teman tapi Menikah)
– Mhala Numata, Tantra Numata – Juara (Naura & Genk Juara)
– Rayi Putra, Astono Andoko, Anindyo Baskoro – Kulari ke Pantai (Kulari ke Pantai)
–  Tarapti Ikhtiar Rinrin, MA Nur Fauzan – Rindu Sendiri (Dilan 1990)

7. Penata Suara Terbaik
– Aria Prayogi, Ichsan Rachmadita (Wiro Sableng)
– Khikmawan Santosa, Yusuf A Patawari (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Satrio Budiono, Krisna Purna (Sultan Agung)
– Trisno, Hadrianus Eko, Yasuhiro Morinaga (Sekala Niskala)

8. Penyunting Gambar Terbaik
– Cesa David Luckmansyah (Hujan Bulan Juni)
– Dinda Amanda, Dwi Agus Putranto (Sekala Niskala)
– Kelvin Nugroho (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Teguh Raharjo (Sebelum Iblis Menjemput)
– W Ichwandiardiono (Aruna & Lidahnya)

9. Pengarah Sinematografi Terbaik
– Anggi Frisca (Sekala Niskala)
– Batara Goempar (Sebelum Iblis Menjemput)
– Hani Pradigya (Wage)
– Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng)
– Yunus Pasolang (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

10. Pemeran Utama Pria Terbaik
– Adipati Dolken (Teman tapi Menikah)
– Ario Bayu (Sultan Agung)
– Gading Marten (Love for Sale)
– Iqbaal Ramadhan (Dilan 1990)
– Oka Antara (Aruna & Lidahnya)
– Vino G Bastian (Chrisye)

11. Pemeran Utama Wanita Terbaik
– Della Dartyan (Love for Sale)
– Dian Sastrowardoyo (Aruna & Lidahnya)
– Marsha Timothy (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Prisia Nasution (Lima)
– Putri Ayudya (Kafir)

12. Pemeran Pendukung Pria Terbaik
– Egi Fedly (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Ence Bagus (Guru Ngaji)
– Marthino Lio (Sultan Agung)
– Nicholas Saputra (Aruna & Lidahnya)
– Teuku Rifnu Wikana (Wage)
– Yoga Pratama (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

13. Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
– Ayu Laksmi (Sekala Niskala) – fourcolours
– Dea Panendra (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Dewi Irawan (Ayat-ayat Cinta 2) MD pictures
– Hannah Al Rashid (Aruna & Lidahnya) palari
– Karina Suwandi (Sebelum Iblis Menjemput)
– Ruth Marini (Wiro Sableng)

14. Pemeran Anak Terbaik
– Alifa Lubis (Koki-koki Cilik)
– Bima Azriel (Petulangan Menangkap Petir)
– Fatih Unru (Petualangan Menangkap Petir)
– Ida Bagus Putu Raditya Mahijasena (Sekala Niskala)
– Lil’li Latisha (Kulari ke Pantai)
– Maisha Kanna (Kulari ke Pantai)
– Ni Kadek Thaly Titi Kasih (Sekala Niskala)

15. Penulis Skenario Asli Terbaik
– Andibachtiar Yusuf, Irfan Ramli (Love for Sale)
– Gina S Noer, Mira Lesmana, Riri Riza, Arie Kriting (Kulari ke Pantai)
– Kamila Andini (Sekala Niskala)
– Mouly Surya, Rama Adi (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Vera Varidia (Koki-koki Cilik)

16. Penulis Skenario Adaptasi Terbaik
– Johanna Wattimena, Upi (Teman tapi Menikah)
–  Rano Karno (Si Doel The Movie)
– Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya)

17. Sutradara Terbaik
– Edwin (Aruna & Lidahnya)
– Kamila Andini (Sekala Niskala)
– Mouly Surya (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

18. Film Animasi Pendek Terbaik
– Keluarga Satu Setengah (Michaela Clarissa Devi)
– Knight Kris (William Fajito, Antonius)
– Si Juki the Movie (Faza Meonk)
– Terrorvision 3000 (Percoleto Galactic)
– Thank You (Benvuto Lucano A)
– The Awakening Lullaby (Sendika R)

19. Film Dokumenter Pendek Terbaik
– Andreas Melawan Realitas (Protus Hyasintus Asalang
– Angin Pantai Salemko (Rahung Nasution, Yogi Fuad)
– Deathroom 48 (Saul Manurung)
– Di Bawah Langit yang Sama (Adih Saputra)
– Lahir di Darat, Besar di Laut (Steven Vicky Sumbodo)
– Neraka di Telapak Kaki (Sarah Adilah)
– Ojek Lusi (Winner Wijaya)
– O-SEPIG (Agnes Michelle)
– Pagi yang Sungsang (Pingkar Persitya Polla)
– Rising from the Silence (Shalahuddin Siregar)

20. Film Cerita Pendek Terbaik
– Elegi Melodi (Jason Iskandar)
– Har (Luhki Herwanayogi)
– Joko (Suryo Wiyogo)
– Kado (Aditya Ahmad)
– Melawan Arus (Eka Saputri)
– Siko (Manuel Alberto Maia)
– Topo Pendem (Imam Syafi’i)

21. Film Dokumenter Panjang Terbaik
– Lakardowo Mencari Keadilan (Linda Nursanti)
– Nyanyian Akar Rumput (Yuda Kurniawan)
– Semesta (Chairun Nissa)

22. Film Cerita Panjang Terbaik
– Aruna & Lidahnya (Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy – Palari Films)
– Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Rama Adi, Fauzan Zidni – Cinesurya, Kaninga, HOOQ)
– Sekala Niskala (Kamila Andini, Gita Fara – fourcolours films, Tree Water Productions)
– Sultan Agung (Mooryati Soedibyo, Putri Kuswisnuwardhani, Haryo Tedjo Baskoro – Mooryati Soedibyo Cinema)

 
(ELG)

Rio Dewanto Berperan dalam Film Adaptasi Karya Putri Amin Rais

Jakarta: Dalam empat film adaptasi novel karya Hanum Salsabila Rais, pasangan Hanum dan Rangga diperankan oleh Acha Septriasa dan Abimana Aryasatya. Namun untuk film kelima yang akan dirilis dalam waktu dekat, Hanum & Rangga, peran Abimana digantikan oleh Rio Dewanto.  

Film ini diadaptasi dari novel Faith and the City (2015) karya Hanum dan suaminya, Rangga Almahendra. Kendati kisahnya fiksi, nama kedua tokoh utama diambil dari nama asli kedua penulisnya, Hanum dan Rangga. Kisah novel ini melanjutkan kisah dua novel sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa (2011) dan Bulan Terbelah di Langit Amerika (2014) yang diadaptasi menjadi empat film panjang. 

Rio memerankan Rangga, seorang suami yang merelakan kesempatan untuk belajar dan riset di Wina demi menemani istrinya, Hanum, yang menerima tawaran menjadi produser program televisi di New York. Mereka harus menghadapi ambisi masing-masing, sembari tetap ingin menjaga keutuhan keluarga. 

Produser Manoj Punjabi, yang turut menulis naskahnya bersama sutradara Benni Setiawan, menyebut bahwa film kelima ini adalah sebuah reboot. Tidak ada aturan ketat bahwa para pemain harus sama atau harus tidak sama. 

“Kami sudah sepakat mau reboot dulu, enggak harus ikut (empat film) sebelumnya. Semua pasti ada kelebihan dan kekurangan. Kami mau konsep bebas,” kata Manoj usai gala premier di XXI Plaza Indonesia Jakarta, Selasa, 6 November 2018.

“Buku (ketiga) ini bisa ada hubungan, bisa tidak. Orang nonton (film) yang kelima ini, enggak nonton sebelumnya enggak masalah. Cerita berlanjut, tetapi pendekatan segar,” imbuhnya. 

Namun dari sekian tokoh, Hanum tetap diperankan oleh Acha Septriasa. Azima Hussein, yang dulu diperankan Rianti Cartwright, kini diperankan oleh Titi Kamal. Menurut Manoj, pemilihan pemain ini juga bebas.

“Kebetulan Acha ada di sana. Niatnya reboot, tetapi kalau ada yang sama pun enggak ada aturan ini harus sama atau tidak. Kebebasan film, apapun bisa kita bikin asal meyakinkan,” tuturnya. 

Hanum & Rangga: Faith and the City akan dirilis di bioskop pada 8 November 2018.

(ASA)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Tiga Hari Tayang, Film Bohemian Rhapsody Tembus Pendapatan Rp1,8 Triliun

California: Bohemian Rhapsody dari 20th Century Fox unggul di box office akhir pekan terakhir, melebihi capaian film besar terbaru lain seperti The Nutcracker and the Four Realms. Selama tiga hari tayang (2-4 November 2018), film biografi musik ini meraup pendapatan kotor USD122,5 juta atau sekitar Rp1,83 triliun.

Menurut data comScore dan Box Office Mojo, capaian tersebut didapat dari pasar domestik AS-Kanada sebanyak USD50 juta dan pasar internasional sebanyak USD72,5 juta. Total pendapatan sejak dirilis bertahap mulai 24 Oktober di sejumlah negara adalah USD141,7 juta atau Rp2,12 triliun. 

The Nutcracker And The Four Realms dari Walt Disney, yang juga baru saja dirilis, telah mencapai angka USD58,5 juta atau Rp875,94 miliar. Sebanyak USD20 juta dari pasar domestik dan USD38,5 juta dari internasional. 

Sementara itu, Halloween (Universal), A Star is Born (Warner Bros), dan Venom (Sony) telah memasuki akhir pekan ketiga dan kelima tayang dan masih berada di lima besar box office. Selama akhir pekan (2-4 November), ketiga film ini menambah angka USD23,45 juta hingga USD29,3 juta dari lingkup global. 

Total pendapatan Venom sendiri telah mencapai USD198,66 juta di lingkup domestik dan USD541,56 secara keseluruhan. Dari domestik, khusus untuk film-film adaptasi komik Marvel , Venom berada di peringkat ke-29 terlaris, melebihi Thor (2011) dan Ant-Man (2015).

(ASA)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Sekuel Film The Meg Siap Diproduksi

Los Angeles: Film thriller The Meg telah dikonfirmasi akan menyiapkan proyek sekuel. Kabar ini dikonfirmasi oleh pihak produser eksekutif Catherine Xujun Ying.

“Ini masih dalam tahap awal, tapi kami bekerja atau mulai mengerjakannya. Kami ingin merahasiakannya saat ini,” papar Ying, dalam wawancaranya bersama Variety.

Kabarnya, proyek ini menjadi awal waralaba film Meg. “Semoga Tiongkok memiliki akan memiliki akuarium Jurassic pertama,” ungkapnya.

Sejak dirilis pada Agustus 2018, film yang dibintangi aktor Jason Statham itu mampu meraup pendapatan kotor hingga USD527 atau setara Rp7,88 triliun.

Jason Statham sebelumnya telah memberi sinyal positif bahwa film ini akan dibuatkan proyek sekuel.

“Jika itu menghasilkan uang, tentu ada keinginan untuk menghasilkan lebih banyak uang,” ungkapnya saat The Meg baru dirilis.

The Meg adalah film thriller tentang aksi penyelamatan terhadap sekelompok orang di dasar laut. Sebuah makhluk besar, yakni spesies hiu di masa lampau yang menjadi predator kapal selam laut internasional. Hiu ini dikenal sebagai Megalodon.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Sutradara Snowpiercer Garap Film Drama Keluarga “Parasite”

Seoul: Bong Joon-ho, sutradara yang dikenal luas lewat film Snowpiercer dan Okja, akan mengerjakan film terbaru berjudul Parasite. Ini akan menjadi film pertama Bong yang kembali ke akar bahasanya, Korea, setelah Okja yang berbahasa Inggris.

Naskahnya ditulis langsung oleh Bong dengan kisah yang janggal tentang “dua keluarga yang terpisah dunia, tetapi mirip, menggambarkan realitas dunia tempat kita hidup”.

Pemain yang terlibat, menurut laporan Korea Joongang Daily, adalah Song Kang-ho, Lee Sun-gyun, Cho Yeo-jeong, dan Park So-dam. Mereka akan berperan sebagai keluarga suami-istri dengan dua anak. Ini akan menjadi kolaborasi keempat Bong dengan Song Kang-ho, menyusul Memories of Murderer, The Host, dan Snowpiercer.

Pemain lain yang terlibat Jang Hye-jin (Poetry), Choi Woo-shik (Train to Busan), dan Park So-dam (The Priests).

Tidak seperti sejumlah film Bong sebelumnya, Parasite akan memiliki jalur distribusi tradisional. Laporan terbaru Slash Film menyebut bahwa hak edar film ini telah dibeli NEON, distributor baru yang telah mengedarkan film-film kecil dan menengah seperti I, Tonya, Colossal, The Bad Batch, dan Ingrid Goes West.

Film ini direncanakan rilis pada 2019. Namun belum ada kabar lebih lanjut soal kawasan distribusi selain Amerika Utara.

Parasite akan menjadi film panjang ketujuh Bong sebagai sutradara. Film-filmnya kerap meraih penghargaan di sejumlah festival film. Sebagian film juga menembus capaian box office di lingkup domestik Korea Selatan.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Garap Top Gun 2, Tom Cruise Tak Bisa Lepas dari Christopher McQuarrie

California: Aktor laga Tom Cruise tampaknya tak bisa lepas dari penulis naskah langganannya, Christopher McQuarrie. Dalam proyek film Top Gun: Maverick yang kini masih digarap, Tom telah merekrut Christopher untuk ikut menangani urusan naskah.

Padahal secara resmi, seperti tercatat pula dalam IMDB, naskah ini digarap oleh Peter Craig, Justin Marks, dan Eric Warren Singer. Ini bukan hal baru karena dalam beberapa proyek film Tom sebelumnya, Christopher juga bergabung secara informal untuk ikut menulis naskah

Menurut laporan Collider, sumber internal menyebut bahwa Tom kembali mengajak Christopher untuk menangani naskah Top Gun 2 secara ketat baik saat persiapan maupun produksi. Tom, dalam wawancara sebelumnya dengan Empire, menyebut bahwa mereka memang bekerja sama lagi untuk ke-10 kalinya.

Terakhir kali, Christopher dan Tom bekerja sama dalam Mission: Impossible – Fallout sebagai sutradara dan aktor utama. Mereka berdua juga menjadi produser bersama JJ Abrams dan Jake Myers.

Kolaborasi pertama mereka adalah Valkyrie, di mana Christopher menjadi penulis. Christopher menjadi sutradara untuk film Tom lewat Jack Reacher.

Top Gun: Maverick adalah sekuel atas film pilot Top Gun rilisan 1986 yang dibintangi Tom Cruise. Kursi sutradara ditempati Josep Kosinski, yang sebelumnya mengerjakan Oblivion.

Top Gun: Maverick akan dirilis di bioskop pada Juli 2019.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Jepang Rilis 88 Titik “Ziarah Anime” Bagi Pelancong untuk Edisi 2019

Tokyo: Sejak 2016, pariwisata Jepang punya asosiasi khusus untuk mengelola sejumlah tempat menjadi lokasi wisata “ziarah anime”. Ini adalah tempat atau kota di dunia nyata yang pernah muncul dalam film dan serial animasi populer Jepang seperti Digimon Adventure dan 5 Centimeters per Second.

Hingga 2018, sudah ada 61 lokasi ziarah anime yang dipilih asosiasi melalui pemungutan suara publik di puluhan negara. Menurut laporan Crunchyroll, pemungutan suara terbaru telah dilakukan di 75 negara untuk menentukan tambahan lokasi wisata ziarah anime edisi 2019.

Hasilnya? Ada 27 lokasi baru sehingga pada 2019 mendatang, Jepang punya 88 titik ziarah anime yang bisa dikunjungi para pelancong sekaligus penggemar anime dari berbagai negara.

Pemungutan suara untuk lokasi baru ini diadakan selama Juni hingga Agustus 2018 dan sebanyak 75% suara datang dari 75 negara selain Jepang. Angka ini naik 15% dari responden tahun sebelumnya.

Sejumlah tempat baru antara lain Tatebayashi City di Gunma (A Place Farther than Universe), Fujisawa City di Kanagawa dan Seki City di Gifu (Katana Maidens – Toji No Miko), serta Minobu Town di Yamanashi (Laid-Back Camp). Lalu ada juga pusat arsip animasi seperti Tokyo Anime Center di DNP Plaza dan Toei Animation Museum di Tokyo.

Sayangnya, ada dua disingkirkan dari daftar karena masalah lokasi, yaitu Shinjuku dan Hida City dari film Your Name dan Kamogawa dari film Lagrange: The Flower of Rin-ne.

Berikut daftar tambahan 25 judul anime dan titik ziarah anime untuk edisi 2019.

1. Masamune Datenicle (Date City, Fukushima)
2. A place farther than universe (Tatebayashi City, Gunma)
3. As the moon, so beautiful (Kawagoe City, Saitama)
4. Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend (Wakou City, Saitama)
5. My Youth Romantic Comedy Is Wrong, As I Expected (Chiba City, Chiba dan Toshima Ward, Tokyo)
6. Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale (Tokyo)
7. Mitsuboshi Colors (Taito Ward, Tokyo)
8. CAHOS;CHILD (Shibuya Ward, Tokyo)
9. The Idolm@ster (Nakano Ward, Tokyo)
10. Digimon Adventure (Nerima Ward, Tokyo)
11. A Certain Magical Index (Tachikawa City, Tokyo)
12. Rascal Does Not Dream of Bunny Girl Senpai (Fujisawa City, Kanagawa)
13. TARI TARI (Fujisawa City, Kanagawa)
14. Tsuritama (Fujisawa City, Kanagawa)
15. Katana Maidens – Toji No Miko (Fujisawa City, Kanagawa dan Seki City, Gifu)
16. Hanasaku Iroha (Yuoke Onsen di Kanazawa City, Ishikawa)
17. Laid-Back Camp (Minobu Town, Yamanashi)
18. Waiting in the Summer (Komoro City, Nagano)
19. The Melancholy of Haruhi Suzumiya (Nishinomiya City, Hyogo)
20. Hakata Tonkotsu Ramens (Fukuoka City, Fukuoka)
21. Angolmois: Record of Mongol Invasion (Tsushima City, Nagasaki)
22. Nonnon Biyori Vacation (Yaeyama Islands in Okinawa)
23. Tokyo Anime Center di DNP Plaza (Shinjuku, Tokyo)
24. Toei Animation Museum (Nerima Ward, Tokyo)
25. Gotou no Kumo Nizo Yamamoto Museum (Gotou City, Nagasaki)

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Film Impian 1000 Pulau Angkat Nilai Revolusi Mental

Jakarta: Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, Gerakan 1000 merilis film Impian 1000 Pulau di CGV Plaza Indonesia, Jakarta, Senin,  29 Oktober 2018.

Pada acara ini turut hadir stakeholders dari kementerian dan lembaga, mitra sponsor, aktor dan aktris pengisi film Impian 1000 Pulau, serta para Ketua OSIS dari berbagai SMA dan SMK di area Jabodetabek.

“Lebih dari 800 penonton hadir di acara Gala Premier Film Impian 1000 Pulau yang juga diramaikan oleh siswa SMA maupun SMK yang tidak saja berasal dari Jakarta, tetapi juga dari Bekasi dan Depok,” kata Ketua Gerakan 1000 Ivonny Zakaria, dikutip keterangan tertulis, Selasa, 30 Oktober 2018.

Kisah dalam film yang dibuat oleh Sineas Muda Indonesia disebut kental akan semangat Revolusi Mental. Diharapkan generasi muda dapat memiliki semangat yang tinggi dalam membangun Bangsa Indonesia dan mendukung pembangunan berkelanjutan secara nyata.

“Nilai revolusi mental yang diangkat adalah integritas dan menceritakan kisah selama 2,5 tahun anak-anak di Kepulauan Seribu dan di darat yang terlibat di dalam pembuatan film tetap tekun, walaupun banyak rintangan dan dianggap tidak mampu membuat film karena masih muda,” ucap Ivon.

Selain integritas, film yang disutradarai  Naphtali Ivan (20) dan ditulis oleh Ernest Lesmana (23) itu juga menekankan nilai gotong royong. Hal itu dapat dilihat ari kolaborasi seluruh pihak untuk mendukung seluruh tahapan pembuatan hingga peluncuran film ini.

“Pembuatan film ini didukung oleh Kemenko PMK bersama berbagai kementerian, lembaga, akademisi, koorporasi, sektor swasta hingga komunitas masyarakat untuk mendukung kesiapan Pulau Seribu sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Hal ini menunjukkan kuatnya implementasi gotong royong sehingga Film Impian 1000 Pulau berhasil diluncurkan setelah 2,5 tahun kami produksi,” kata Ivon.

Tanggapan para penonton terhadap Film Impian 1000 Pulau sangat positif. Mereka mengapresiasi kerja keras seluruh pihak dalam memproduksi film ini.

“Ternyata mutu dari film Impian 1000 Pulau sekelas festival dan ini merupakan satu hal yang membanggakan bagi kita semua,” ungkapnya.

Acara nonton bareng itu juga mendukung program One Ticket One Mangrove. Penonton diajak berkontribusi terhadap pelestarian mangrove di seluruh Indonesia.

“Selain itu, hasil penjualan tiket ini juga didedikasikan untuk pemberdayaan UMKM berbasis ekowisata, pemberdayaan nelayan berbasis ekowisata, pendidikan dan kesehatan anak-anak kepulauan yang dilakukan melalui koperasi binaan yang dibangun bersama khusus untuk pengelolaan hasil tersebut,” katanya.

Film Impian 1000 Pulau dibintangi oleh Karel Susanteo, Yoriko Angeline, Rifnu Wikana, Arzenda, Asri Welas, Chicco Kurniawan, Rahmet Ababil, Arif Nilman, Wina Marino, Karine Ulfa, Angeline, dan Habiebie.

Penayangan serentak di bioskop di Jakarta pada 12-23 November 2018, diikuti di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Film ini, informasi dapat diakses melalui www.gerakan1000.com dan #1ticket1mangrove.

(ROS)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

10 Kabar Terbaru yang Harus Diketahui Penggemar Soal Proyek Film Gundala

Jakarta: Proyek film jagoan komik Gundala merilis cuplikan singkat, poster, serta nama sejumlah pemain di Indonesia Comic Con (ICC) 2018. Ini adalah informasi pertama yang diungkap setelah proyek film garapan sutradara-penulis Joko Anwar ini diumumkan pada April lalu.

Proses syuting ternyata telah berjalan sejak awal September dan akan berakhir pada akhir awal November nanti. Abimana Aryasatya menjadi aktor utama pemeran tokoh Sancaka alias jagoan bernama Gundala.


(Foto: Screenplay Pictures)

“Kami mencoba untuk tidak menceritakan terlalu banyak. Aku sendiri sebagai penggemar, tak mau diceritakan terlalu banyak. Jadi sedikit-sedikit saja,” kata Joko di panggung utama ICC di Jakarta Convention Center, Minggu siang, 28 Oktober 2018.

Berikut semua informasi terbaru soal Gundala yang dirangkum Medcom.id dari ICC 2018. Film ini diproduksi Screenplay Films, BumiLangit Studio, dan Legacy Pictures.

1. Syuting dua bulan dan hampir tuntas

Proses syuting Gundala diam-diam telah berjalan selama tujuh pekan sejak September 2018. Total waktu syuting adalah 55 hari.

“Kami sedang syuting, sudah masuk hari ke-48 dari 55 hari yang direncanakan,” kata Joko.

2. Cuplikan perdana kenalkan Sancaka dan ayahnya

Awalnya, Screenplay hendak merilis poster karakter dan nama sebagian pemain saja. Namun karena sudah ada materi video hasil syuting, Joko mengusulkan untuk memberikan cuplikan adegan yang sangat singkat.


(Foto: Screenplay Pictures)

Video 23 detik ini menampilkan Sancaka kecil dan sang ayah yang diperankan Muzaki dan Rio Dewanto, serta Sancaka dewasa yang diperankan Abimana. Belum ada wajah pemeran lain yang dimunculkan.

Ada potongan adegan perkelahian halaman kompleks pabrik antara kelompok massa, yang kemungkinan pekerja pabrik, dengan kelompok aparat. Tokoh yang diperankan Rio berada di kubu buruh. Lalu ada anak kecil, diperankan Muzaki, yang lari menyelamatkan diri di suatu kompleks proyek.


(Foto: Screenplay Pictures)

Lalu di sebuah gedung percetakan, Sancaka dewasa tampak berjalan menuju ke arah kilatan cahaya. Dalam komik, Sancaka diceritakan sebagai insinyur. Dalam cuplikan film ini, Sancaka mengenakan seragam sekuriti.

3. Poster karakter

Poster sebelumnya menampilkan sejumlah orang bersenjata tajam yang berlari di sebuah gang kota. Dalam poster terbaru, hanya tampak profil wajah Gundala dalam kostum khas. Lensa kacamatanya retak.


(Foto: Screenplay Pictures)

Menurut Joko, elemen visual dalam poster ini mengisyaratkan gambaran cerita film yang belum mereka diungkap. Joko juga menyebut kostum Gundala terkini dibuat lebih “masuk akal”, misalnya soal cawat yang tidak lagi dikenakan di luar.

“Kami ingin buat semua make sense. Pertama, sempak merah itu kami lepas. Sulit kalau harus lepas sempak lalu resleting,” ujar Joko.

“Elemen di kostum poster ini mengungkap cerita Gundala yang belum kami ungkap,” imbuhnya.

4. Pemeran Merpati dan Pengkor

Wulan alias jagoan Merpati, rekan Gundala, diperankan Tara Basro. Pengkor, salah satu penjahat, diperankan Bront Palarae. Keduanya pernah bermain sebagai anak dan bapak dalam film Pengabdi Setan versi 2017, yang juga digarap Joko.


(Foto: Screenplay Pictures)

“Sebagai Pengkor, saya mau lihat Jakarta itu kehancuran,” kata Bront menceritakan gambaran karakternya.

“Wulan ini seorang aktivis, mantan aktivis. Bertolak belakang dengan Pengkor, dia enggak bisa melihat orang lain tersiksa,” sambung Tara.

Menurut Joko, sejumlah pemeran lain akan diumumkan pada November mendatang.

5. Cerita fokus ke asal-usul Gundala

Seperti pernah kami laporkan sebelumnya, Gundala adalah film pertama dari properti intelektual BumiLangit yang akan menjadi “lokomotif” untuk film-film jagoan berikutnya. Namun sebagai permulaan, film ini akan berfokus kepada riwayat Sancaka sejak kecil sebelum dia menjadi Gundala.


(Foto: Screenplay Pictures)

Materi sumber adaptasi tidak hanya komik, tetapi juga catatan yang pernah dibuat mendiang Hasmi atau Harya Suryaminata, komikus aslinya.

“Ini cerita asal-usul Gundala. Dari komik Gundala itu, diceritakan sedikit masa kecil Sancaka. Kami cari catatan kecil dari Pak Hasmi, akhirnya kami kembangkan menjadi cerita masa kecil Gundala,” tutur Joko.

6. Gundala bukan jagoan sempurna

Joko, yang mengaku sebagai penggemar komik Gundala sejak kecil, tidak hendak membuat Gundala sebagai sosok jagoan sempurna. Dia tetap Sancaka, manusia biasa yang juga punya kelemahan.

Abimana menyebut Sancaka sebagai orang dengan common sense atau akal sehat, suatu hal yang semestinya dimiliki orang-orang. Dia punya niat besar untuk membantu sesama.

Common sense itu yang ada dalam Sancaka. Common sense bisa membuat orang jadi baik atau buruk. Empati dan common sense,” ungkap Abimana.

“Dia manusiawi banget, menangis, kehilangan, jatuh cinta, sakit hati, bingung, itu semua ada di Gundala. Bukan tipe jagoan yang kalau bosan, pergi ke bulan,” imbuhnya saat ditanya lebih lanjut.

7. Abimana sempat menolak terlibat

Ketika menulis naskah, Joko dengan sangat yakin telah memilih Abimana sebagai pemeran Gundala. Menurut Joko, Abimana mampu menjadi aktor dengan karakter yang kuat dan sekaligus rapuh. Namun pada awalnya, Abimana menolak tawaran Joko karena persoalan waktu.

“Pertama kali, (gue) bilang enggak. Saya percaya Joko Anwar, tetapi waktu itu saya minta izin (tidak bergabung ke film) untuk menyelesaikan pekerjaan saya sebelumnya,” tutur Abimana.

Joko tak menyerah. Dia bahkan meminta tolong sejumlah orang untuk ikut membujuknya, termasuk istri Abimana. Setelah Abi selesai dengan proyek sebelumnya, Joko mengirim lagi naskah Gundala. Abi langsung menerima tanpa baca naskahnya.

“Entah kebetulan atau enggak, hari terakhir saya kerja, saya dikirimi naskah draf ketiga. Joko bilang, ‘Silakan baca’. ‘Sudah, enggak usah baca, gue ikut. Ayo kita lakukan, tapi lo harus percaya gue, gue percaya lo,'” ujar Abi mengulang percakapan dengan Joko.

8. Latihan fisik dan diet Abimana

Demi peran tersebut, Abimana menjalani latihan fisik selama lima bulan. Dia membentuk fisik sesuai deskripsi karakter dan menurunkan berat badan sekitar 5-6 kg. Dia juga melakukan latihan khusus untuk adegan laga.

9. Naskah tersulit yang digarap Joko

Menurut Joko, Gundala adalah naskah paling sulit yang pernah dia kerjakan karena materi cerita dan tokohnya kuat. Dalam waktu empat bulan, dia mengasingkan diri demi menyusun naskah dengan lebih serius.

“Tantangan paling besar adalah update cerita Gundala supaya kuat dan punya sensibilitas sesuai zaman sekarang, sehingga penonton sekarang bisa nyambung,” kata Joko.

“Ini skenario paling susah yang saya kerjakan. Jadi saya nulis harus sangat tenang, kalau enggak di museum atau kuburan. Akhirnya jadi setelah empat bulan mengasingkan diri,” imbuh Joko.

10. Jadwal rilis

Setelah syuting hingga awal November mendatang, film akan masuk proses pasca-produksi hingga tahun depan. Rencananya film ini akan dirilis di bioskop pada pertengahan 2019 antara Juni atau Juli.

(DEV)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Produser Film Rambo Anggap Industri Perfilman Indonesia Fantastis

Randy Korompis dan Mario Kassar. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Judul film Rambo dan Terminator cukup familiar bagi para penggemar film Hollywood di Indonesia. Mario Kassar, produser di balik judul film tersebut kini terlibat sebagai produser untuk film action Foxtrot Six bersama sutradara Randy Korompis.

Bekerja dalam produksi film Indonesia, Mario Kassar melihat adanya potensi dunia perfilman berkembang di masa depan.

“Luar biasa, karena kalian memiliki (sekitar) 2.000 hingga 3.000 bioskop? Kalian pun memiliki populasi 250 juta penduduk. Aku rasa dalam lima tahun ke depan kalian akan memiliki 8.000 bioskop, 8 juta penonton tumbuh. Industri Fantastis,” ungkap Mario ditemui Medcom.id di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Karya film baik festival maupun industri belakangan cukup menarik perhatian. Contoh film Dilan 1990 yang disadur dari karya tulis Pidi Baiq berhasil menarik perhatian 6 juta penonton.

Mario Kassar bergerak sebagai produser sekaligus distributor film Foxtrot Six di luar Indonesia. Sementara distribusi dalam negeri dipercayakan pada MD Pictures.

Film Foxtrot Six dijadwalkan tayang pada 21 Februari 2019.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Claudia Kim Tanggapi Kontroversi Perannya sebagai Nagini di Fantastic Beasts 2

California: Setelah Johnny Depp dan tokoh Dumbledore, film Fantastic Beasts: Crimes of Grindelwald punya kontroversi lain yaitu soal sosok karakter Nagini dan aktris pemerannya asal Korea Selatan, Claudia Kim. Setelah lama bungkam, Claudia akhirnya memberi tanggapan.

Sebagian penggemar kisah Harry Potter tidak suka dengan tambahan cerita dari JK Rowling atas ular besar Nagini, yang semula adalah perempuan tetapi berubah menjadi hewan buas karena darah kutukan (maledictus).

Mereka merasa cerita ini terlalu dipaksakan. Apalagi, Nagini diceritakan berasal dari Asia. Mereka pikir, JK Rowling dan Warner Bros merancang ini sekadar demi mendapat citra bahwa film Fantastic Beasts menjunjung kesetaraan ras dan punya representasi Asia. Ada juga tudingan bahwa “perempuan Asia” tetap menjadi budak dalam film-film barat.

JK Rowling menjawab kritik itu di media sosial. Dia menyebut bahwa cerita latar belakang Nagini sudah tersimpan sejak lama, tetapi baru diungkap sekarang. Dia juga menyebut spesifik dari mitologi mana inspirasi karakter Nagini berasal. Namun mereka justru semakin keras memberi kritik.

Dalam laporan terbaru We Got This Covered, Claudia memberi tanggapan mengenai isu Nagini dan representasi Asia. Dia mengaku terkejut ketika mendapat tawaran untuk memerankan Nagini.

“Ini tak terduga. Ketika aku tahu bahwa aku akan memainkan Nagini, aku pikir itu sangat berarti karena dia adalah karakter penting dalam serial Harry Potter,” kata Claudia kepada We Got This Covered, seperti dikutip pada Jumat, 26 Oktober 2018.

Claudia menyikapi kontroversi secara positif dan berharap itu akan segera berlalu begitu orang-orang menonton filmnya.

“Harry Potter adalah sebuah waralaba film dengan banyak aktor Kaukasian. Jadi aku rasa, banyak penonton Korea yang akan senang. Aku berharap para penonton puas dan kontroversinya berlalu begitu filmnya tayang,” ungkap Claudia.

“Aku tidak melihat kontroversi ini secara negatif. Aku percaya perubahan bisa diciptakan dengan memberi perhatian terhadap promosi Asia seperti ini dan lewat orang-orang yang perhatian terhadap isu-isu semacam ini,” imbuhnya.

Claudia, bernama asli Kim Soo-hyun, adalah aktris Korea Selatan kelahiran 1985. Dia dikenal luas lewat film superhero Avengers: Age of Ultron (2015) dan serial Marco Polo (2014-2016).

Fantastic Beasts: Crimes of Grindelwald dijadwalkan rilis di bioskop pada November 2018.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Film Ambu Ingin Jadi Film Komersial Indonesia Pertama yang Berlatar Baduy

Film Ambu (Foto: dok. skytreepictures)

Jakarta: Rumah produksi Skytree Pictures resmi memperkenalkan para pemain film perdana mereka yang berjudul Ambu pada 25 Oktober 2018. Acara ini sekaligus menjadi perilisan teaser trailer dan teaser poster.

Film Ambu menggandeng aktris senior Widyawati yang akan beradu akting dengan sejumlah artis muda seperti Laudya Cynthia Bella, Baim Wong, Endhita, Andri Mashadi dan Lutesha. Film Ambu disutradarai oleh Farid Dermawan yang juga duduk di kursi produser. Sementara penulis naskah dipegang oleh Titien Wattimena yang sebelumnya sukses lewat film Aruna dan Lidahnya, Milli & Nathan, dan Love.

Dalam bahasa Sunda, Ambu adalah panggilan untuk ibu dengan bahasa yang halus dan santun. Sesuai judulnya, film ini berpusat pada sosok ibu yang diperankan Widyawati.  Film Ambu mengambil latar kebudayaan Baduy. Film ini pun menyebut dirinya sebagai film komersial pertama di Indonesia yang mengambil latar belakang suku Baduy.

“Kami memilih Baduy sebagai latar belakang cerita Ambu didasari oleh kecantikan dan kesederhanaan alam yang terdapat di sekitarnya. Begitu juga tercitra dalam karakter ketiga wanita kuat yang ada di dalam cerita ini,” kata Farid Dermawan dalam keterangan tertulisnya.

Film Ambu berkisah tentang Ambu Misnah (Widyawati) yang ditinggal anak perempuan satu-satunya, Fatma (Laudya Cynthia Bella). Fatma pergi dari rumah mereka di Baduy demi cintanya pada pemuda Jakarta. Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha). Hingga suatu hari, Fatma membawa Nona pulang ke Baduy. Konflik pun terjadi karena adanya penolakan.

Ambu adalah tentang kegetiran sekaligus keindahan cinta kasih. Bagaimana ibu tak hanya berhenti jadi semesta pertama. Ia terus ada dan siap menjadi semesta terakhir kita,” kata Titien Wattimena.

Selain menjanjikan cerita yang apik, film Ambu tentu saja menawarkan keindahan alam Baduy yang jarang terjamah. Film Ambu dijadwalkan tayang pada Januari 2019.

 
(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Serial Grisse di HBO Terinspirasi Sejarah Kota Gresik

Jakarta: Mike Wiluan kembali memproduksi karya sinema berlatar sejarah nusantara dengan bumbu budaya western. Grisse adalah proyek serial Mike yang berkisah tentang zaman kolonial Hindia Belanda di Gresik. Nama ini diambil dari nama lampau kota Gresik pada era 1800-an.

Mike yang bergerak sebagai sutradara sekaligus showrunner dalam serial ini mengungkapkan inspirasi terpilihnya sejarah Kota Gresik sebagai latar belakang cerita.

“Saya lihat di dalam gambaran besar konsepnya, tempatnya, di dalam history penjajahan kita dengan Gresik (Grisse) karakter, budaya kulturnya dari Indonesia dengan penjajah Belanda, tapi untuk saya ini sebagai satu konsep yang sedikit fantasi. Bukan sedikit, tapi banyak fantasi. Soalnya kita based on Indonesia punya history,” papar Mike Wiluan dalam diskusi bersama media di The Ritz-Carlton Hotel, SCBD, Jakarta, Rabu 24, Oktober 2018.

Lewat serial ini, Mike kembali mengombinasikan budaya timur dan barat beserta fantasi cerita dalam sejarah. Tidak jauh berbeda dengan proyek Mike sebelumnya yakni film Buffalo Boys. Kendati memiliki persamaan pada sinematografi, Mike memaparkan cerita Grisse berkesinambungan dengan kisah dalam Buffalo Boys.

Grisse adalah satu dunia yang bersamaan dengan Buffalo Boys. Buffalo Boys adalah satu film yang saya kerjakan dulu. Sebetulnya itu satu universe yang sangat dalam. Ada banyak yang bisa kita eksplorasi,” tuturnya.

Ada beberapa hal yang belum tuntas di Buffalo Boys kemudian diteruskan olehnya dalam serial Grisse. Seperti eksplorasi tokoh sentral Kalia (Adinia Wirasti) yang menjadi heroine sekaligus pahlawan dalam film laga sejarah ini. Pengembangan ini berakar dari karakter Pevita Pearce yang belum sempat dimunculkan ke permukaan oleh Mike dalam Buffalo Boys.

“Kita harus coba cari yang unik, cerita yang unik. Tapi saya lihat di dalam era ini ada banyak cerita yang harus kita promosikan dengan perempuan yang karakternya kuat. Dengan kemarin di dalam Buffalo Boys saya tidak ada banyak waktu untuk promosikan karakter Pevita untuk menjadi lebih keras dan kuat dengan action. So, di dalam Grisse saya mencari beberapa situasi yang kita bisa dorongkan lagi,” kata Mike saat dimintai keterangan lebih lanjut oleh Medcom.id.

“Kenapa kalau cowok terus, kenapa enggak bisa perempuan? Saya lihat di dalam situasi ini perempuan lebih ekstrem soalnya dia punya situasi, di episode satu tragis sekali. Dari kisah tragis ini bagaimana dia menjadi sosok leader. Nah, ini,” sambungnya.

Dari sekian banyak kota di Gresik, Mike mengaku jatuh cinta dengan Gresik. Nama Grisse dirasa memiliki bumbu romansa yang serupa dengan Jakarta.

“Untuk Gresik adalah satu tempat yang ada history, sebelumnya namanya adalah Grisse. Sekarang Gresik. Seperti Jakarta dulu Batavia. Itu hook-nya.”

So this is by luck by chance. Ada satu tempat namanya Gresik, Grisse, tapi saya belum pernah ke sana. Saya harus ke sana,” ungkapnya.

Syuting untuk serial ini dilakukan di studio di Batam. Hal ini Mike agar penggunaan waktu lebih efisien dengan hasil yang sempurna.

Serial Grisse dikemas dalam 8 episode. Film ini disutradarai oleh Mike Wiluan bersama Tony Tilse dan Ler Jiyuan. Ini merupakan proyek kerja sama HBO bersama Infinite Studio. Grisse menjadi proyek serial original Asia ke-13 untuk HBO.

Serial ini melibatkan beberapa aktor lintas negara dari Indonesia, Singapura, Belanda, California, Malaysia, Jepang. Aktris Adinia Wirasti beradu peran dengan aktor Marthino Lio, Zack Lee, Alexandra Gottardo, Zack Lee, Jamie Aditya, Kelly Tandiono, Hossan Leong, Tom de Jong, Rick Paul van Mulligen, Joanne Kam, Toshiji Takeshima serta Edward Akbar.

Serial Grisse tayang perdana Minggu, 4 November 2018 pukul 20.00 WIB melalui platform HBO.
 
(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Jadwal Rilis Wonder Woman 2 Diundur hingga 2020

California: Film sekuel adaptasi komik supehero DC Wonder Woman punya jadwal tayang baru. Jika sebelumnya film ini direncanakan rilis 1 November 2019, jadwalnya diundur menjadi 5 Juni 2010.

Kabar ini diumumkan Gal Gadot, bintang utamanya, lewat media sosial pada Senin malam, 22 Oktober 2018.

“Sangat bersemangat untuk mengumumkan bahwa, karena perubahan lanskap, kami mampu meletakkan Wonder Woman kembali ke rumahnya yang tepat. 5 Juni 2020. Be there or be square!” kicau Gadot (@GalGadot).

Dengan perubahan ini, Wonder Woman 2 punya momentum rilis yang sama dengan film pertama, yaitu musim panas. Wonder Woman garapan sutradara Patty Jenkins dirilis di bioskop pada akhir Mei 2017 dan berhasil mencapai performa baik secara komersial.

Perubahan rencana ini juga disampaikan oleh Jeff Goldstein, salah satu bos Warner Bros, studio yang mengedarkan filmnya di AS-Kanada dan seluruh dunia. Jeff memberi pernyataan resmi kepada The Hollywood Reporter setelah kicauan Gadot beredar.

“Kami meraih sukses luar biasa ketika merilis film Wonder Woman pertama selama musim panas. Jadi ketika kami melihat kesempatan untuk memanfaatkan situasi kompetitif itu, kami melakukannya. Rencana ini membuat filmnya berada di tempat seharusnya,” kata Jeff.

Wonder Woman 2 kembali dibintangi oleh Gadot dan Chris Pine dengan sutradara Patty Jenkins. Kristen Wiig bergabung sebagai pemeran tokoh antagonis utama. Lalu juga ada Pedro Pascal yang juga punya peran sentral.

Film sebelumnya, Wonder Woman, mencapai sukses komersial besar saat beredar di bioskop puluhan negara pertengahan tahun lalu. Menurut catatan Box Office Mojo, total pendapatan kotornya mencapai USD821,84 juta atau sekitar Rp12,49 triliun.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Film Critical Eleven Raih Tiga Penghargaan di Asian Academy Creative Awards

Jakarta: Film drama adaptasi Critical Eleven produksi Starvision Plus dan Legacy meraih tiga penghargaan dalam ajang Asian Academy Creative Awards 2018. Ini adalah ajang penghargaan baru yang berpusat di Singapura bagi konten dan produksi media kawasan Asia Pasifik. 

Menurut keterangan pers yang kami terima, Asian Academy Creative Awards (AAA) punya beberapa tahap penghargaan. Sebelum masuk ke tingkat regional, nomine harus menang lebih dulu di tingkat nasional negara masing-masing.

Critical Eleven telah menang di tingkat nasional mewakili Indonesia. Dua pemain utama Adinia Wirasti dan Reza Rahadian terpilih sebagai aktris dan aktor terbaik untuk kategori drama. Duet penyutradaraan Monty Tiwa dan Robert Ronny juga diganjar penghargaan sutradara terbaik dalam lingkup nasional. 

Selanjutnya, film ini akan bersaing dengan film-film dari 19 negara lain. 

Critical Eleven adalah film personal bagi saya karena kembali menjadi sutradara setelah beberapa tahun absen menjadi sutradara, tetapi duduk di kursi produser atau penulis skenario,” kata Robert dalam keterangan tertulis. 

“Saya tidak menyangka apresiasi terhadap film ini cukup tinggi. Aktris terbaik Adinia Wirasti, aktor terbaik Reza Rahadian, dan penyutradaraan terbaik untuk saya dan Monty Tiwa, jelas sebuah kehormatan mewakili Indonesia,” lanjutnya. 

Menurut produser Chand Parwez Servia, Critical Eleven adalah film kolaborasi pertama antara Starvision Plus dan Legacy Pictures, rumah produksi Robert.

“Kolaborasi kreatif yang sangat menyenangkan dalam sinergi positif ini menular kepada tiap orang. Bagi saya, ini film abadi tentang keluarga yang mengikat kami sebagai kreatornya, menjadi sebuah keluarga,” ujar Parwez. 

Critical Eleven diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ika Natassa. Saat dirilis di bioskop pada Mei 2017, film ini meraup angka penjualan tiket 881 ribu lembar atau setara pendapatan kotor Rp32,61 miliar. 

Dalam Festival Film Indonesia 2017, Critical Eleven menjadi nomine dalam empat kategori, meliputi aktris utama terbaik, lagu tema terbaik, penata suara terbaik, dan penyunting gambar terbaik.

(DEV)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

21 Lagu Queen Jadi Soundtrack Film Biopik Freddie Mercury

California: Bohemian Rhapsody, proyek film biopik tentang vokalis Queen Freddy Mercury, telah merilis album soundtrack yang akan digunakan dalam film. Album ini memuat 21 lagu Queen sepanjang karier, termasuk lima lagu dari panggung Live Aid yang sebelumnya belum pernah dirilis.

Album soundtrack ini dirilis secara digital di sejumlah platform streaming dan unduhan. Sebenarnya ada 22 nomor lagu di dalamnya, tetapi lagu pertama adalah musik fanfare pembuka 20th Century Fox yang dibuat ulang dengan gaya “Queen”.

Lagu Queen paling legendaris, yang juga berjudul Bohemian Rhapsody, punya dua versi dalam album ini yaitu versi studio dan versi penampilan langsung di panggung Live Aid. Penampilan Queen di konser amal Live Aid kerap disebut-sebut sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah musik rock.

Selain Bohemian Rhapsody, empat lagu lain yang direkam ketika bermain di Live Aid adalah Radio Ga Ga, Ay-Oh, Hammer to Fall, dan We Are the Champions.

Film Bohemian Rhapsody berkisah mengenai 15 tahun perjalanan grup Queen dan Freddy Mercury sejak grup terbentuk hingga penampilan mereka di Live Aid 1985.

Biopik ini berkisah mengenai 15 tahun perjalanan Queen dan Freddie Mercury, sejak grup ini terbentuk hingga penampilan mereka di Live Aid 1985. Kisah ini mencakup perjalanan lagu-lagu ikonik, suara revolusioner yang mereka usung, perpecahan internal karena gaya hidup Freddie, serta reuni pada malam konser Live Aid.

Rami Malek berperan sebagai Freddie. Tiga personel Queen lain diperankan Gwilym Lee, Ben Hardy, dan Joseph Mazzello. Dexter Fletcher menjadi sutradara dengan naskah tulisan Justin Haythe. Dua personel Queen yang masih tersisa, Brian May dan Roger Taylor, bertindak sebagai konsultan dan produser musik.

Berikut 22 nomor lagu dalam album soundtrack tersebut. Filmnya akan dirilis di bioskop pada November 2018.

1. 20th Century Fox Fanfare
2. Somebody To Love
3. Doing All Right (…Revisited, bersama Smile)
4. Keep Yourself Alive (Live At The Rainbow)
5. Killer Queen
6. Fat Bottomed Girls (Live In Paris)
7. Bohemian Rhapsody
8. Now I’m Here (Live At Hammersmith Odeon)
9. Crazy Little Thing Called Love
10. Love Of My Life (Rock In Rio)
11. We Will Rock You (Movie Mix)
12. Another One Bites The Dust
13. I Want To Break Free
14. Under Pressure (Remastered, bersama David Bowie)
15. Who Wants To Live Foreve
16. Bohemian Rhapsody (Live Aid)
17. Radio Ga Ga (Live Aid)
18. Ay-Oh (Live Aid)
19. Hammer To Fall (Live Aid)
20. We Are The Champions (Live Aid)
21. Don’t Stop Me Now (…Revisited)
22. The Show Must Go On

(DEV)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Film Prasangka Juara Lomba Film Pendek Koperasi

Jakarta: Tiga film pendek terbaik memenangkan Lomba Film Pendek Koperasi yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM. 

Ketiga film yang menang telah diseleksi dari 109 film yang masuk ke panitia lomba. Pengumuman pemenang dilakukan pada Jumat, 19 Oktober 2018, melalui akun media sosial @kemenkopukm.

“Kami bangga lomba film pendek yang diselenggarakan Kemenkop dan UKM mendapat sambutan luas. Ini suatu apresiasi bagi kami bahwa tema koperasi menarik minat masyarakat khususnya kalangan milenial,” kata Kepala Bagian Humas dan Advokasi Hukun Kemenkop dan UKM Darmono.

Kemenkop dan UKM melaksanakan lomba film pendek dengan tema Koperasi Milenial untuk menyosialisasikan koperasi di kalangan generasi muda. Film atau audio visual dianggap sebagai media paling menarik bagi generasi milenial untuk mencari informasi. 

Sebanyak 109 judul film pendek yang masuk, menyajikan beragam kisah tentang koperasi. Pesertanya juga dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA, mahasiswa dan umum dari seluruh tanah air. 

Seluruh film yang masuk diseleksi para juri yang berpengalaman dalam dunia perfilman, yakni Vivian Idris (pegiat film dokumenter/produser), Dennis Adhiswara (aktor/produser), dan Amrul Hakim (sineas/co-founder Indonesia Film Cooperative). Para juri menyatakan tidak menduga sambutan yang luas dan karya film yang masuk dikerjakan dengan baik. 

“Semua film yang masuk bagus-bagus, semuanya unik. Yang terpilih jadi pemenang yang mengetengahkan keunggulan karya lokal mereka,” kata Dennis Adhiswara.  

Vivian Idris juga menyebut karya film yang masuk ke panitia lomba luar biasa. “Saya sangat senang Kemenkop dan UKM sudah mengadopsi medium audio visual,” ucapnya.

Lomba Film Pendek Koperasi mengangkat tema Koperasi Milenial. Panitia menetapkan durasi film 5-10 menit dan harus karya orisinal. 

Berikut ini daftar para pemenang.

Juara 1
Judul Film : Prasangka 
Karya Produksi : Nunukan Film
Asal Daerah : Kota Nunukan – Kalimantan Utara

Juara 2
Judul Film : Kas
Karya Produksi : SMA Islam Kepajen Malang
Asal daerah : Malang Jawa Timur

Juara 3
Judul Film : Si Sani 
Karya Produksi : DwiAwan
Asal Daerah : Kota Samarinda.

(ROS)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Netflix Luncurkan Sulih Teks Bahasa Indonesia

Jakarta: Platform nonton streaming Netflix merilis sulih teks dalam bahasa Indonesia. Program ini resmi diluncurkan dan dapat dinikmati mulai Jumat, 19 Oktober 2018.

“Dengan menjangkau pelanggan kami melalui bahasa pilihan mereka, Netflix menjadi semakin mudah untuk diakses dan semakin relevan untuk para pelanggan. Kami senang bahwa sekarang para pelanggan kami di Indonesia sudah bisa menikmati layanan Netflix dalam bahasa Indonesia,” papar Jessica Lee, Vice President Corporate Communications Asia dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id.

Netflix telah menghadirkan sejumlah konten eksklusif populer di antaranya 13 Reasosn Why, To All the Boys I’ve Loved Before, Stranger Things dan Mr. Sunshine.

“Ketika para pelanggan kami di Indonesia mengakses layanan yang kami tawarkan, kami ingin mereka merasakan betapa serunya melihat beragam pilihan konten yang dapat diakses dengan mudah melalui Netflix,” lanjut Jessica.

Selain itu, untuk kali pertama film Netflix original Indonesia The Night Comes for Us besutan sutradara Timo Tjahjanto mulai tayang di Netflix pada 19 Oktober 2018. Film ini dibintangi aktor kaliber papan atas di antaranya Joe Taslim, Iko Uwais, Dian Sastrowardoyo, Hannah Al Rashid serta Julie Estelle.

Netflix turut menyiarkan konten lokal populer seperti Laskar Pelangi, Ada Apa dengan Cinta 2, dan Filosofi Kopi.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Berkaca dari Comic 8, Babe Cabiita Ingatkan Pentingnya Klasifikasi Usia LSF

Jakarta: Comic 8, film komedi dewasa rilisan empat tahun silam, pernah diprotes sejumlah orang tua karena dianggap tidak mendidik anak-anak. Masalahnya, film ini memang tidak dibuat untuk anak-anak dan telah mendapat klasifikasi 17+ dari Lembaga Sensor Film (LSF).

Cerita ini diungkap oleh Priya Prayogha Pratama alias Babe Cabiita dalam jumpa pers ajang penghargaan Anugerah LSF 2018 di kawasan Palmerah, Kamis, 18 Oktober 2018. Babe adalah satu dari belasan komedian yang bermain dalam film produksi Falcon Pictures tersebut.

Kata Babe, ketika sedang tur promosi film Comic 8 di Jakarta, mereka berjumpa rombongan anak-anak SD di bioskop. Pikirnya, anak-anak ini akan menonton film lain berkategori SU (Semua Umur).

“Pas dicek, ternyata Comic 8. Bahkan ada anak sekolah yang ramai-ramai nobar (nonton bareng) begitu. Bahkan gurunya ikut,” kata Babe.

“Banyak orang enggak menyangka (klasifikasi LSF). Mana ada mereka melihat rating umur. Mereka hanya tahu komika, ada Arie Kriting, berarti ada lucu-lucunya. Disangka ini film anak,” imbuhnya.

Begitu filmnya beredar di bioskop, tidak sedikit komentar protes yang datang ke para pemain, termasuk Babe. Di media sosial, nama Babe kerap disebut oleh orang-orang yang protes karena filmnya mengumbar komedi sensual dewasa.

Menurut Babe, pihak bioskop juga mengabaikan klasifikasi usia LSF dengan membiarkan sembarang penonton masuk.

“Pikir mereka, kalau film komedi ya film anak-anak, padahal komedi juga ada (batas) umurnya. (…) Orangtua protes, mereka pikir film anak-anak, ternyata filmnya kayak gitu (sensualitas),” ujar Babe.

“(Klasifikasi) 17 tahun ke atas, jelas. Berarti, bioskop tidak mau tahu kayak gitu, apalagi sekarang beli tiket bisa online, jadi enggak ada sensornya. Sensor itu jadi kayak formalitas. Kalau sudah masuk televisi, lebih ketat. Terbukti Comic 8 itu ceritanya enggak nyambung karena dipotong buat tv. Beda karena banyak sensornya,” lanjutnya.

Comic 8 digarap sutradara Anggy Umbara dan penulis naskah Fajar Umbara. Selain belasan komedian muda, film ini juga melibatkan Nirina Zubir, Nikita Mirzani, dan Kiki Fatmala yang tampil seksi. Pada 2014, film ini mencapai angka penjualan tiket 1,6 juta lembar.

Dua film berikutnya dalam tajuk serupa, Comic 8: Kasino Kings Part 1 (2015) dan Part 2 (2016), dibuat dengan kategori usia lebih rendah, yaitu 13+.

(ELG)

IDHOKI.COM (http://199.188.200.23) adalah Situs Agen Judi Bola & Live Casino Online yang menyediakan cara main sbobet indonesia paling mudah dan praktis melalui Whatsapp, Livechat, BBM, dan Wechat untuk permainan seperti taruhan judi bola, rolet, bakarat, classic game dan masih banyak lagi.

Taylor Swift Adu Peran dengan Idris Elba di Film Musikal Cats

California: Idris Elba, pemeran gunslinger dalam film The Dark Tower, dikabarkan akan bergabung dengan proyek film adaptasi Cats. Sejumlah bintang besar dari Hollywood telah bergabung sebelumnya, seperti Taylor Swift, Jennifer Hudson, James Corden, dan Ian McKellen.

Seperti dilaporkan Variety, Idris sedang dalam negosiasi akhir untuk bergabung sebagai pemain. Film ini diproduksi untuk Universal Pictures dengan sutradara Tom Hooper, yang sebelumnya mengerjakan The King’s Speech, Les Miserables, dan The Danish Girl. Ketiga film ini meraih Piala Oscar.

Cats diadaptasi dari pertunjukan musikal gubahan Andrew Lloyd Webber yang diangkat dari kumpulan puisi Old Possum’s Book of Practical Cats karya TS Eliot. Musikal ini pertama kali dipentaskan di London pada 1981 dan di New York pada 1982.

Selain menang penghargaan, musikal Cats adalah satu dari 10 proyek pentas yang usianya paling lama baik di West End London maupun Broadway New York. Untuk London, musikal ini dipentaskan selama 21 tahun dan untuk New York, dipentaskan selama 18 tahun.

Pada 1998, pertunjukan musikal ini pernah diadaptasi menjadi film televisi di Inggris dan AS.

Secara umum, drama musikal itu berkisah tentang bangsa kucing yang biasa disebut Jellicles. Pada malam tertentu, mereka berkumpul untuk memutuskan, kucing mana yang akan terangkat ke Heaviside Layer dan kembali ke kehidupan baru.

Bagi Idris, ini menjadi film keduanya untuk peran “kucing”. Sebelumnya, Idris pernah mengisi suara macan Shere Khan dalam film fantasi The Jungle Book (2016).

Film ini nantinya akan disutradarai Tom Hooper. Produksi film Cats dimulai sejak akhir tahun ini di Inggris.

Cats dijadwalkan tayang di bioskop pada Desember 2019.

(ELG)

Film Terbaru Tom and Jerry Mulai Syuting Tahun Depan

Jakarta: Warner Bros. perlahan mendaur ulang karya animasi besutannya. Kisah perseteruan kucing Tom dan tikus Jerry yang populer akan diangkat ke layar sinema dalam bentuk live-action animasi hybrid.

Serial kartun Tom and Jerry berkisah tentang kucing dan tikus dalam satu momen tidak pernah akur. Dalam versi animasi, mereka menghibur menggunakan olah tubuh tanpa dialog percakapan. Komedi yang ditawarkan pun berupa slapstick

Dikutip dari Variety, Tom and Jerry mulai syuting perdana pada 2019. Pihak Warner Bros. dan Warner Animation Group (WAG) telah melakukan negosiasi dengan Tim Story untuk menyutradarai film Tom and Jerry. Produser kreatif film animasi Scooby-Doo Chris Columbus ikut terlibat dalam proyek ini.

Warner tampak begitu antusias mendaur ulang karya animasi dalam bentuk live-action. Sebelumnya pada 2013, WAG memproduksi The Lego Movie.

Sementara itu dua proyek film animasi lain Scoobby-Doo dan Flinstone juga akan didaur ulang. Film animasi terbaru Scooby-Doo akan dirilis pada 15 Mei 2020 yang sebelumnya dijadwalkan tayang pada 21 September 2018.

(ASA)

Tora Sudiro Buat Fanny Fabriana Menahan Tawa Sepanjang Syuting 3 Dara 2

Jakarta: Tak butuh waktu lama bagi Fanny Fabriana ketika ditawari kembali bermain film 3 Dara 2. Seperti di film pertamanya, Fanny Fabriana berperan sebagai Aniek yang merupakan pasangan dari Tora Sudiro.

Meski sudah sering beradu akting dengan Tora Sudiro, Fanny mengaku tetap mendapat kesulitan. Pasalnya, dia tak kuasa menahan tawa sepanjang beradu peran dengan Tora.

“Tantangannya harus tahan ketawa sepanjang syuting. Mas Tora itu lucunya minta ampun. Mukanya serius, tapi orangnya kan kocak banget,” kata Fanny Fabriana dalam keterangan tertulisnya.  

Film 3 Dara 2 merupakan sekuel film 3 Dara yang dirilis pada 2015. Fanny mengaku tertarik dengan cerita lanjutan film yang disutradarai Monty Tiwa itu. Menurut Fanny, film 3 Dara 2 banyak mengajarkan pesan kebaikan meski disampaikan melalui komedi.

“Banyak ya pesannya dan aku memang suka dengan ceritanya. Dikemas dengan santai dan kental unsur komedinya juga,” kata peraih Pemeran Utama Wanita Terpuji di Festival Film Bandung 2010 ini.

Film 3 Dara 2 melanjutkan kisah Jay (Adipati Dolken), Afandi (Tora Sudiro) dan Richard (Tanta Ginting) yang sekarang terpaksa menjadi “Ibu Rumah Tangga”. Alhasil, mereka harus belanja kebutuhan dapur, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan menyiapkan sarapan untuk istri-istri mereka, Aniek (Fanny Fabriana), Kasih (Rania Putrisari) dan Grace (Ovi Dian).

Film 3 Dara 2 akan tayang di bioskop pada 25 Oktober 2018.

(ELG)

Garap FIlm Milly & Mamet Bareng Istri, Ernest Prakasa “Pertaruhkan” Rumah Tangga

Jakarta: Ketika menulis naskah Milly & Mamet, Ernest Prakasa dan Meira Anastasia istrinya membayangkan bahwa kolaborasi mereka sebagai sutradara nanti akan tetap berjalan mulus. Setelah produksi berjalan, realitanya ternyata berbeda jauh.

Meira mengaku bahwa dia sering kena marah Ernest, yang mana lebih berpengalaman menjadi sutradara. Ernest juga mengakui bahwa dalam kondisi emosional, Meira hampir kapok menjadi sutradara.

“Untuk jadi dua sutradara di sini, ternyata pernikahan kami diuji ha-ha,” kelakar Meira kepada wartawan di HKC Menteng, Senin, 15 Oktober 2018. “Ini pertama kali (sutradara ganda), beda banget. Ketika menulis naskah, enggak berantem. Pas syuting, nah (berantem).”

“Gue dimarah-marahi terus. Ya sudah deh, kembali lagi saja jadi ‘ibu’. Terus dimarahi lagi, ‘Oh jadi kamu cuma segitu?’,” imbuh Meira.

“Poduksi film memang ketat banget, kesalahan kecil bisa jadi efek domino, makanya gue memang rada galak,” sambung Ernest memberi penjelasan.

Namun bagi Meira dan Ernest, pengalaman ini meningkatkan hubungan mereka ke level lain.

“Kami belajar lagi dalam hubungan, gimana cara untuk bekerja dalam jalan berbeda. Seru, ada nangisnya, berantem, lalu waktu baikan, kami jadi pasangan yang berbeda – naik kelas karena kerjasama dua sutradara ini intens banget,” ungkap Meira.

Ernest juga menyebut bahwa kehadiran Meira, yang lebih sering bekerja sama dengan desainer produksi, memberi perubahan besar kepada warna dan nuansa film.

“Scara visual, pasti kerasa sentuhannya (Meira), dari segi warna dan sebagainya,” ujar Ernest.

Kendati begitu, sejumlah pemain menyatakan tidak merasakan situasi “panas” tersebut. Salah satunya Julie Estelle.

Grecok-grecok mereka enggak kerasa sih. Syutingnya sangat menyenangkan. Waktu selesai, malah sedih,” ujar Julie dalam kesempatan sama.

Milly & Mamet adalah kolaborasi produksi antara Miles Films dan Starvision Plus. Kisahnya mengikuti tokoh Milly dan Mamet dari Ada Apa Dengan Cinta? produksi Miles. Bagi Ernest, ini menjadi film keempat sebagai sutradara, menyusul Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan Susah Sinyal.

Milly & Mamet dijadwalkan rilis di bioskop pada Desember 2018.
 

(ASA)

Film Dokumenter Coldplay akan Rilis di Indonesia

Jakarta: Grup musik asal Inggris Coldplay bersama sutradara Mat Whitecross membuat film dokumenter bertajuk Coldplay a Head Full of Dreams yang merekam perjalanan karier mereka selama 20 tahun. Film akan dirilis di bioskop sejumlah negara pada November mendatang.

Indonesia termasuk negara yang akan kedatangan film dokumenter ini lewat jaringan bioskop Cinemaxx. Pihak Cinemaxx membuat pengumuman di media sosial pada Senin siang ini, 15 Oktober 2018, bahwa dokumenter tersebut akan diputar di bioskop jaringan mereka selama sehari pada 14 November. 

Menurut keterangan resmi dari Coldplay, film ini memang akan dirilis di bioskop terlebih dulu pada 14 November. Dua hari kemudian, film ini akan dirilis secara eksklusif di platform streaming Prime Video Amazon khusus kawasan Inggris, AS, Australia, dan Selandia Baru. 

Mat adalah sutradara asal Inggris yang telah bekerja bersama Coldplay selama 20 tahun sejak video musik pertama mereka, Bigger Stronger pada 1999. Mat juga telah membuat sedikitnya dua film terkait musisi, seperti Sex & Drugs & Rock & Roll (2010) tentang dedengkot musik punk rock Inggris Ian Dury, serta Supersonic (2016) tentang Oasis. 

Berikut sinopsis resmi film dokumenter Coldplay A Head Full of A Dreams, yang judulnya diambil dari album ketujuh atau terakhir mereka rilisan 2015. Sinopsis diambil dari situs resmi Coldplay.

“Salah satu grup musk terbesar di dunia membagi kisah mereka, dalam kata-kata mereka sendiri, untuk pertama kali. Memetakan perjalanan luar biasa mulai dari awal sederhana hingga menjadi begitu ternama, itu adalah film Coldplay.

“Sutradara Mat Whitecross menampilkan pertunjukan langsung dan cuplikan di belakang panggung dari global utama A Head Full of Dreams, bersama materi arsip yang belum pernah diketahui atau dilihat sebelumnya, yang diambil selama 20 tahun. 

Film ini menyandingkan penampilan spektakuler dari lagu-lagu ikonik seperti Fix You dan Viva La Vida dengan momen intim di balik layar, yang mengungkap kedalaman persahabatan dan persaudaraan grup musik ini. Satu acara bioskop global satu malam yang tidak boleh terlewatkan.”

(ASA)

Trailer Terbaru Suzzanna Jelaskan Asal Mula Sundel Bolong

Luna Maya sebagai Suzzanna dalam film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Foto: Soraya Intercine Films)

Jakarta: Soraya Intercine Films telah merilis trailer kedua untuk film yang dibintangi oleh Luna Maya. Jika trailer pertama menunjukkan adegan ikonik “sate 200 tusuk”, trailer terbaru menceritakan asal mula Suzzanna menjadi setan penasaran berwujud Sundel Bolong.

Video 2-3 menit ini dibuka dengan potongan adegan Suzzanna (Luna Maya) yang tidak tahan dan menjerit ketika Satria (Herjunot Ali) suaminya membaca Surat Yasin. 

Berikutnya, rangkaian cuplikan menunjukkan gambaran utama kisah film ini, yaitu Suzzanna yang akhirnya hamil anak pertama setelah lima tahun menanti, Satria pergi keluar kota, rencana perampokan rumah Satria, serta kematian Suzzanna di tangan salah satu perampok (Alex Abbad). 

Pada latar suara, salah satu asisten rumah (Opie Kumis) menjelaskan mengapa wanita hamil yang meninggal dibunuh bisa menjadi sundel bolong. 

Satu per satu perampok mendapat teror maut dari sundel bolong. Salah satunya tokoh yang diperankan Alex Abbad ketika sedang “kerokan”. Sementara itu, orang-orang mulai sadar bahwa sosok Suzzanna yang mereka lihat bukan lagi manusia hidup. 

Film ini digarap sutradara Rocky Soraya, menggantikan Anggy Umbara yang keluar di tengah jalan karena “perbedaan kreatif” dengan produser. Sunil Soraya menjadi produser, sekaligus mengembangkan cerita dan naskah bersama Bene Dion Rajagukguk dan Ferry Lesmana. 

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dijadwalkan rilis di bioskop pada 15 November 2018.

 
(ASA)

Sutradara Bagikan Bocoran Proses Syuting Avengers 4

California: Proyek sekuel film superhero komik terlaris di dunia sepanjang masa, Avengers 4, telah menuntaskan tahap syuting tambahan. Kabar ini dibagikan oleh duo sutradara Anthony dan Joe Russo di media sosial akhir pekan ini, disertai satu foto misterius.

Lewat Twitter @Russo_Brothers, Anthony dan Joe berkicau “wrapped”, yang berarti proses pengambilan gambar telah selesai dan siap masuk ke dapur pasca-produksi.
 

Kicauan ini (13 Oktober 2018) disertai dengan foto sebuah obyek yang menyala sangat terang berwarna putih dan biru. Para penggemar Marvel di media sosial sigap dengan berbagai teori dugaan, baik yang serius maupun bercanda.

Ada yang menduga obyek ini adalah peti mati, tokoh bernama Vision yang hidup kembali, dan ada pula yang mengibaratkan itu sebagai lampu sirene mobil polisi yang menangkap Thanos.

Avengers 4 belum memiliki judul, yang merupakan kelanjutan langsung dari dari Avengers: Infinity War. Syuting film ini sebenarnya sudah dilakukan dalam satu rangkaian dengan Infinity War atau Avengers 3 pada tahun lalu. Namun ada sejumlah adegan yang harus syuting ulang dan ditambahkan.

Marvel Studios dan Disney juga sangat ketat dalam menjaga agar tidak ada bocoran cerita di luar kontrol. Menurut laporan Deadline dan ComicBook, para pemain tidak mendapat naskah utuh. Ada pemain yang harus syuting adegan dalam beberapa versi seperti Mark Ruffalo. Bahkan Karen Gillan tidak mendapat naskahnya.

Avengers: Infinity War berkisah tentang ambisi Thanos dalam mewujudkan dunia impiannya dengan cara menghilangkan separuh populasi semesta. Film berakhir dengan kekalahan di pihak Avengers, tetapi kisahnya masih akan berlanjut di film Avengers 4 yang akan dirilis di bioskop pada awal Mei 2019.

Ketika dirilis di bioskop puluhan negara mulai April 2018, film ini telah meraup pendapatan kotor USD$2,04 miliar dan menjadi film terlaris keempat di dunia sepanjang masa setelah Avatar, Titanic, dan Star Wars: The Force Awakens.

 
(DEV)

Hari Pertama Tayang, Film Asih Tembus 190 Ribu Tiket

Jakarta: Film horor gaib Asih dari MD Pictures mencapai angka penjualan tiket 190-an ribu tiket pada hari pertama tayang, Kamis, 11 Oktober 2018. Dengan asumsi satu tiket rata-rata Rp37 ribu, pendapatan kotor film ini telah mencapai lebih dari Rp7 miliar.

Data box office terbaru untuk film-film lain belum tersedia. Kendati begitu, Asih kemungkinan besar melampaui film-film lain selama akhir pekan terakhir.

Menurut data situs web Katalog Film Indonesia, Asih beredar di 480-an layar 71 kota. Sementara itu, Menunggu Pagi (IFI Sinema) beredar di 29 layar 25 kota dan Kesempatan Kedu(d)a (RA Pictures) beredar di 61 layar 46 kota. Film yang disebut terakhir ini digarap sutradara Awi Suryadi, yang juga mengerjakan Asih.

Jika performa Asih di box office cukup stabil, angka penjulan tiketnya sangat mungkin mencapai 600 ribu selama akhir pekan pembuka ini (11-14 Oktober) dan menembus satu juta tiket pada akhir pekan berikutnya.

Asih adalah kisah sempalan dari Danur: I Can See Ghosts (2017) yang menjadi film horor terlaris kedua pada 2017 dengan capaian 2,7 juta tiket. Kedua film ini sama-sama diadaptasi dari novel karya Risa Saraswati.

Film sekuel Danur 2: Maddah juga dirilis tahun ini pada akhir Maret lalu. Capaian box office Danur 2 mencapai 2,57 juta tiket dan untuk sementara menjadi film terlaris kedua pada 2018, mengekor Dilan 1990 yang mencapai 6,3 juta tiket.

(DEV)

Tora Sudiro Suka Tertawa Sendiri Lihat Aktingnya di 3 Dara 2

Tora Sudiro di 3 Dara 2 (Foto: dok. mncpictures)

Jakarta: Tora Sudiro mengaku suka tertawa melihat tingkah lakunya di film 3 Dara 2. Pasalnya, di film itu Tora melakukan adegan berpenampilan sebagai perempuan.

Dalam trailer terbaru 3 Dara 2, Tora tampak mengenakan pakaian perempuan. Meski bukan pertama kalinya berlagak menjadi perempuan, Tora tetap menganggap aktingnya di 3 Dara 2 sebuah tantangan.

“Kalau pakai baju perempuan untuk keperluan akting sih sudah pernah. Makanya sekarang enggak canggung,” kata Tora Sudiro dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id.

Bagi Tora, seorang aktor profesional harus siap diminta melakukan adegan apa saja selama untuk mendukung cerita film. Apalagi jika hanya berpenampilan seperti perempuan.

“Tapi jangan disangka beneran jadi perempuan, apalagi terlihat lebih gemulai. Yang pasti sebagai aktor kita harus profesional,” ujarnya.  

3 Dara 2 merupakan sekuel dari film pertamanya yang tayang pada 2015. Di 3 Dara 2, Tora Sudiro kembali berakting dengan Tanta Ginting dan Adipati Dolken.

Selain mereka bertiga, film yang disutradarai Monty Tiwa ini juga melibatkan Rianty Cartwright, Cut Mini dan Ovi Dian. Film 3 Dara 2 akan tayang di bioskop pada 25 Oktober 2018.

(ELG)

Film Biopik Band Koes Plus Cari Pemeran Utama

Film Koes Plus (Foto: dok. falconpictures)

Jakarta: Rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan segera membuat film biopik band legendaris Indonesia: Koes Plus. Sejauh ini, proses pembuatan baru saja merampungkan naskah.

Kursi sutradara diberikan kepada Rako Prijanto yang sebelumnya sukses membesut Teman Tapi Menikah. Untuk pemeran utama para personel Koes Plus belum ditentukan.

“Proses penulisan skrip sudah selesai dan kami saat ini sedang mencari pemain yang pas untuk memerankan tokoh personel Koes Plus,” kata Produser Falcon Pictures, Frederica dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id.

Koes Plus merupakan band legendaris yang punya perjalanan panjang di dunia musik Indonesia. Karena itu, Frederica menganggap menjadi sebuah keharusan mengangkat kisah hidup band yang berdiri sejak 1960-an itu.

“Sebagai band legendaris nomor satu Indonesia di era tahun 1960 sampai 1980-an. Saya berharap film ini nantinya bisa membangkitkan kembali kenangan pada Koes Plus,” katanya.

Rako dan rumah produksi pun membuka diri terhadap masukan langsung dari masyarakat di media sosial terkait siapa aktor yang cocok memerankan Tonny Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Yon Koeswoyo dan Murry. Mereka berharap film ini bisa sukses dan berjalan lancar.

Personel Koes Plus yang saat ini masih tersisa ialah Yok Koeswoyo. Tonny Koeswoyo, Murry dan Yon Koeswoyo sudah terlebih dulu meninggal dunia.

(ELG)

Game of Thrones yang Disebut Jokowi, Serial Televisi Terbaik Dunia

Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat pidatonya mengguncang dunia. Dalam sambutan di plenarry session IMF-World Bank 2018 yang digelar di Nusa Dua, Bali, Jokowi mengibaratkan situasi global dalam konteks sosial-ekonomi seperti keadaan dalam serial Game of Thrones.

“Akhir-akhir ini hubungan antarnegara maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones,” kata Jokowi, di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

Pidato Jokowi Dapat Dobel Standing Ovation

Ini bukan kali pertama Jokowi menggunakan analogi perfilman dalam pidatonya. Pada September lalu, dalam acara World Economic Forum ASEAN di Hanoi, Vietnam, Jokowi mengaitkan kondisi perekonomian saat ini dengan sosok Thanos dalam film Avengers: Infinity War.

Secara tidak langsung Jokowi menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok yang dinamis, yang juga mengikuti perkembangan dunia hiburan. Sosok yang sebelumnya dikenal sebagai metalhead itu ternyata juga paham apa-apa saja yang sedang digandrungi masyarakat dunia. Di antaranya film Avengers dan serial televisi Game of Thrones.

Game of Thrones merupakan kisah yang ditulis oleh George RR Martin. Kemudian diadaptasi ke serial televisi oleh HBO, saluran televisi berbayar. Serial Game of Thrones digarap oleh David Benioff dan D.B. Weiss.

Saat ini, serial Game of Thrones telah masuk musim ketujuh dan akan berakhir pada musim kedelapan, tahun depan.

IMF dan Bank Dunia Terpesona Pidato Game of Thrones Jokowi

Game of Thrones mulai tayang perdana di televisi pada 17 April 2011. Tidak butuh waktu lama, serial ini jadi populer di seluruh dunia.

Situs ulasan film Rotten Tomatoes pada tahun lalu sempat melakukan jajak pendapat soal serial televisi terfavorit dalam 20 tahun terakhir. Nama Game of Thrones pun duduk di posisi puncak, disusul serial televisi Breaking Bad di posisi kedua dan The Big Bang Theory di posisi tiga.

Selama tujuh tahun tayang, serial ini telah mendapat 255 penghargaan dan 715 nominasi. Termasuk penghargaan pada ajang-ajang bergengsi seperti Emmy Awards dan Golden Globe Awards. Pada tahun ini Emmy Awards sebagai ajang penghargaan yang dipercaya karena kredibilitasnya di bidang serial televisi mengganjar serial ini dengan piala kategori Outstanding Drama Series.

Pada tahun 2017, saat musim ketujuh Game of Thrones ditayangkan di televisi, serial ini memecahkan rekor dengan mendulang 16,5 juta penonton, berdasarkan data yang dikeluarkan Nielsen. Rata-rata penonton serial ini bertambah 8 juta orang di setiap musimnya.

Alasan utama mengapa serial ini begitu populer tidak lepas dari jalan cerita yang disuguhkan. Game of Thrones menyajikan kisah intrik politik kerajaan, berikut sekelumit kisah kehidupan yang mengikutinya. Lebih dari itu, alur cerita serial ini sulit ditebak, sehingga membuat para penonton larut dalam emosi juga rasa penasaran.

(ELG)

Netflix Rilis Trailer Film Terbaru Joe Taslim dan Iko Uwais

The Night Comes For Us (Foto: dok. Screenplay Infinite Films)

Jakarta: Film laga original pertama Indonesia The Night Comes for Us akhirnya merilis trailer perdana pada 10 Oktober 2018.

Dalam cuplikan tersebut, pemimpin sindikat kejahatan di Jakarta sekaligus mantan Triad, Ito (Joe Taslim) menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil. Hal ini dilakukan untuk menebus rasa bersalahnya.

Keputusan itu memantik sejumlah permasalahan Ito. Dia bahkan harus berhadapan dengan Arian (Iko Uwais) kawan lama yang telah bergabung dengan kelompok mafia Makau.

Joe Taslim dan Iko Uwais ditemani beberapa pemain di antaranya Zack Lee, Sunny Pang, Julie Estelle, Dian Sastrowardoyo, Hannah Al Rashid, Shareefa Daanish, Epy Kusnandar, Abimana Aryasatya serta Morgan Oey.

Film ini disutradarai oleh Timo Tjahjanto yang sekaligus berperan sebagai penulis naskah. The Night Comes for Us diproduksi Screenplay Infinite Films, produksi kerjasama Screenplay Films dan Infinite Frameworks.

Film ini sebelumnya telah ditayangkan perdana dalam Fantastic Fest di Austin pada 23 September 2018.

The Night Comes for Us dijadwalkan tayang 19 Oktober 2018.

(ELG)

Will Smith Ungkap Penampakan Lampu Ajaib di Film Aladdin

Jakarta: Aktor multi talenta Will Smith tampak begitu antusias dalam proyek film terbarunya Aladdin live-action. Pada Kamis, 12 Oktober 2018, Will Smith mengunggah penampakan magic lamp, properti ikonik dalam kisah Aladdin.

“Biarkan aku keluar! Tidak sabar untuk tampil sebagai Si Biru (Genie) untuk kalian,” tulis aktor berusia 50 tahun itu dalam keterangan tertulis di Instagram.

Peran Smith dalam Aladdin live-action tampak cukup berat, mengingat kesuksesan versi animasi Aladdin (1992) juga berkat peran aktor senior Robin Williams yang saat itu berperan sebagai pengisi suara.

Bintang Suicide Squad tersebut didapuk memerankan tokoh Genie, beradu peran dengan Mena Massoud sebagai Aladdin. Mena adalah bintang serial TV Amazon pemeran Jack Ryan. Sementara itu, karakter Princess Jasmine diperankan Naomi Scott, bintang Power Rangers Merah Muda dalam film Power Rangers rilisan 2017. Peran Jafar dimainkan oleh Marwan Kenzari.

Aladdin adalah proyek animasi dari Disney yang dirilis dalam bentuk live-action. Beberapa judul yang ikut dirilis dalam bentuk live-action belum lama ini yaitu Beauty and the Beast, The Lion King, Mulan serta Lilo & Stitch.

Aladdin live-action rencananya tayang di bioskop Amerika 24 Mei 2019.

 
(ELG)

Rupert Grint Sempat Ingin Keluar dari Serial Harry Potter

Jakarta: Aktor Rupert Grint menyatakan sempat ingin keluar dari perannya sebagai Ron Weasley, salah satu sahabat Harry Potter. Keinginan itu ingin dilakukan setelah bermain dalam Harry Potter & The Goblet of Fire (2005).

“Aku baru saja menyelesaikanku studiku di GCSEs (General Certificate of Secondary Education). Aku pikir, haruskah aku tetap melakukan ini (bermain film)? Ini sedikit bergeser,” ungkap aktor berusia 30 tahun itu, dilansir dari NME.

Pemikiran itu sempat dipertimbangkan olehnya. Sebab, jika dia memilih berhenti maka itu adalah sebuah pengorbanan besar.

Meski pada akhirnya Rupert Grint bermain hingga serial Harry Potter tamat, dia masih bimbang apakah ingin serius di dunia akting. “Kami memiliki hubungan yang intens dan intim selama beberapa tahun di lingkaran ini,” katanya.

Dia mengaku, akting bukan bagian dari mimpinya.

“Aku melakukan akting dalam drama dan hal terkait itu. Namun, itu bukan sesuatu yang benar-benar saya impikan. Aku jatuh cinta dengan akting saat melakukannya,” ungkap aktor yang juga membintangi video musik singel Lego House milik Ed Sheeran tersebut.

(ELG)

Film Menunggu Pagi akan Menjadi Latar Pesta Musik DWP

Jakarta: Pesta musik dansa elektronik Djakarta Warehouse Project (DWP) menjadi latar utama film Menunggu Pagi. Film ini menyoroti kehidupan kawula muda dengan berbagai aktivitas dan persiapan menuju pesta musik terbesar di Asia Tenggara itu.

Pada Selasa sore, 9 Oktober 2018, tiga aktor Menunggu Pagi yakni Mario Lawalata pemeran DJ Martin, Bio One pemeran Adi, dan Arya Vasco sebagai Rico bertandang ke kantor Media Group. Film ini mencoba memberi pesan kepada kawula muda tentang narkoba yang dapat merugikan diri sendiri.

“Di film ini kalau kalian begini, hasilnya ya akan begini. It’s a fun movie, bukan buat mikir,” kata Mario.

Menurutnya, film ini dikemas semenarik mungkin untuk mendapatkan adegan natural dari masing-masing pemain.

Fun, pinginnya penonton dekat banget dengan film ini. Rasain party kayak gimana, rasain kejar-kejaran gimana, tegangnya, selingkuh, yang kayak gitu. Benar-benar real dengan milenial zaman sekarang,” imbuhnya.

Menunggu Pagi bercerita tentang perjalanan anak-anak muda dengan berbagai karakter saat akan menikmati pesta musik DWP. Film ini menggunakan latar waktu 12 jam dan beberapa potongan adegan dari DWP 2016 dan 2017.

Teddy Soeriaatmadja selain sebagai sutradara, turut mengambil peran sebagai penulis naskah. Film ini diproduksi bersama dengan IFI Sinema.

Selain Mario Lawalata, Bio One, dan Arya Vasco, beberapa aktor lain yang ikut berperan di antaranya Arya Saloka, Aurelie Moeremeans, Raka Hutchison, Ganindra Bimo, Putri Marino serta Yayu Unru.

Drugs sudah pasti enggak baik. Ngerusak badan sama habisin duit. Kecuali beli sesuatu yang bikin keren, cakep dan badan lu kotak-kotak, tapi kalau itu drugs, saya akan beli,” kelakar Mario.

Manunggu Pagi dijadwalkan tayang 11 Oktober 2018 di bioskop Indonesia.

(DEV)

Perdana Main Film, Post Malone Adu Peran dengan Mark Wahlberg

Jakarta: Rapper Post Malone memulai debut aktingnya melalui film Netflix berjudul Wonderland. Dia akan beradu peran dengan aktor Mark Wahlberg.

Belum diketahui pasti peran apa yang dimainkan Post Malone. Namun dilansir dari NME, dia akan menemani Wahlberg, pemeran detektif Spenser yang mencoba memecahkan kebenaran di balik pembunuhan sensasional dan konspirasi rumit di baliknya.

Film ini diarahkan sutradara Peter Berg, yang telah bekerjasama dengan Mark Wahlberg dalam film Lone Survivor, Patriots Day dan Mile 22.

Selain Mark Wahlberg, Post Malone akan beradu peran dengan bintang film Black Panther Winston Duke, komedian Iliza Shlesinger serta Alan Arkin.

Film Wonderland diadaptasi dari novel besutan Ace Atkins berjudul Robert B. Parker’s Wonderland. Novel ini merupakan bagian dari kisah serial Spenser. Beberapa serial Spenser awalnya dikerjakan penulis fiksi misteri asal Amerika Robert B. Parker. Namun, setelah Parker meninggal pada 2010, serial Spenser dilanjutkan oleh rekannya Helen Brann. Pada 2016, lima kisah Spenser sisanya dilanjutkan oleh jurnalis sekaligus penulis Ace Atkins.

Film ini diproduseri Neal H. Moritz di bawah bendera Original Film, bersama Mark Wahlberg, Stephen Levinson dan Peter Berg di bawah bendera Film 44 Company.

Belum ada keterangan jadwal rilis film.
(ELG)

The Origin of Santet Unggul di Box Office Sepekan Pertama

Jakarta: Film horor supranatural baru The Origin of Santet dari Skylar Films unggul di bioskop domestik pada akhir pekan pertama tayang. Selama empat hari terakhir hingga Minggu, angka penjualan tiketnya bersaing tipis dengan Arwah Tumbal Nyai dari RA Pictures.

Menurut data Katalog Film Indonesia, Santet mencapai angka penjualan 102 ribu tiket selama akhir pekan pertama (4-7 Oktober 2018). Dengan asumsi satu tiket rata-rata Rp37 ribu, pendapatan kotor filmnya setara Rp3,78 miliar.

Satu film baru lain, Liam dan Laila (Mahakarya Pictures) meraup angka penjualan tiket 23 ribu lembar atau setara Rp864 juta. Hingga Senin, 8 Oktober, kedua film ini masih beredar di 138 layar dan 58 layar.

Sementara itu, Arwah Tumbal Nyai menambah angka penjualan 118 ribu tiket selama sepekan terakhir (1-7 Oktober 2018). Dengan tambahan itu, penjualan tiket selama 11 hari menjadi 250 ribu atau setara Rp9,27 miliar.

Dalam periode sama dengan Arwah Tumbal Nyai, Aruna dan Lidahnya (Palari Films) menambah angka penjualan 50-an ribu tiket. Total penjualan tiket selama 11 hari adalah 130 ribu atau setara Rp4,82 miliar.

Something in Between (Screenplay & Legacy) tidak beda jauh dengan Aruna dan Lidahnya selama sepekan terakhir. Total tiket terjual adalah 158 ribu lembar atau setara Rp5,84 miliar.

Sakral (Dee Company), yang telah dirilis tiga pekan lalu, masih bisa menambah angka penjualan tiket sekitar 50 ribu lembar. Total penjualan selama 18 hari tayang adalah 300 ribu atau setara Rp11,1 miliar.

Belok Kanan Barcelona (Starvision Plus) juga telah melewati hari tayang ke-18 dan mencapai angka penjualan tiket 161 ribu lembar atau setara Rp5,9 miliar. Baco Becce (Herman Heizer dan Rere Art2tonic) mencapai 82 ribu tiket atau setara Rp3 miliar selama 18 hari tayang. Kedua film ini siap pamit dari bioskop.

Wiro Sableng (Lifelike Pictures), Gila Lu Ndro (Falcon Pictures), dan Bisikan Iblis (MD Pictures) telah resmi turun layar sejak akhir pekan lalu. Angka tiket untuk Wiro Sableng mencapai lebih dari 1,5 juta tiket, membuat film ini menjadi film domestik terlaris kelima untuk 2018.

Berikut daftar sementara 15 film terlaris 2018, berdasarkan data Katalog Film Indonesia pada 8 Oktober.

1. Dilan 1990 (6.315.664)  
2. Danur 2: Maddah (2.572.672)  
3. Si Doel The Movie (1.757.653)
4. #Teman tapi Menikah (1.655.829)  
5. Wiro Sableng (1.545.800)  
6. Jailangkung 2 (1.498.635)   
7. Sabrina (1.337.510)  
8. Kuntilanak (perkiraan 1.236.000)         
9. Sebelum Iblis Menjemput (1.122.187)  
10. Eiffel… I’m In Love 2 (1.008.392)  
11. Yowis Ben (935.622)  
12. Rasuk (900.019)  
13. Target (823.525)  
14. Sajen (792.892)  
15. 22 Menit (786.242)  

(ELG)

Pertama Kali Digelar, Festival Film Madani Angkat Kisah Komunitas Muslim Dunia

Jakarta: Satu festival film baru dengan tema spesifik hadir di Indonesia. Dikemas dalam tajuk Festival Film Madani, festival ini memberi sorotan khusus untuk film-film dengan kisah komunitas Muslim di seluruh dunia.

Menurut keterangan resmi, Madani “menawarkan kesempatan untuk menonton film-film bagus yang menunjukkan perjuangan, harapan, air mata, dan keindahan hidup dari beragam komunitas Muslim di seluruh dunia”.

Edisi perdana festival ini akan digelar di Jakarta pada 17-21 Oktober 2018. Ada empat lokasi penayangan film, yaitu bioskop XXI Djakarta Theatre, IFI Thamrin, Kineforum, dan Binus Alam Sutera.

Dari keterangan di situs web resmi madanifilmfest.id, total ada 15 film panjang dari Indonesia dan mancanegara yang akan ditayangkan.

Never Leave Me, film garapan sutradara Bosnia Aida Begic, akan menjadi sajian utama yang membuka festival ini di XXI Djakarta Theater pada Rabu malam, 17 Oktober. Aida juga akan hadir untuk sesi tanya-jawab dengan penonton usai penayangan.

Never Leave Me menjadi delegasi Bosnia untuk seleksi nominasi Best Foreign Language dalam Academy Awards ke-91 di AS. Kisahnya mengikuti tiga anak yang melarikan diri dari perang Suriah dan menjadi tawanan di Turki.

Film-film dari Indonesia meliputi Bid’ah Cinta (Nurman Hakim), La Tahzan (Danial Rifki), Haji Backpacker (Danial Rifki), Rindu Kami Padamu (Garin Nugroho), Mata Tertutup (Garin Nugroho), dan Mencari Hilal (Ismail Basbeth), serta film pendek Pengantin (Noor Huda Ismail).

Ada juga dua film lawas Titian Serambut Dibelah Tujuh (Chaerul Umam) dan Pagar Kawat Berduri (Asrul Sani).

Lima film lain dari mancanegara adalah Fatima (Prancis-Kanada), My Sweet Pepperland (Prancis), Girrafada (Palestina), The Island Funeral (Thailand), dan Timbuktu (Prancis).

Festival ini dikelola oleh direktur festival Krisnadi Yuliawan dan direktur program Sugar Nadia. Dewan festival meliputi Putut Widjanarko, Garin Nugroho, Hikmat Darmawan, Ekky Imanjaya, Chiki Fawzi, serta Inayah Wahid.

 
(ELG)

Akhir Pekan Pembuka, Venom Raup Rp3 Triliun dari Box Office Dunia

California: Kendati mendapat ulasan negatif dari para kritikus dan media, film adaptasi komik Venom punya capaian besar secara komersial. Pada akhir pekan pertama tayang di 50-an negara (3-7 Oktober 2018), pendapatan kotor film ini dari bioskop mencapai USD205 juta atau sekitar Rp3,13 triliun. 

Dari kawasan negara asal filmnya, AS-Kanada, Venom (Sony Pictures) meraup pendapatan kotor USD80 juta atau hampir 40% dari total seluruh dunia. Menurut data Box Office Mojo, capaian ini membuat Venom menjadi film bulan Oktober terlaris pada akhir pekan pembuka sepanjang masa, bahkan setelah disesuaikan dengan inflasi. 

Sebelumnya, rekor itu dipegang oleh Gravity (2013) dengan pendapatan kotor pertama USD55,78 juta.

Untuk kawasan internasional, termasuk Indonesia, situs comScore mencatat pendapatan kotor Venom mencapai USD125,2 juta. Angka ini jauh lebih banyak dari Ant-Man and the Wasp dengan USD85,89 juta, tetapi lebih kecil dibanding Deadpool dengan USD174,87 juta. 

Jika disandingkan dengan film adaptasi komik Marvel lainnya, Venom menduduki peringkat ke-27 box office akhir pekan pertama. Film-film dengan capaian tak beda jauh antara lain X-Men Origins: Wolverine (2009), Doctor Strange (2016), X2: X-Men United (2003), dan Thor: The Dark World (2013).

Sementara itu, film A Star is Born (Warner Bros) yang dibintangi Lady Gaga dan Bradley Cooper juga unggul di box office akhir pekan pertama (3-7 Oktober 2018). Dari kawasan AS-Kanada, film ini meraup pendapatan kotor USD56,6 juta atau sekitar Rp863,71 miliar (kurs Rp15.259).

A Star is Born dijadwalkan rilis bertahan di puluhan negara hingga akhir Oktober dan Desember. Untuk bioskop Indonesia, film ini akan dirilis pada 17 Oktober mendatang bersama dengan Hong Kong.

(ASA)

Promo Film 3 Dara 2, Tora Sudiro dan Adipati Dolken Diganjar Rekor MURI

Tora Sudiro, Tanta Ginting dan Adipati Dolken konvoi untuk promosi film (Foto: dok. mncpictures)

Jakarta: Para pemain film 3 Dara 2 seperti Tora Sudiro, Adipati Dolken, Tanta Ginting dan Ovi Dian punya cara berbeda untuk mempromosikan film mereka. Tora, Tanta dan Adipati melakukan konvoi dengan 1.000 pengendara wanita yang berasal dari sejumlah komunitas motor.

Setelah berkonvoi, mereka berkumpul di Kota Tua Jakarta. Di sana, para pemain film 3 Dara 2 sudah dinanti ratusan penggemar lainnya. Penggemar tampak antusias melihat Tora, Adipati, Tanta dan Ovi Dian.

“Semoga nanti mereka juga akan terhibur dengan menonton film 3 Dara 2,” ujar Tora Sudiro dalam keterangan tertulisnya

Selain menemui penggemar, acara juga diisi dengan sosialisasi berkendara aman dari Dirlantas Polri. Rangkaian acara diganjar penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena melakukan konvoi dengan wanita terbanyak.


Pemberian rekor MURI atas promosi film 3 Dara 2 (Foto: dok. mncpictures)

Acara kemudian ditutup dengan nonton bareng film 3 Dara pertama.

Film 3 Dara 2 kembali menampilkan karakter Jay, Affandi dan Richard. Dalam sekuelnya, mereka diceritakan yang mengalami kebangkrutan lalu terpaksa menjadi “ibu rumah tangga”  dan membiarkan istri-istri mereka yang mulai bekerja mencari nafkah.

Film 3 Dara 2 disutradarai Monty Tiwa. Film ini akan tayang pada 25 Oktober 2018.

(ELG)

Novel Rentang Kisah Karya Gita Savitri Diadaptasi ke Film

Novel Rentang Kisah (Foto: dok. falconpictures)

Jakarta: Rumah produksi Falcon Pictures kembali membuat film yang diadaptasi dari novel. Kali ini mereka berencana mengangkat novel Rentang Kisah karya Gita Savitri ke dalam film.

Sebelumnya Falcon terlebih dulu mengumumkan membuat dua film adaptasi yakni, Sin dan Invalidite. Sama dengan dua novel tadi, Rentang Kisah juga memiliki pembaca cukup banyak. Novel Rentang Kisah disebut sudah terjual lebih dari 100 ribu eksemplar.

Mengetahui novelnya menarik minat rumah produksi film sempat membuat Gita Savitri kaget. “Tidak pernah bermimpi untuk menulis buku terus diterbitkan sama Gagas Media, sudah gitu dibikin film sama Falcon Pictures. Tapi ini adalah kenyataan, Rentang Kisah akan ada filmnya,” kata Gita Savitri dalam keterangan tertulisnya.

Rentang Kisah bercerita tentang pengalaman Gita selama kuliah di Jerman. Wanita yang juga dikenal sebagai Youtuber itu menuangkan sejumlah permasalahan personal selama hidup di Jerman ke dalam buku itu.

“Selain ceritanya yang menarik Rentang Kisah merupakan novel best seller yang sudah laku lebih dari 100 ribu eksemplar dan sudah dicetak ulang sebanyak sembilan kali. Tentunya ini sebuah prestasi yang luar biasa untuk novel ini,” kata Produser Falcon Pictures, Frederica.

Belum ada keterangan lebih lanjut siapa saja yang terlibat dalam produksi film dan para pemerannya. Termasuk juga apakah Gita akan terlibat langsung dalam film ini atau tidak.

(ELG)

Istri Won Bin Kembali Bermain Film Setelah Hiatus 6 Tahun

Seoul: Lee Na Young, aktris sekaligus istri dari aktor Won Bin dikabarkan siap kembali bermain dalam proyek film. Hal ini disampaikan Lee Na Young dalam konferensi pers di Busan International Film Festival ke-23, Kamis, 4 Oktober 2018.

“Belakangan hiatus, jika kalian ingin menyebutnya seperti itu. Saya terus berpikir tentang akting dan terus mengkhawatirkannya,” papar aktris yang mulai aktif berakting sejak 1998 itu.

Keinginannya kembali bermain dalam film ini diawali ketika melihat naskah Beautiful Days yang ditawarkan padanya.

“Saya ingin terlibat dalam film dan sambil berpikir tentang cerita apa yang harus saya bawakan dengan penuh percaya diri, butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Tidak ada rencana atau pemikiran di baliknya, dan saya menemukan naskah yang saya suka dan ingin terus melakukannya,” katanya.

Film Beautiful Days berkisah tentang seorang pria bernama Jen Chen (Jang Dong Yoon) yang hendak pergi ke Korea untuk menemui ibunya (Lee Na Young) setelah 14 tahun tidak bertemu. Beberapa aktor pendukung dalam film ini di antaranya Oh Kwang Rok, Lee Yoo Joon dan Seo Hyun Woo.

Beautiful Days ditayangkan premier perdana dan sebagai pembuka dalam Busan International Film Festival ke-23. Film arahan sutradara Jero Yun ini dirilis di bioskop Korea Selatan November 2018.

(ELG)

Song Hye Kyo dan Park Bo Gum Mulai Syuting Drama Encounter

Seoul: Para aktor serial drama tvN terbaru berjudul Encounter telah menapaki tahap proses reading atau pembacaan naskah. Aktor dan aktris utama, Song Hye Kyo dan Park Bo Gum tampak serius membaca naskah perdana mereka bersama para aktor lain.

Kegiatan membaca naskah ini dilakukan di Sangam, Seoul pada Agustus lalu.

Melihat para aktor yang terlibat, sutradara Park Shin Woo merasa memiliki tanggung jawab menyajikan karya film terbaik.

“Melihat para pemain, yang sangat saya syukuri, membuat saya berpikir bahwa perlu untuk mengerjakan ini sebaik mungkin. Saya akan bekerja keras, maka ketika Encounter tamat, akan menjadi sebuah drama yang bahkan membuat kami begitu bangga,” ungkapnya, dilansir dari Soompi.

Hal selaras turut dipaparkan penulis naskah, Yoo Young Ah.

“Saya ingin mengatakan bahwa saya merasa sangat bersyukur. Saya akan bekerja keras dalam menulis naskah berikutnya dan beberapa karakter yang telah terpilih,” paparnya.

Serial yang awalnya diberi judul Boyfriend ini turut didukung beberapa aktor di antaranya Go Chang Suk, Cha Hwa Yeon, Moon Sung Geun, Nam Ki Ae, Shin Jung Geun dan Baek Ji Won.

Dukungan positif juga diberikan oleh para pihak produser yang berharap proyek drama ini dapat menjadi bentuk kerjasama baik antar anggota tim.

“Sepertinya kami telah mengumpulkan pemain yang tidak pernah bisa dilihat lagi untuk drama ini. Ini adalah kegiatan membaca naskah yang menyenangkan, menunjukkan kerjasama tim yang ideal dan kemampuan akting dari para aktor, termasuk Song Hye Kyo dan Park Bo Gum.”

Sebelumnya, drama ini diberi judul Boyfriend. Drama ini menjadi comeback Song Hye Kyo setelah menikah dengan Song Joong Ki pada Oktober 2017. Proyek ini kabarnya akan melakukan syuting di Kuba.

Syuting untuk serial drama ini telah dimulai sejak awal September 2018. Laman KStarLive.com telah membagikan beberapa foto-foto Park Go Bum saat berada di bis untuk syuting Encounter.

Drama Encounter bercerita tentang Cha Soo Hyun (Song Hye Kyo), anak perempuan yang tidak bahagia dari seorang politisi ternama dan mantan pewaris konglomerat kaya yang memiliki kisah cinta dengan Kim Jin Hyuk (Park Bo Gum), pria muda biasa yang polos yang dia temui. Karakter mereka yang berbeda, Cha Soo Hyun yang tak tahu arah tujuan hidupnya, sementara Kim Jin Hyuk memiliki kepribadian yang semangat dan mampu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil.

Encounter menjadi kelanjutan cerita dari serial drama Hundred Million Stars From the Sky. Drama ini disutradarai Park Shi Woo berdasarkan naskah yang ditulis Yoo Young A.

Drama Encounter tayang setiap hari Rabu dan Kamis di jaringan tvN mulai November 2018.

(ELG)

Chris Evans Resmi Pensiun sebagai Captain America

Los Angeles: Film Avengers 4 menjadi seri terakhir aktor Chris Evans memerankan tokoh pahlawan Captain America. Aktor berusia 37 tahun itu mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun Twitter, Kamis, 4 Oktober 2018.

“Resmi ditutup dengan Avengers 4. Menjadi hari yang begitu emosional untuk dikatakan. Bermain dalam peran ini selama 8 tahun adalah sebuah kehormatan. Untuk semua yang di depan kamera, belakang kamera, dan para penonton, terima kasih untuk kenangannya! Selalu bersyukur, ” tulis Evans.

Cuitan ini mendapat beragam respons positif. Beberapa warganet memberikan ucapan terima kasih.

Kabar pengunduran diri Chris Evans sebagai Steve Rogers yakni Captain Amerika sudah sejak Maret 2018. Pernyataan itu dikatakan kepada New York Times saat berbicang dengan Chris Evans soal Avengers 4.

“Anda ingin turun dari ‘kereta’ sebelum mereka mendorong Anda,” kata Evans.

Chris Evans memerankan tokoh Captain Amerika sejak Captain America: The First Avengers.

Kabarnya Film Avengers 4 akan menjadi serial terakhir dari Marvel Cinematic Universe. Avengers 4 dirilis 3 Mei 2019.

(ELG)

Sutradara Film Vice Puji Totalitas Christian Bale

Jakarta: Aktor Christian Bale kembali mengubah penampilannya untuk proyek film biopik berjudul Vice. Film ini berkisah tentang Richard Bruce Cheney (Dick Cheney), Wakil Presiden Amerika Serikat ke-46 yang menjabat selama pemerintahan George W. Bush.

Seperti pada beberapa judul film sebelumnya, Christian Bale lagi-lagi menunjukkan totalitas sebagai aktor. Sebut saja beberapa judul film yang berhasil mengecoh penonton akan penampilannya di American Psycho (2000), Rescue Dawn (2006), American Hustle (2013) dan Exodus (2014). Aksi Bale memerankan tokoh Dick Cheney mendapat pujian dari sang sutradara.

“Apa yang dilakukan Christian Bale adalah secara psikologi dia memecahkan (karakter) dan mengumpulkannya kembali. Saya belum pernah melihat seseorang bekerja sangat keras dalam hal itu, dan itu sulit baginya, tetapi sangat menakjubkan untuk ditonton. Kemudian saya berpikir mengerjakan film, saya langsung tahu, orang yang paling tepat memerankannya adalah Christian,” kata Adam McKay, sutradara yang juga mengarahkan Bale dalam film The Big Short.

Vice berkisah tentang sikap kontroversial dari seorang birokrat Washington, pemangku kepentingan dalam meluncurkan Perang Irak, sekaligus menimbulkan kontroversi di luar dunia politik.

Beberapa peran pendukung juga menampilkan sosok penting lain di antaranya Mantan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld (Steve Carell), George W. Bush (Sam Rockwell), Nelson Rockefeller (Bill Pullman) dan Colin Powell (Tyler Perry).

Film arahan sutradara Adam McKay ini dijalankan berdasarkan naskah yang dia tulis sendiri, sekaligus merangkap sebagai produser bersama Will Ferrell, Kevin J. Messick, Jeremy Kleiner, Dede Gardner dan Brad Pitt.

Vice dijadwalkan tayang di bioskop Amerika pada 21 Desember 2018.

(ELG)

Kisah Narnia Diadaptasi ke Film dan Serial Netflix

California: Netflix menyiapkan proyek film dan serial terbaru berdasarkan seluruh novel klasik The Chronicles of Narnia karya CS Lewis. Proyek ini menjadi kali pertama hak adaptasi ketujuh episode novel Narnia dimiliki perusahaan yang sama.

Menurut keterangan resmi dari The CS Lewis Company, mereka telah meneken kontrak kerja sama sekian tahun dengan Netflix. Platform streaming raksasa ini akan mengembangkan semesta kisah Narnia ke sejumlah judul serial dan film.

“Kisah Chronicles of Narnia tercinta dari CS Lewis telah beresonansi dengan sekian generasi pembaca di seluruh dunia. Para keluarga telah jatuh cinta pada karakter seperti Aslan dan seluruh dunia Narnia, dan kami sangat senang akan menajdi rumah mereka selama sekian tahun ke depan,” kata bos konten Netflix Ted Sarandos.

Mark Gordon (Entertainment One) akan menjadi produser eksekutif untuk serial dan produser untuk film bersama Douglas Gresham dan Vincent Sieber. Douglas dan Vincent adalah produser film-film adaptasi Narnia sebelumnya.

“Senang rasanya tahu bahwa orang-orang dari seluruh dunia sedang menanti untuk menyimak dunia Narnia lebih jauh, dan bahwa kemajuan produksi dan teknologi distribusi mampu membuat kami membuat petualangan Narnia hidup di seluruh dunia,” kata Douglas. Douglas adalah salah satu anak tiri CS Lewis.

Novel seri Narnia terbit pertama antara 1950 hingga 1956 dan terhitung sebagai karya sastra klasik bagi anak-anak di barat. Novel ini sudah terjual lebih dari 100 juta eksemplar dan diterjemahkan ke 47 bahasa.

Kisahnya juga telah diadaptasi ke berbagai medium, meliputi teater, drama radio, gim, serial, serta film. Film adaptasi terakhir adalah The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader dari 20th Century Fox yang dirilis pada 2010. Film ini diangkat dari novel ketiga.

Sementara itu, platform streaming Amazon juga sedang menyiapkan proyek serial adaptasi atas novel klasik The Lord of the Rings.

(ELG)

Film Impian 1000 Pulau Tebar Semangat Gotong Royong

Jakarta: Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menebarkan semangat gotong royong. Salah satunya, melalui film Impian 1.000 Pulau.

Ketua Gerakan 1000 Ivonny Zakaria mengatakan, semangat pembuatan film sudah terasa dari sinergi berbagai pihak, yaitu pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan akademisi. 

“Film Impian 1000 Pulau bertumpu pada salah satu nilai revolusi mental yang digagas oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yaitu nilai gotong royong” kata Ivonny, dalam keterangan tertulis, Rabu, 3 Oktober 2018.

Tak hanya sekadar hiburan, Executive producer film Impian 1.000 Pulau itu berharap, nilai gotong royong dapat tersalurkan dengan baik kepada penonton. Sebab, gotong royong sangat dibutuhkan dalam kehidupan. 

“Tidak saja dalam proses pembuatan film, tetapi juga berdampak positif pada kelompok masyarakat ekonomi berbasis eco-tourism yang ada di Kepulauan Seribu,” ucapnya.

Film Impian 1000 Pulau tidak hanya menyosialisasikan semangat gotong royong. Penonton juga diajak langsung mengimplementasikan nilai gotong royong dengan memperbaiki kerusakan mangrove di Indonesia melalui #1ticket1mangrove.

“Dengan membeli satu tiket, maka anak muda Indonesia telah berkontribusi terhadap upaya restorasi kerusakan mangrove” jelas Ivon.

Film Impian 1000 Pulau merupakan hasil karya generasi muda. Dengan kemasan promosi yang cukup kreatif, ditargetkan film ini meraih 5 juta penonton. 

Hasil karya sineas muda itu mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Kepulauan Seribu Junaedi. “Hasil gotong-royong generasi muda ini baik yang tinggal di Kepulauan Seribu maupun yang berasal dari Kota Jakarta, membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi merupakan hal yang tanpa batas dapat menghasilkan karya seni yang sangat bagus dan bermakna,” kata Junaedi. 

Junaedi berharap, dengan dirilisnya Film Impian 1000 Pulau dapat mengangkat potensi keindahan alam Kepulauan Seribu. Dengan demikian, banyak wisatawan yang akan berkunjung yang selanjutnya dapat berkontribusi positif terhadap ekonomi di Kepulauan Seribu. 

“Mudah-mudahan melalui Film Impian 1000 Pulau, banyak wisatawan yang akan berkunjung ke Kepulauan 1000 sehingga masyarakat dapat semakin dikenal, semakin sejahtera, dan mandiri di bidang ekonomi,” paparnya.

Siti Soleha Sari Produser Film Impian 1000 Pulau dari Kepulauan Seribu membagikan kisah proses pembuatan film. Menurut Sari, banyak tantangan yang harus dihadapi dalam proses pembuatan Film Impian Seribu Pulau.

“Salah satunya meyakinkan teman-teman saya untuk mau bekerja keras tanpa pamrih dan memegang teguh nilai integritas dalam pembuatan film ini,” ucap Sari. 

Kerja keras Sari pun terbayarkan. Film Impian 1.000 Pulau akan tayang di bioskop. “Setelah melalui proses 2,5 tahun, saya bangga dan sempat enggak menyangka film yang kita buat dapat tayang,” katanya.

Sari yang baru berusia 17 tahun ini berpesan agar generasi muda tidak mudah menyerah. Berbagai kesulitan yang ada harus dihadapi.

“Saya belajar dari pengalaman. Banyak teman yang mengatakan membuat film itu sulit. Tapi kalau kita menjalaninya dengan penuh semangat, ikhlas, dan bekerja keras, maka hasil positif dapat kita raih,” katanya.

(ROS)

Film Arwah Tumbal Nyai Unggul di Box Office Akhir Pekan

Jakarta: Film horor supranatural Arwah Tumbal Nyai dari produser Raffi Ahmad unggul di box office akhir pekan dengan angka penjualan tiket 132 ribu lembar. Dua film baru lain menyusul di bawahnya secara komersial, yaitu Something in Beetwen dan Aruna & Lidahnya. 

Dengan capaian 132 ribu tiket, atau tepatnya 132.992 menurut data Katalog Film Indonesia, Arwah Tumbal telah meraup pendapatan kotor senilai Rp4,9 miliar (asumsi rata-rata Rp37 ribu per tiket) selama empat hari pertama. Hingga awal pekan kemarin, film ini masih beredar di 157 layar. Periode perhitungan box office akhir pekan ini mulai dari 27 September – 30 September 2018.

Something in Beetwen dari Screenplay dan Legacy mencapai angka penjualan tiket 100 ribu lembar atau setara pendapatan kotor Rp3,7 miliar selama empat hari. Film ini masih beredar di 189 layar pada awal pekan. 

Aruna & Lidahnya, film kedua dari Palari Films, mencapai angka penjualan tiket 73 ribu lembar atau setara pendapatan kotor Rp2,73 miliar. Hingga awal pekan, peredaran untuk film ini masih yang terluas yaitu 194 layar. 

Sakral (Dee Company) menambah capaian sekitar 110 ribu lembar tiket selama sepekan terakhir. Total capaian box office adalah 254 ribu tiket atau Rp9,4 miliar selama 11 hari tayang.

Dalam periode yang sama, Belok Kanan Barcelona (Starvision Plus) menambah sekitar 50 ribu tiket. Total capaian box office menjadi 156 ribu tiket atau setara Rp5,8 miliar selama 11 hari tayang.

Baco Becce (Herman Heizer dan Rere Art2tonic) juga menambah sekitar 35 ribu tiket selama sepekan terakhir. Total capaian selama 11 hari tayang adalah 69 ribu atau setara Rp2,55 miliar. 

Dari pekan-pekan sebelumnya, masih ada tiga film yang masih beredar dan siap pamit dari bioskop. Wiro Sableng (Lifelike Pictures) telah mencapai angka box office 1,54 juta tiket atau setara Rp57,19 miliar selama 32 hari tayang. 

Gila Lu Ndro (Falcon Pictures) mencapai angka box office 307 ribu tiket atau Rp11,38 miliar selama 18 hari tayang. Bisikan Iblis (MD Pictures) mencapai angka 181 ribu tiket atau Rp6,72 miliar selama 18 hari tayang. 

Sementara itu, Susah Sinyal (Starvision Plus) sedang beredar di satu bioskop Magelang. Susah Sinyal dirilis akhir tahun lalu dan menjadi film terlaris keenam 2017 dengan capaian 2,17 juta tiket.  

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (Mooryati Soedibyo Cinema) resmi turun layar.

Berikut daftar sementara 15 film terlaris 2018, berdasarkan data terbaru Katalog Film Indonesia pada awal Oktober. Tidak ada posisi yang berubah sejak pekan lalu.

1. Dilan 1990 (6.315.664)   
2. Danur 2: Maddah (2.572.672)   
3. Si Doel The Movie (1.757.653)  
4. #Teman tapi Menikah (1.655.829)   
5. Wiro Sableng (1.545.800)   
6. Jailangkung 2 (1.498.635)    
7. Sabrina (1.337.510)   
8. Kuntilanak (perkiraan 1.236.000)          
9. Sebelum Iblis Menjemput (1.122.187)   
10. Eiffel… I’m In Love 2 (1.008.392)   
11. Yowis Ben (935.622)   
12. Rasuk (900.019)   
13. Target (823.525)   
14. Sajen (792.892)   
15. 22 Menit (786.242)  

(ASA)

Adipati Dolken Belajar Jadi Ayah lewat Film 3 Dara 2

Adipati Dolken (Foto: dok. viu)

Jakarta: Adipati Dolken kembali memerankan Jay di film sekuel 3 Dara. Bedanya, Jay, karakter yang dimainkan Adipati kini sudah menikah dan memiliki anak.

Karakter Jay tentu berbeda dengan kehidupan nyata Adipati yang belum menikah. Namun, untungnya dia beradu peran dengan Tora Sudiro dan Tanta Ginting yang sudah berkeluarga.

“(Di film pertama) Sebelumnya masih singel, masih foya-foya. Masih sukanya kerja dan main-main saja. Sekarang sudah punya anak dan berkeluarga. Jadi dari sisi psikologi kan berbeda. Tapi kepribadian aslinya enggak hilang,” ujar Adipati Dolken dalam keterangan tertulisnya.

Adipati bersyukur karena tak perlu jauh-jauh mencari contoh karena Tora dan Tanta sudah berkeluarga. Aktor 27 tahun ini belajar seluk beluk kehidupan pria yang sudah menikah dan punya anak lewat dua lawan mainnya itu.

“Om Tora kan sudah menikah juga dan punya anak, Tanta juga. Ya, ngobrol-ngobrol saja bagaimana menjadi suami dan ayah. Senang bareng lagi sama Om Tora dan Tanta. Chemistry-nya dapat banget. Apalagi film 3 Dara 2 ini banyak mengandung pesan yang bisa menginspirasi para pasangan,” katanya.

Film 3 Dara 2 kembali menampilkan Jay, Affandi dan Richard yang mengalami kebangkrutan lalu terpaksa menjadi “ibu rumah tangga”  dan membiarkan istri-istri mereka yang mulai bekerja mencari nafkah.

Film 3 Dara 2 disutradarai Monty Tiwa. Film ini akan tayang pada 25 Oktober 2018. Sebelum tayang di bioskop, film 3 Dara 2 akan melakukan promosi berupa konvoi 1.000 pengendara motor wanita pada 6 Oktober.

“Sebelum pemutaran film 3 Dara 2 ada juga acara nonton bareng melalui layar tancap film 3 Dara pertama,” ucapnya.

(ELG)

5 Fakta Menarik Aruna dan Lidahnya

Jakarta: Kisah adaptasi lepas dari novel Laksmi Pamuntjak seperti memberi angin segar dalam daftar film bioskop Indonesia. Aruna (Dian Sastrowardoyo) di sela waktu kerjanya sebagai ahli unggas membawa penonton ikut merasakan bagaimana nikmatnya kuliner nusantara.

Bersama chef Bono (Nicholas Saputra) dan si kritikus menu makanan Nad (Hannah Al Rashid) mereka melakukan perjalanan dari Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak dan Singkawang untuk mencicipi beberapa hidangan makanan menarik, salah satunya mie kepiting. Nah, ada juga Farish (Oka Antara) mantan rekan kerja Aruna sekaligus orang yang pernah ditaksi Aruna dulu.

Di balik kisah mereka berempat dalam mencicipi hidangan nusantara, ada lima fakta menarik seputar Aruna dan Lidahnya.

1. Aruna dan mimpinya

Dalam film, Aruna mengalami dua mimpi berbeda. Pertama, ketika dia membuka kulkas dan mencicipi perasan jeruk nipis. Kedua, ketika Aruna meminum air pantai.

Setelah kedua mimpi itu, Aruna mengalami kesialan terutama soal hubungannya dengan Farish. Apakah ini penyebab lidah Aruna tidak berfungsi dengan baik saat melakukan perjalanan?

2. Aruna dan catur

Ada satu adegan di mana Dian Sastrowardoyo menceritakan kisah nyata yang pernah dialaminya lewat peran Aruna. Saat di Singkawang, Aruna dan Farish mencicipi Choi Pan. Obrolan mereka mengalir dan masih seputar makanan. Aruna menyelipkan kisah lucu bahwa dia pernah makan catur ketika masih kecil.

Pengalaman makan catur rupanya pernah benar-benar terjadi di kehidupan nyata Dian Sastrowardoyo. Oleh sebab itu, adegan ini tampak natural ketika dibawakan Dian.

3. Misteri Pak Musa

Pak Musa adalah pasien rumah sakit dan sempat masuk dalam bingkai adegan bersama Aruna dan Farish. Uniknya saat Bono dan Nad tersesat di Pelabuhan Surabaya, mereka bertemu sosok yang mirip dengan Pak Musa dan mengajak mereka masuk ke kapal kelab dangdut.

Di kapal itu, Pak Musa tampak berdansa dengan sosok perempuan yang mirip dengan istri Pak Musa di foto yang pernah ditunjukkan pada Aruna dan Farish. Tidak lama setelah itu, Pak Musa yang terbaring di rumah sakit dikabarkan meninggal dunia.

4. Ada pakar dan pecinta kuliner

Pada dasarnya Laksmi Pamuntjak mengangkat cerita kuliner dalam bukunya. Tentu, ketika dibawakan dalam bentuk visual tidak lengkap tanpa kehadiran cameo dari sesama pecinta kuliner.

Pada akhir tayangan, ada William Wongso dan Ade Putri mendengarkan Bono yang menjelaskan makanan yang dihidangkan.

Selain itu, Laksmi Pamuntjak dan beberapa orang dari dunia perkulineran turut masuk dalam bingkai layar ini.

5. Hubungan Nad dan Farish

Selain tentang kuliner nusantara, ada kisah menarik di antara persahabatan Aruna, Nad dan Bono serta keikutsertaan Farish. Mengangkat permasalahan hubungan orang dewasa dengan bumbu romansa, Nad dan Farish rupanya terlibat dalam situasi yang sama yakni mencintai di waktu yang salah.

Nad dan Farish bukan sahabat. Mereka berkenalan lewat Aruna saat dalam perjalanan. Dari sini, Nad dan Farish bisa saling mengerti dengan berbagi pengalaman yang sama.

Bedanya, Nad sudah menerima kalau dia berada di posisi itu. Sementara Farish berusaha menyembunyikannya. Nad membantu Farish untuk jujur pada dirinya sendiri. Dapat dikatakan hubungan seperti ini jarang ditampilkan dalam layar bioskop Indonesia.

Aruna dan Lidahnya sudah tayang di bioskop sejak 27 September 2018.

(ELG)

Malam Anugerah Piala Citra 2018 akan Digelar di Jakarta

Jakarta: Komite Festival Film Indonesia memberi sejumlah kabar terbaru tentang gelaran festival tahun ini dalam konferensi pers di XXI Metropole pada Senin, 1 Oktober 2018. Salah satunya adalah rencana bahwa Malam Penghargaan Piala Citra akan digelar lagi di Taman Ismail Marzuki Jakarta, sama seperti dua tahun silam. 

Lukman Sardi, yang kini menjabat Ketua Komite FFI 2018-2020, menyebut kota ini dipilih demi efisiensi hal-hal teknis karena kebanyakan pelaku industri film berada di Jakarta. Perpindahan ratusan orang dan alat ke luar kota tentu butuh biaya besar.

“Bukan berarti kita melihat daerah enggak penting, tetapi secara teknis, (lokasi Jakarta) akan mempermudah,” kata Lukman. 

“Kalau kita omong tayangan tv, berapa banyak dana kalau kita harus bawa pergi keluar? Berapa banyak dana untuk membawa ratusan orang dari Jakarta keluar? kami cenderung melihat ke sisi praktis,” lanjutnya.

Namun menurut Lukman, bukan berarti daerah lain tidak terlibat. Mereka punya sejumlah program yang akan berlangsung di sejumlah kota besar dengan basis penonton film besar. Misalnya Makassar, Medan, dan Yogyakarta. 

Malam Penghargaan Piala Citra hanyalah satu dari sekian program FFI 2018. 

“Jadi, daerah tetap punya andil. Kami akan ke daerah-daerah, bentuknya entah lokakarya atau acara komunitas. Kami juga bawa pelaku industri film ke sana sehingga mereka juga terlibat, merasakan bahwa perjalanan FFI sudah dimulai,” tutur Lukman. 

“Jakarta itu sekadar penyelenggaraan (acara utama) karena secara teknis, akan sulit kalau kita bawa (manusia dan alat) ke luar. Sebenarnya kita melibatkan daerah juga,” imbuhnya.

Sejak FFI dihidupkan kembali pada 2004, tempat seremoni puncak berpindah-pindah, mulai dari Jakarta, Riau, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Palembang, Banten, hingga terakhir Manado. Bahkan untuk Jakarta, lokasi acara juga tidak tetap. 

Mulai tahun ini, dengan pembentukan komite dengan masa kerja periodik, FFI diharapkan menjadi program berkelanjutan dan tidak harus “memulai kembali” setiap tahun. Lukman menjadi ketua komite yang berisikan Catherine Keng, Edwin Nazir, Lasja F Susatyo, Nia Dinata, dan Coki Singgih. 

Nomine Piala Citra akan diumumkan pada Selasa, 6 November 2018. Film-film yang layak nominasi adalah yang sudah tayang berbayar dan mendapat Surat Tanda Lulus Sensor dalam kurun waktu 1 Oktober 2017 hingga 30 September 2019.

(ASA)

Festival Film Indonesia Punya Komite Tetap Hingga 2020

Jakarta: Badan Perfilman Indonesia (BPI) memenuhi janjinya tahun lalu untuk membentuk komite tetap penyelenggara Festival Film Indonesia (FFI). Komite ini dipimpin Lukman Sardi dan akan bekerja selama tiga tahun hingga 2020.

Bersama Lukman Sardi, ada Catherine Keng sebagai sekretaris, Edwin Nazir untuk urusan keuangan dan pengembangan usaha, Lasja F Susatyo untuk urusan program, Nia Dinata untuk urusan penjurian, dan Coki Singgih untuk urusan komunikasi.

Komite FFI melengkapi dan bekerja sama dengan entitas terkait perfilman yang sudah berjalan, seperti Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm), Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), Lembaga Sensor Perfilman (LSF), BPI, Akatara, Komisi Film Daerah (KFD), asosiasi profesi, lembaga pendidikan, komunitas, bioskop, media, serta komite sertifikasi profesi LSP Kreator Film.

“Buat saya, kami semua, ini terobosan baik karena kalau bicara festival, tentu kita omong kualitas. Kalau soal kualitas, tentu ada program berkesinambungan,” kata Lukman dalam konferensi pers dan peluncuran FFI 2018 di XXI Metropole Menteng, Senin, 1 Oktober.

Menurut Lukman, FFI tidak hanya menjadi ajang penghargaan Piala Citra, tetapi juga merangkum serangkaian acara. Enam program lain yang telah diumumkan adalah kanonisasi film Indonesia, pelatihan tingkat ahli bagi nomine, pembiayaan perfilman, kolaborasi komunitas, dukungan akses penjualan hak edar film, serta literasi dan apresiasi publik. 

Komite FFI telah terbentuk dan bekerja sejak Maret 2018. Tim penjurian sedang menyusun daftar film layak nominasi serta sistem pemilihan, yang akan dikirim ke asosiasi dan organisasi film dengan hak pilih.

Daftar nomine akan diumumkan pada awal November 2018. Pada malam itu, FFI juga berencana menggelar Malam Apresiasi bagi pekerja film dengan capaian penting dalam perfilman Indonesia. Malam Anugerah akan digelar di Jakarta pada Desember.

(ASA)

Dave Grohl akan Lelang Instrumen dari Film Dokumenter Play

California: Dave Grohl, musisi pentolan grup Foo Fighters, akan melelang sejumlah instrumen dan perlengkapan musik yang pernah digunakan dalam pembuatan dokumenter pendek berjudul Play. Dalam dokumenter itu, Dave memainkan tujuh alat musik untuk komposisi 23 menit yang juga berjudul Play.

Dave, seperti dilaporkan Spin, melelang sejumlah alat musik itu melalui situs web Reverb mulai Selasa, 9 Oktober hingga Minggu, 21 Oktober 2018. Alat-alat ini, yang dibubuhi tanda tangan langsung Dave, adalah pemberian DW Drums, Fender, Gibson, Gretsch, Ludwig, Masters Of Maple, dan Zildjian untuk proyek dokumenter Play.

Rencananya, hasil lelang akan digunakan sebagai dana amal bagi pendidikan musik anak-anak. Pilihan ini berangkat dari refleksi Dave, bahwa penguasaan alat musik adalah proses belajar seumur hidup yang sudah bisa dimulai sejak anak-anak.

“Melihat anak-anakku sendiri mulai bermain musik dan mengambil les, membawa aku kembali ke saat aku seusia mereka, menguliknya dan belajar dari kesalahan. Bahkan sekarang, sebagai pria berusia 49 tahun, aku masih belajar,” kata Dave dalam pernyataan resmi.

“Ini adalah sebuah obsesi seumur hidup, tapi pada akhirnya, sama seperti setiap anak lain, upah atas itu ya main musik saja,” imbuhnya.

Dokumenter pendek Play menampilkan permainan musik Dave untuk komposisi berdurasi 23 menit. Video telah dirilis di situs web Roswell Films pada 10 Agustus. Pengguna bisa melihat dan mendengar perpaduan seluruh permainan Dave atau menyimak setiap instrumen secara terpisah.

(DEV)

Acha Septriasa Tampil Solo dalam Trailer Film Jaga Pocong

Jakarta: Acha Septriasa membintangi film horor supranatural terbaru berjudul Jaga Pocong. Dalam trailer pertama yang baru saja dirilis, tampak Acha berperan sebagai seorang perawat yang mendapat teror gaib di sebuah rumah.

Acha memerankan Mila, suster perawat di rumah sakit besar. Suatu hari, Mila diutus untuk datang ke rumah seorang pasien (Jajang C Noer) yang “butuh pertolongan segera”. Jarak rumah sakit ke rumah pasien sangat jauh karena Mila berangkat ketika masih terang dan sampai tujuan setelah petang.

Begitu sampai tujuan, pasien Sulastri (Jajang C Noer) ternyata sudah meninggal. Radit anaknya (Zack Lee) meminta Mila untuk memandikan jenazah dan membungkusnya dengan kain kafan yang sudah disiapkan sendiri oleh Sulastri. Mila juga diminta untuk menunggu rumah selama Radit pergi mengurus pemakaman. Mulai dari situ, Mila mengalami sejumlah kejadian aneh.

Menurut sinopsis resmi, Mila tidak sendirian di rumah itu, tetapi bersama adik Radit bernama Novi (Aqila Herby). Novi juga mendapat teror gaib hingga nyaris terbunuh. Namun dalam trailer pertama ini, baru sosok Mila saja yang ditampilkan sendirian.

Jaga Pocong digarap sutradara Hadrah Daeng Ratu dengan naskah tulisan Aviv Elham. Drama horor supranatural ini menjadi film cerita panjang kelima Hadrah, menyusul dwilogi Mars Met Venus. Film diproduksi Oswin Bonifanz dan Yoen K, yang sebelumnya sudah membuat sejumlah film horor gaib.

Bagi Acha, Jaga Pocong menjadi film keduanya tahun ini setelah film drama Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi produksi Rendy Saputra. Acha membagikan trailer di media sosial dan menyebut film ini sebagai film horor solo debutnya.

“Aku sangat senang mempersembahkan kepada kalian film horor pocong solo pertamaku,” tulis Acha dalam keterangan video pada Sabtu lalu.

Jaga Pocong dijadwalkan rilis di bioskop pada 25 Oktober 2018.

Belakangan, nama Acha disebut dalam pemberitaan mengenai trailer terbaru film Fantastic Beasts: Crimes of Grindelwald. Ternyata lima bulan silam Acha pernah bercerita, bahwa dia telah menjalani audisi peran Nagini, tetapi memilih mundur. Simak cerita lengkapnya di sini.

(DEV)

Macaulay Culkin Kirim ‘Surat Lamaran’ ke J.K. Rowling

Jakarta: Bintang film Home Alone, Macaulay Culkin mengirim ‘surat lamaran’ kepada penulis J.K. Rowling. Lamaran itu dikirim melalui cuitan Twitter yang disematkan di bawah pernyataan pembelannya terhadap komentar kontradiktif soal karakter Nagini dalam Fantastic Beasts 2.

“Hey J.K. Rowling aku berada di pihakmu! Nagini bisa menjadi apapun yang dia inginkan! Dia adalah perempuan/ular yang kuat. Apa bisa Anda menulis namaku dalam film terbaru Anda? Aku Macaulay Culkin (dari Home Alone: The Movie) dan aku adalah (aktor) Pagemaster (berpengalaman dengan kekuatan magis),” tulis Macaulay, Kamis, 27 September 2018.

Culkin juga memohon kepada, Dan Fogler pemeran Jacob Kowalski dalam Fantastic Beasts and Where to Find Them untuk merekomendasikan dirinya pada J.K. Rowling.

Cuitan ini pun dilanjutkan oleh beberapa pengguna Twitter. Satu dari mereka ada yang menyebut Macaulay bisa memerankan beberapa tokoh dari keluarga Draco Malfoy, yakni Scorpius Malfoy dan Abraxus Malfoy.

Perdebatan peran Nagini dimulai ketika J.K. Rowling menulis dalam cuitannya bahwa karakter Nagini, ular peliharaan sebagai salah satu hocrux milik Voldermort diambil dari mitologi Indonesia.

“Naga adalah makhluk mitos mirip ular dalam mitologi Indonesia, karena itu namanya Nagini. Kadang mereka digambarkan bersayap, kadang setengah manusia setengah ular. Indonesia terdiri atas ratusan kelompok etnis, termasuk Jawa, Cina, dan Betawi. Semoga harimu indah,” kicau @jk_rowling menanggapi komentar @J_A_Moulton, Rabu, 26 September 2018.

Peran ini diperankan oleh aktris asal Korea Selatan Claudia Kim. Menurut sejumlah warganet, peran ini dirasa kurang baik. Sebab Nagini memerankan tokoh budak Voldermort.

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald dirilis 16 November 2018.

(ELG)

Dua Wajah Ario Bayu di Poster Film The Returning

Jakarta: Kaninga Pictures merilis poster film The Returning dirilis. Film bergenre horor ini mengambil latar era ’90 berkisah tentang pasangan keluarga Colin (Ario Bayu) dan Natalie (Laura Basuki) bersama dua anak mereka.

Colin mengalami kecelakaan tragis. Tiga bulan setelah dinyatakan meninggal, Colin kembali ke rumah secara misterius. Sejak saat itu, serangkaian peristiwa aneh terjadi di keluarga mereka.

Dalam poster diperlihatkan Laura Basuki dan Ario Bayu berpose bersama dua anak mereka. Ario tampak digambarkan memiliki wujud manusia dan setengah monster.

Selain merilis poster, beberapa nama pemeran turut dipaparkan di antaranya Tissa Biani, Bryan Domani, Muzakki Ramdhan, Dayu Wijanto, DJ Yasmin dan Peter Taslim.

Melalui akun Twitter, The Returning baru merilis Muzakki Ramdhan dan Tissa Biani. Muzakki berperan sebagai Dom, bungsu yang belum bisa bicara tetapi berusaha memahami segala hal misterius yang dialami keluarganya. Tissa berperan sebagai Maggie, sulung yang peka terhadap kejanggalan sang ayah sejak ayahnya kembali ke rumah.

Film besutan sutradara Witra Asliga ini mengambil tagline “Ada Jiwa Yang Tak Seharusnya Kembali”.

Film The Returning dijadwalkan tayang 1 November 2018.

(ELG)

Iqbaal Ramadhan hingga Menteri Sri Mulyani Puji Film Aruna dan Lidahnya

Jakarta: Film Aruna dan Lidahnya mendapat banyak tanggapan positif, di antaranya Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) Indonesia Triawan Munaf dan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani.

“Tidak ada cara berpromosi lebih efektif untuk mengangkat film dan kuliner selain melalui film itu sendiri. Film ini melakukannya dengan renyah dan berselera tinggi,” kata Triawan Munaf dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id.

Aruna dan Lidahnya diadaptasi lepas dari novel karya Laksmi Pamuntjak oleh sutradara Edwin di bawah bendera Palari Films. Film ini mengangkat perjalanan Aruna, ahli unggas yang mendapat tugas lapangan di beberapa kota. Kesempatan ini digunakan Aruna (Dian Sastrowardoyo) mengajak dua sahabatnya, Nad (Hannah Al Rashid) dan Bono (Nicholas Saputra) bersama mantan rekan kerja Aruna, Farish (Oka Antara) dalam perjalanan menikmati kuliner khas nusantara di Surabaya, Pamekasan, Pontianak dan Singkawang.

Selaras dengan Triawan, Sri Mulyani tertarik dengan sajian film yang sekaligus mempromosikan kuliner Indonesia. Dia juga memuji akting dari empat pemain utamanya.

“Saya benar-benar menyukai cara film ini menampilkan kehidupan sehari-hari tapi mempunyai kedalaman cerita. Saya suka sekali aktingnya Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid dan Oka Antara. Saya rasa mereka bisa memberikan banyak sekali pelajaran tanpa harus menggurui. Bicara tentang lidahnya, kuliner Indonesia luar biasa.”

“Saya harap banyak masyarakat dapat menonton film Aruna dan Lidahnya. Ini adalah cerita tentang kita, tentang kekayaan budaya kita, tentang diri kita, tentang perasaan kita, tentang cara kita bergaul, tentang banyak sekali kekayaan dari kuliner Indonesia yang banyak sekali bahkan kita tidak tahu,” papar Sri Mulyani.

Tidak hanya dari kalangan pemerintah, pujian turut diberikan oleh kalangan aktor seperti Reza Rahadian dan Iqbaal Ramadhan.

“Suka banget filmnya, tidak melodramatis, semuanya sangat mulus, perjalanan cerita mereka berempat, saya sih happy banget nontonnya, to be honest. Saya berharap orang-orang akan berbondong nonton film ini, karena bukan hanya kulinernya yang menarik, itu sudah pasti, tapi perjalanan cerita mereka juga menarik. Mudah dicerna dan saya yakin banget banyak orang relate sama film ini,” kata Reza.

All I can say is this is a wonderful movie. Film ini disajikan seringan mungkin. Bikin kita ingin nonton dua tiga kali. Chemistry antar pemainnya tidak usah diragukan lagi. Setelah nonton film ini tidak cuma bahagia, tapi ada sesuatu yang bisa dibawa pulang. Aruna dan Lidahnya adalah satu paket yang utuh. Top notch!” kata Iqbaal.

Aruna dan Lidahnya mulai tayang di bioskop 27 September 2018.

(ELG)

Acha Septriasa Nyaris Jadi Nagini di Fantastic Beasts

Jakarta: Acha Septriasa ternyata nyaris jadi Nagini dalam film Fantastic Beast: The Crime of Grindelwald, film sempalan Harry Potter yang diadaptasi dari novel JK Rowling.

Aktris dan penyanyi kelahiran Jakarta itu menuturkan, ia sempat menjalani audisi rahasia pada Februari 2017, saat ia masih mengandung anak pertamanya. Ia tidak mengetahui judul film dan hanya diberi informasi bahwa film tersebut bergenre fantasi.

“Saat itu mengandung masuk bulan ke-2 ketika mendapat e-mail dari casting agency di London. Sebuah kesempatan langka karena tawaran itu datang dari Casting Director Fiona Weir. Karakter peran yang aku baca ialah sebagai Natalie berbicara dengan karakter bernama Charles di atap sebuah gedung di Prancis. Karakternya rapuh dan bisa berubah menjadi ular,” kata ibu dari Bridgia Kalina Kharisma itu, di Jakarta.

Setelah menjalani audisi hingga April 2017, film yang diberi judul sementara Voltaire itu pun akhirnya diketahui sebagai sekuel spin off Harry Potter. “Itu ialah Fantastic Beast: The Crime of Grindelwald, sebagai maledictus, siluman ular,” ujarnya.

Meski bersemangat, Acha terpaksa melepaskan perannya itu karena

syuting film yang dimulai pada Juli 2017 itu bertepatan dengan kondisi Acha yang hamil tua. “Kesempatan itu terlewat dengan datangnya Brie ke dalam hidupku, harapanku. Semoga kesempatan itu akan datang kembali suatu saat nanti,” harapnya.

Sosok Nagini akhirnya diperankan aktris Korea Selatan, Claudia Kim. Dalam Instagram-nya, Rowling menyebutkan, Nagini terinspirasi dari mitologi Indonesia, ratu ular dari Kalimantan.

(ELG)

The Night Comes for Us, Film Baru Iko Uwais dan Joe Taslim Dirilis di Netflix

Jakarta: Film laga thriller The Night Comes For Us garapan sutradara dan penulis Timo Tjahjanto akhirnya siap dirilis ke publik. Netflix membeli hak edar global untuk film ini dan akan merilisnya pada 19 Oktober mendatang.

The Night Comes For Us (TNCFU) sekaligus akan menjadi film asli Netflix perdana dari Indonesia. Proyeknya dimulai sejak 2014 dan melibatkan banyak pemain papan atas, seperti Iko Uwais, Joe Taslim, Julie Estelle, Sunny Pang, Zack Lee, Shareefa Daanish, Hannah Al Rashid, Dian Sastrowardoyo, Abimana Aryasatya, Epy Kusnandar, dan Morgan Oey.

Film berkisah tentang sindikat kejahatan di Jakarta pimpinan Ito (Joe Taslim), yang mengalami kisruh internal setelah Ito menghilang secara misterius. Begitu kembali sekian tahun kemudian, Ito, yang melindungi seorang gadis muda, harus menghadapi sejumlah masalah, mulai dari geng penguasa baru yang menagih hutang simpanan, hingga kawan lamanya Arian (Iko Uwais) yang bergabung ke kelompok mafia Makau.

Iko, yang juga terlibat sebagai penata adegan laga, menyebut The Night Comes For Us jauh lebih kompleks dan bengis dibanding Headshot (2016). Dalam Headshot, Iko juga beradu laga dengan Sunny Pang dan Julie Estelle.

“Di sini (TNCFU) malah lebih kompleks, lebih violent daripada Headshot. Makanya produser Indonesia, dari Screenplay, dia kayaknya memberikan kebebasan buat saya dan Timo. Kalau kemarin (Headshot) sih jujur saja, saya agak ngerem untuk adegan kekerasan,” kata Iko di Jakarta, 19 September 2017.

The Night Comes for Us Disebut Lebih Bengis dari Headshot

TNCFU diproduksi Screenplay Infinite Films, kongsi bentukan Screenplay Films dan Infinite Frameworks. Film ini telah ditayangkan perdana dalam Fantastic Fest di Austin pada 23 September.

Selain TNCFU, setidaknya ada tiga film Indonesia lain yang akan dirilis secara global oleh Netflix. Produser Sunil Soraya menyebut bahwa platform streaming asal New York ini sedang membeli hak edar tiga film produksi Soraya Intercine Films.

“Tiga film kami memang (dibeli) Netflix untuk worldwide. Target, Mata Batin, The Doll. Sebelum tanda tangan kontrak, saya enggak bisa bilang (jadwal rilis)), tetapi kami sedang proses ke sana,” kata Sunil saat ditemui usai pengumuman film Suzzanna di Cikini pada Selasa lalu.

Netflix sedang melakukan ekspansi konten film dan serial mereka. Pada Mei lalu, menurut laporan SayMeTech, pihak Netflix menyatakan mereka sedang belanja ratusan judul dan serial dari beberapa negara. Mereka berharap akan punya 1.000 judul tayangan asli pada akhir 2018.

(ELG)

J.K Rowling Sebut Karya Terbarunya Terinspirasi Mitologi Indonesia

Jakarta: Kejutan di trailer terbaru Fantastic Beasts 2, bahwa aktris berdarah Asia timur Claudia Kim adalah pemeran tokoh Nagini, yang ternyata adalah makhluk mistik ular setengah manusia, memancing protes dari sejumlah penggemar kisah Harry Potter. 

Mereka menganggap penjelasan karakter “setengah manusia” terlalu memaksa dan pemilihan Claudia hanya demi mendapat kesan keragaman rasial. Dalam tujuh episode novel Harry Potter, Nagini selalu diceritakan sebagai ular mistik betina berukuran besar, yang adalah perpanjangan nyawa Voldemort.

Tak lama, JK Rowling sang penulis kisah aslinya membalas kritik ini dengan penjelasan yang cukup masuk akal. Menurut Rowling, nama dan karakter Nagini tercipta lewat referensi makhluk mitos naga asal Indonesia.

“Naga adalah makhluk mitos mirip ular dalam mitologi Indonesia, karena itu namanya Nagini,” kicau @jk_rowling menanggapi komentar @J_A_Moulton, Rabu, 26 September 2018.

“Kadang mereka digambarkan bersayap, kadang setengah manusia setengah ular. Indonesia terdiri atas ratusan kelompok etnis, termasuk Jawa, Cina, dan Betawi. Semoga harimu indah,” lanjutnya.

Kita mengenal naga sebagai makhluk mistik yang punya banyak versi penggambaran. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut naga sebagai ular besar. Menurut Ensiklopedia Britannica, naga adalah makhluk setengah kobra setengah manusia dalam mitologi Hinduisme, Buddhisme, serta Jainisme. 

Kamus Sansekerta Indonesia punya istilah “naga” yang artinya juga sama. Bahkan ada yang lebih spesifik, yaitu “nagagini” atau ular betina. Dalam kisah pewayangan Mahabharata, yang dipengaruhi oleh Hinduisme, ada tokoh wayang bernama Nagagini, anak dari dewa ular Sang Hyang Antaboga. Dongeng klasik Jawa juga punya tokoh manusia ular bernama Nyi Blorong. 

Dengan referensi ini, sebenarnya bukan hal mengejutkan ketika JK Rowling menciptakan tokoh bernama Nagini yang adalah “ular betina raksasa” dan “manusia ular”. Naga tanpa sayap juga bisa ditemui dalam versi berbeda di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. 

Namun jika JK Rowling mengambil referensi dari Indonesia, kenapa aktrisnya dari Korea Selatan?

Cerita yang dibagikan Acha Septriasa lima bulan silam mengungkap satu hal menarik lain di balik produksi film ini. Dia punya peluang besar untuk menjadi pemeran Nagini, tetapi batal. 

Pada 10 April 2018, Acha mengunggah video pikniknya ke wahana Harry Potter di Hollywood. Dalam keterangan video di Instagram, Acha menuliskan cerita cukup panjang, bahwa dia pernah mendapat tawaran audisi dari London untuk proyek rahasia bernama “Voltaire”. Untuk audisi, dia akan membaca peran sebagai Natalie, yang berdialog dengan Charles di sebuah atap kota Paris. 

“Sebuah karakter yang rapuh yang bisa menjelma menjadi siluman. Ha-ha-ha agak clueless sebenarnya, karakter fantasi apa ini?” tulis @septriasaacha. 

“Ternyata itu adalah Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, sebagai maledictus, sang ular buas,” imbuhnya.

Kendati telah ikut audisi, pada akhirnya Acha memilih untuk tidak melanjutkan karena sedang hamil tujuh bulan.

“Kesempatan itu terlewat dengan datangnya Brie ke dalam hidupku, harapanku. Semoga mimpi itu akan datang kembali suatu saat nanti, datang dari seluk beluk rahasia-Nya, yang menyapa lewat keajaiban- keajaiban,” lanjut Acha. 

Dalam postingan berikutnya, Acha juga memberi penjelasan kenapa JK Rowling Warner Bros butuh pemeran berwajah Asia untuk peran Nagini. Dia mengunggah foto sebuah kaver dengan tulisan: Venu Des Profondeurs De La Jungle Indonesienne. Tampak gambar wanita berbaju biru dengan ular panjang raksasa yang melilit tubuhnya.

“Kenapa mereka butuh wajah Asia untuk memerankan seorang Maledictus? Dia adalah ratu ular dari Kalimantan, Indonesia,” tulis Acha pada foto 15 April 2018. Claudia Kim akhirnya menjadi aktor berwajah Asia yang dimaksud.


Unggahan akun Acha Septriasa melalui akun Instagram pribadinya, pada 12 April 2018 (Foto: Instagram @septriasaacha)


Unggahan akun Acha Septriasa melalui akun Instagram pribadinya, pada 15 April 2018 (Foto: Instagram @septriasaacha)

Film ini disutradarai David Yates dengan naskah tulisan JK Rowling. Selain Claudia Kim, pemain yang terlibat antara lain Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Dan Fogler, Alison Sudol, Ezra Miller, Zoe Kravitz, Callum Turner, William Nadylam, Kevin Guthrie, Jude Law, dan Johnny Depp. 

Fantastic Beasts: Crimes of Grindelwald dijadwalkan rilis di bioskop pada November 2018.
 

(ASA)

Novel Sin dan Invalidite Diangkat ke Layar Lebar

Novel Sin (Foto: dok. falcon)

Jakarta: Falcon Pictures kembali mengangkat sebuah novel laris ke dalam layar lebar. Kali ini giliran novel milik penulis muda Faradita yang karyanya akan dituangkan ke film.

Ada dua novel karya Faradita yang akan diangkat ke layar lebar yaitu, Sin dan Invalidite. Novel Sin disebut sudah terjual 13 ribu eksemplar dan empat kali dicetak ulang. Sementara respons serupa ditunjukkan Invalidite yang sudah terjual lima ribu eksemplar meski baru memasuki tahapan prajual.

“Kami memiliki komitmen ingin mengajak generasi muda yang berbakat untuk berkarya. Kami menganggap Faradita sebagai penulis muda dan berbakat, dan kami senang bisa memberikan dukungan dengan mengangkat karyanya ke layar lebar,” kata Produser Falcon Frederica dalam keterangan tertulisnya.

Falcon sebelumnya sudah pernah mengangkat novel-novel laris seperti Teman Tapi Menikah karya Ayudia Bing Slamet dan Dito. Mereka saat ini juga sedang menggarap film yang diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer yaitu, Bumi Manusia.

“Kami juga terbuka untuk karya-karya generasi muda terbaik lainnya,” ujarnya.

Mengetahui dua novelnya akan diangkat ke layar lebar membuat perasaan Faradita campur aduk. Dia sempat tidak percaya. “Sebab saya tidak pernah berpikir bakal di filmkan. Saya hanya menulis saja awalnya, tidak punya target apa-apa,” kata Faradita.

Novel Sin berkisah tentang kisah cinta remaja antara Raga Angkasa dengan seorang gadis cantik, nakal, dan menjadi idola di sekolahnya bernama Amerta Rinjani. Kisah cinta mereka sangat rumit, penuh dengan misteri. Bahkan mereka menganggap apabila mereka bersatu justru akan menjadi sebuah dosa.

Sedangkan Invalidite mengisahkan tentang sosok Dewa, seorang mahasiswa yang mempunyai latar belakang keluarga yang kaya raya, tapi tidak peduli dengan kuliahnya. Ia lebih memilih menekuni profesinya sebagai fotografer profesional. Hingga suatu saat Dewa berkenalan dengan wanita bernama Pelita yang mampu mengubah pemikirannya.

“Yang membuat saya yakin ya karakter Raga dan Amerta itu kok rasanya akan jadi semakin hidup dan menarik disimak lewat media film. Secara cerita, masing-masing karakter sangat kuat dan bakal enak juga jadi materi tontonan,” tutup Faradita.

(ELG)

Ave Maryam, Film Baru Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerikho

Jakarta: Aktris Maudy Koesnaedi terlibat dalam proyek film baru berjudul Ave Maryam. Dalam film ini, Maudy beradu peran dengan Chicco Jerikho.

Ave Maryam merupakan film panjang karya sutradara Robby Ertanto Soediskam. Sebelumnya, sutradara yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta itu pernah menyutradarai film 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita. Film ini juga berhasil masuk dalam berbagai festival film di luar negeri, salah satunya Capetown International Film Market & Festival.

Film ini mengangkat kisah perempuan bernama Maryam (Maudy Koesnaedi), 40 tahun, dengan latar tempat di Semarang tahun 1998. Lahir di keluarga muslim, Maryam bekerja membantu panti jompo dan itu membuatnya berinteraksi dengan orang berbeda agama. 

Dalam perjalanannya, Maryam pergi ke Ambarawa, tepatnya ke Giri Sota. Di sana dia bertemu dengan tujuh biarawati tua, kemudian Maryam memutuskan untuk membantu para biarawati itu. Singkat cerita, Maryam dalam keseharian bekerja untuk membersihkan gereja, memandikan para biarawati, menyiapkan makanan dan sebagainya.

Perjalanan Maryam ke Ambarawa membawanya bertemu satu sosok baru, Yosef (Chicco Jerikho), seorang pastor berusia 35 tahun. Pertemuan Maryam dan Yosef membawa pada perasaan-perasaan yang baru. Kemudian keduanya memiliki relasi yang kompleks.

Selain Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerikho, sutradara Joko Anwar turut bermain dalam film ini bersama Olga Lydia dan Tuty Kirana.

Belum ada keterangan resmi jadwal tayang film Ave Maryam di bioskop Indonesia.

(ASA)

Film Horor Sakral Unggul di Box Office Indonesia Akhir Pekan

Jakarta: Film drama horor Sakral dari Dee Company unggul di box office akhir pekan terakhir. Selama empat hari pertama tayang, angka penjualan tiket filmnya mencapai 138 ribu lembar.

Dengan asumsi satu tiket senilai rata-rata Rp37 ribu, pendapatan kotor film ini telah mencapai Rp5,1 miliar. Menurut data Katalog Film Indonesia, hingga Senin, 24 September 2018, Sakral masih beredar di 186 layar.

Drama percintaan Belok Kanan Barcelona dari Starvision Plus juga baru saja melewati akhir pekan pembuka. Angka penjualan tiketnya mencapai 105 ribu atau setara Rp3,8 miliar. Lalu juga ada komedi Baco Becce dari produser Herman Heizer dan sutradara Rere Art2tonic, dengan angka box office 33 ribu tiket atau Rp1,25 miliar. 

Belok Kanan Barcelona masih beredar di 228 layar, sedangkan Baco Becce beredar di 30 layar kawasan Indonesia timur. 

Untuk film-film sebelumnya, komedi satir Gila Lu Ndro (Falcon Pictures) memimpin capaian box office selama sepekan terakhir. Angka penjualan tiket bertambah dari 191 ribu menjadi 296 ribu atau setara Rp10,98 miliar. Film ini masih beredar di 71 layar setelah tayang 11 hari.

Drama horor Bisikan Iblis dari MD Pictures bertambah dari 106 ribu menjadi 177 ribu atau setara Rp6,5 miliar. Film masih beredar di 30 layar setelah tayang 11 hari. 

Sementara itu, laga silat fantasi Wiro Sableng dari Lifelike Pictures sudah hampir mencapai garis akhir di box office. Angka penjualan tiket bertambah sekitar 50 ribu tiket. Pendapatan kotor selama 25 hari tayang adalah 1,53 juta tiket atau setara  Rp56,84 miliar. Film masih beredar di 30 layar. 

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta dari Mooryati Soedibyo Cinema masih beredar di dua layar. Lalu Siap Gan! (Wailan Rotinsulu & Robby Zoriza), Cinta sama dengan Cindolo Na Tape (Andy Buhamzah), dan Jejak Cinta (Jimmy E Alwy D) sudah resmi turun layar. 

Berikut daftar sementara 15 film terlaris 2018, berdasarkan data terbaru Katalog Film Indonesia per Senin, 24 September 2018.

1. Dilan 1990 (6.315.664)   
2. Danur 2: Maddah (2.572.672)   
3. Si Doel The Movie (1.757.653)  
4. #Teman tapi Menikah (1.655.829)   
5. Wiro Sableng (1.536.332)   
6. Jailangkung 2 (1.498.635)    
7. Sabrina (1.337.510)   
8. Kuntilanak (perkiraan 1.236.000)          
9. Sebelum Iblis Menjemput (1.122.187)   
10. Eiffel… I’m In Love 2 (1.008.392)   
11. Yowis Ben (935.622)   
12. Rasuk (900.019)   
13. Target (823.525)   
14. Sajen (792.892)   
15. 22 Menit (786.242) 

(ASA)

10 Fakta Menarik Film Suzzana Bernapas dalam Kubur

Jakarta: Soraya Intercine Films telah merilis poster dan video teaser perdana untuk film horor Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang dibintangi Luna Maya. Bersamaan dengan perilisan, kru dan pemain juga membagikan sejumlah cerita mengenai proyek ini. 

Luna mengaku lega karena akhirnya dia bisa bercerita mengenai film ini. Sebelumnya, selama berbulan-bulan proses persiapan hingga produksi, pihak Soraya melarang dia membagi kabar apapun tentang film, termasuk foto situasi di lokasi syuting. 

“Proyek ini agak lama saya pendam. Selama beberapa bulan, saya selalu menolak jika wartawan bertanya. Akhirnya lega begitu boleh diumumkan,” kata Luna dalam konferensi pers di kantor Soraya di kawasan Cikini, Senin, 24 September 2018. 

Berbagai cerita tentang film ini datang tidak hanya dari Luna, tetapi juga produser Sunil Soraya dan sutradara Rocky Soraya. Sebagian besar kami rangkum dalam 10 poin berikut, mulai dari pergantian sutradara, makan bunga melati, hingga 200 foto Suzzanna untuk membuat topeng prostetik.

1. Sinopsis

Setelah menikah tujuh tahun, Suzzanna (Luna) akhirnya hamil calon anak pertama, tetapi Satria (Herjunot Ali) suaminya harus dinas luar negeri. Selama Satria pergi, empat karyawannya (Verdi Solaeman, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Kiki Narendra) berniat merampok rumah saat sepi. 

Hari perampokan akhirnya datang ketika Suzzanna pergi bersama tiga pembantu (Asri Welas, Ence Bagus, Opie Kumis). Namun perampokan justru berubah menjadi pembunuhan tatkala Suzzanna, karena kondisi tubuh lemah, pulang sendirian lebih awal. Panik, keempat karyawan mengubur jenazahnya di belakang rumah. 

Anehnya, keesokan hari, Suzzanna tetap beraktivitas seperti biasa di rumah. Apakah Suzzanna masih hidup?

2. Pemilihan judul

Sama seperti “Benyamin”, nama mendiang Suzzanna telah menjadi semacam merek lewat film baru yang mendaur ulang konsep film-film lamanya. Dalam film ini, Luna Maya memerankan tokoh dengan wajah dan pembawaan seperti Suzzanna dalam film-film horor terdahulu. 

“Suzzanna” pun dipakai bersama judul utama cerita, yaitu Bernapas dalam Kubur. Menurut Sunil, mereka tidak hendak menyinggung judul film lama seperti Bernafas dalam Lumpur (1970) atau Beranak dalam Kubur (1971). Judul dibuat belakangan berdasarkan cerita yang dirancang sejak lima tahun silam.

“Karena ada adegan orang dikubur. Boleh tanya departemen artistik, kami gali (tanah) sampai 10 kali untuk adegan kuburan. Sempat terlintas judul Sundelbolong apa begitu, tetapi saya pikir, ini enggak cocok buat filmnya,” kata Sunil. 

3. Pembaruan cerita

Sunil mengklaim bahwa cerita film ini benar-benar baru dan tidak berhubungan dengan film-film lama. Memang ada adegan dari film lama seperti sate 200 tusuk, tetapi menurut Sunil, adegan semacam itu diperbarui dan porsinya sangat kecil. Bahkan ada sejumlah adegan yang ditulis dan syuting ulang. 

Cerita, yang berlatar 1980-an, disebut punya pengaruh kuat terhadap aspek horor karena film ini tidak memakai elemen jumpscare. Film berdurasi total 135 menit. 

“Kalau naskah mirip dengan film lama, itu masalah besar. Orang nonton, pasti bilang ini film lama. Bagusnya, naskah ini enggak ada hubungan dengan film lama. Itu naskah baru, benar-benar menceritakan hal baru, sesuatu yang relevan kapanpun juga,” ungkapnya. 

4. Komedi tetap ada

Unsur komedi, seperti ada di film-film horor Suzzanna, tetap dipertahankan untuk film terkini versi Luna Maya. Sunil memasukkan rasa komedi horor sejak awal cerita dibuat, tetapi dengan motif yang lebih menyatu dengan cerita keseluruhan. 

“Saya enggak mau Suzzanna menggoda orang yang enggak ada hubungan dengan Suzzanna.
Jadi, enggak boleh orang luar diganggu hanya untuk adegan komedi horor. Komedi ini punya hubungan dengan keluarga Suzzanna, jadi memang menyatu dengan ceritanya. Tukang sate diganggu, itu juga ada alasannya,” jelas Sunil. 

5. Ganti sutradara di tengah jalan

Proyek ini mengawali praproduksi dan produksi bersama sutradara Anggy Umbara. Namun di tengah jalan, ketika syuting telah berjalan sebulan dan hasilnya ditinjau ulang, Sunil tidak puas dan merasa “beda visi” dengan Anggy, terutama untuk unsur horornya. Anggy dihentikan dan kursi sutradara diserahkan ke Rocky Soraya, yang memimpin syuting lanjutan selama 20 hari.

Nama Anggy tetap dicantumkan bersama nama Rocky. 

“Bagian yang tayang, bagian saya mungkin di atas 70 persen,” ujar Rocky.

6. Pemilihan Luna Maya

Sunil bercerita pemilihan pemeran Suzzanna cukup sulit dan memakan waktu lama. Dia mencari aktris dengan bentuk wajah semirip mungkin seperti mendiang Suzzanna agar topeng prostetik bisa berfungsi optimal. Setelah Sunil tak kunjung menemukan pemain, Rocky menyarankan Luna Maya. Rocky dan Luna pernah berkolaborasi dalam film horor The Doll 2 dan Sabrina

“Saya sudah lama kerja sama dengan dia (Luna) dan saya menyadari bahwa dia, kalau menjiwai peran sangat mendalam. Saya bisa lihat kalau sosoknya dikasih Suzzanna, dia bisa jago banget dibandingkan pemain lain yang hanya mirip secara riasan, tetapi enggak menjiwai,” kata Rocky.

“Ketika tes, ternyata (Luna) memang sesuai dengan ekspektasi,” imbuhnya.

7. Pendalaman peran Luna Maya

Awalnya Luna merasa tidak percaya diri karena cemas tidak bisa menyerupai sosok Suzzana sebagai aktris film horor. Namun setelah bertemu pasangan make-up artists asal Rusia untuk “cetak muka” dan melihat hasil topeng prostetik, Luna takjub dan yakin. 

“Saya lihat hasilnya, ini luar biasa. Itu sudah menjadi modal untuk membuat saya percaya diri, tinggal bagaimana masalah akting,” ungkap Luna. 

Luna pun melakukan studi intensif atas segala gerak-gerik, cara berjalan, cara bicara, ekspresi emosi, serta intonasi suara mendiang Suzzanna sebagai aktris lewat film-film horor yang pernah dimainkan. Selain menonton belasan filmnya, Luna juga kerap mendengar rekaman suara dialog untuk sebisa mungkin, menirukan warna suara Suzzanna yang khas. 

“Saya rangkum, adegan ini pada saat dia marah, saat dia ketawa. Satu Suro misalnya, ada ciri khasnya, di mana penekanan (intonasi) sewaktu marah,” ujar Luna.

Luna juga mengambil ciri khas mata melotot. Namun ekspresi sederhana ini menjadi sangat sulit karena Luna, yang kornea matanya berwarna kebiruan, harus memakai lensa kotak berwarna coklat. Apalagi dia juga sudah memakai prostetik di wajah.

“Cukup menderita ha-ha. Tetapi mudah-mudahan kerja keras saya selama beberapa bulan ini membuahkan hasil. Ini syuting tergila sih, tekanan gila, semua gila. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Ditambah lagi, saya enggak boleh berbagi di media sosial,” imbuhnya. 

8. Makan bunga melati

Menurut Luna, ada satu adegan di mana dia harus memakan bunga melati, sama seperti adegan ikonik dari film-film Suzzanna. “Rasanya ya, wangi ha-ha. Namun Bunda makan bertahun-tahun, enggak apa-apa.”

Namun properti bunga melati di lokasi syuting tidak selalu segar. Luna mengaku sempat makan bunga melati yang “basi” dan sudah berbau aneh. 

“Ternyata ada melati yang sudah dari kemarin dan rasanya agak basi, tetapi ya telan saja ha-ha. Takut sakit perut, tetapi ternyata enggak apa-apa,” ungkapnya.

9. 200 Foto untuk prostetik Suzzanna

Clift Sangra, mantan suami Suzzanna, juga ikut terlibat dalam proyek film ini. Selain bermain, dia membantu tim artistik dengan memberikan foto-foto Suzzanna mulai dari kecil hingga dewasa. Foto digunakan sebagai referensi untuk membuat topeng prostetik. 

“Dua hari saya cari, bongkar-bongkar album. Ada sekitar 200 foto yang saya kirim ke Pak Ram (Soraya),” kata Clift. 

“(Wajah) Suzzie dari umur ke umur berubah. Jadi saya harus pilih, umur berapa yang mau kita pakai di film ini. Kami masukkan ke umur 29 tahun,” sambung Sunil. 

“Saya terus mengetes struktur muka Luna. Akhirnya saya dapat Januari-Maret,” imbuhnya.

10. Nilai produksi setara Tenggelamnya Kapal Van Der Wick

Menurut Sunil, produksi film ini menghabiskan biaya mahal dan menjadi salah satu film termahal Soraya. Apalagi waktu produksi, yang sudah sebulan, bertambah 20 hari karena urusan syuting ulang.

“Mirip dengan Van der Wick ya. Kalau Van der Wick berurusan dengan kapal dan ini itu, kalau film ini berurusan dengan syutingnya, set, latar 1980-an, perbaikan, syuting ulang, dan tim yang begitu besar, itu memakan biaya karena hari bertambah panjang,” ujar Sunil.

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dijadwalkan rilis di bioskop pada 15 November 2018.

(ASA)

Film Suzzanna Ganti Sutradara di tengah Produksi, Ada Apa?

Jakarta: Soraya Intercine Films telah merilis informasi terbaru mengenai proyek film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, mulai dari poster hingga pemain dan kru yang terlibat. Salah satu kabar mengejutkan, sutradara Anggy Umbara ternyata sudah tidak terlibat sebelum proyek selesai.

Rocky Soraya, yang sebelumnya mengerjakan film horor gaib The Doll dan Sabrina, masuk dan menjadi sutradara pengganti. Rocky menuebut produser Sunil Soraya meminta dia untuk masuk dan mengambil alih proyek. 

“Saya enggak kerja sama dengan Anggy. Pak Sunil (Soraya) memberikan proyeknya ke saya di tengah. Alasannya kenapa, itu lebih tepat ke produser saja. Saya enggak bisa beri tahu lebih jauh,” kata Rocky kepada Medcom.id, Senin, 24 September 2018. 

Menurut Rocky, dia tidak hanya menyelesaikan adegan sisa, tetapi juga memimpin syuting ulang untuk sebagian besar adegan, terutama bagian horor. 

“Bagian yang tayang, bagian saya mungkin di atas 70 persen,” ujar Rocky.

“(Syuting ulang) lumayan banyak. Adegan horornya, semua saya buat, dengan opening dan ending, di tengah-tengah ada percakapan atau apa yang diambil dari sebelumnya, tetapi kebanyakan saya re-take (syuting ulang),” jelasnya lebih lanjut.

Sunil menjelaskan bahwa peran sentral Anggy dihentikan karena “beda visi, beda cara kerja”. Setelah Anggy keluar, mereka menulis ulang sebagian naskah dan membuat adegan horor yang lebih cocok dengan visi produser. 

“Sutradara ganti karena memang beda visi, beda cara kerja, tetapi itu saja. Zaman sekarang itu sudah biasa. Star Wars Solo saja berubah sutradara,” ujar Sunil saat dikonfirmasi terpisah.

“Anggy Umbara memang teman saya dan dia juga omong ke saya, kita baik-baik saja. Ini bukan seperti sebuah konflik. Mungkin ini kayak, kadang skenario sudah kita tulis, terus kayaknya kurang cocok di tengah, lalu kita ganti. Mungkin lebih ke arah sana,” imbuhnya. 

Menurut Sunil, mereka mengganti adegan yang dirasa sudah ada di film-film sebelumnya. Dia menulis ulang naskah bersama Bene Dion Rajagukguk. 

“Bukan hanya re-take, tetapi perubahan adegan. Saya menulis ulang adegan-adegan yang saya enggak setuju. Ada adegan yang saya rasa sudah pernah saya lihat. Saya pastikan di film ini, kalian nonton, enggak ada satupun adegan yang pernah dilihat,” ungkapnya. 

Perkara syuting ulang ini membuat waktu produksi menjadi lebih lama. Syuting bersama Rocky, termasuk untuk adegan yang diulang, berjalan sekitar 20 hari lebih. Sebelumnya, mereka telah menjalani syuting selama 30-40 hari bersama Anggy. Nama Anggy tetap dicantumkan sebagai sutradara bersama Rocky.

Film ini dibintangi oleh Luna Maya. Sejumlah pemain pendukung antara lain Herjunot Ali, Clift Sangra, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, Asri Welas, Opie Kumis, dan Ence Bagus. 

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dijadwalkan rilis di bioskop pada 15 November 2018.

(ASA)

Sekuel 3 Dara Angkat Cerita Bapak Rumah Tangga

Jakarta: MNC Pictures telah merilis trailer dan sinopsis untuk film sekuel 3 Dara 2. Ketiga tokoh utama, yang diperankan Tora Sudiro, Adipati Dolken, dan Tanta Ginting, menghadapi masalah baru terkait identitas gender lelaki dan perempuan. 

Jika dalam film pertama, ketiga tokoh “dikutuk” menjadi perempuan karena kelakuan misoginis, film kedua menampilkan mereka bertiga bertukar peran dengan istri masing-masing. Afandi, Jay, dan Richard terpaksa menjadi bapak rumah tangga, menggantikan istri yang bekerja di luar rumah. 

“Mereka tidak hanya menjadi ibu rumah tangga. ‘Ibu rumah tangga’ itu sebab-akibat atas apa yang mereka lakukan,” kata produser Toha Esa dalam konferensi pers di CGV Grand Indonesia Jakarta, Senin, 24 September 2018.

Menurut Toha, masalah yang diceritakan dalam film ini relevan dengan situasi sekarang. Ada cerita tentang suami yang bekerja lebih keras demi “tujuan mulia”, ada pula tentang istri yang akhirnya kerepotan karena ambisi suaminya. 

“Mungkin itu nanti ketika lihat (filmnya), orang akan sangat nyambung dengan kejadian dan kekonyolan suami ini. (Kisahnya) keseharian dan di luar keseharian, tujuannya baik, tetapi ternyata membuat satu masalah ke masalah lain,” ungkap Toha. 

Produser kreatif Lukman Sardi menyebut 3 Dara 2 sebagai film komedi yang mengajak orang untuk menertawakan diri sendiri. 

“Bayangkan nanti menonton, tiba-tiba ketawa sendiri karena merasa bahwa ‘Ini gue banget’ atau ‘Ini suami gue banget’. Hal ini coba kami angkat ke permukaan karena lagi-lagi, film itu cerminan dari kehidupan, mau itu komedi atau apapun. Kami berusaha menghadirkan senyata mungkin, tetapi dari sisi komedinya supaya kita bisa menertawakan diri kita sendiri,” tutur Lukman. 

Tora Sudiro, yang kembali berperan sebagai Afandi, mengaku terbiasa dengan peran bapak rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Dia dan istrinya sama-sama menekuni profesi aktor, tetapi istrinya relatif lebih sibuk. 

“Gue sudah biasa melakukan pekerjaan ibu rumah tangga di rumah. Misal memasak, mencuci, menyemir sepatu, menyiapkan baju ketika istri mau berangkat syuting. Adalah, pasti pernah mengalami yang seperti ini di kehidupan sehari-hari, tetapi mungkin agak dilebihkan (di film ini) biar lebih seru,” ujar Tora. 

Tanta juga kembali berperan sebagai Richard. Dia mengaku sempat pesimis dengan proyek film kedua karena merasa cerita film pertama sudah usai. Namun begitu membaca sinopsis, Tanta antusias. 

“Begitu dikasih sinopsis tentang menjadi ibu rumah tangga, nah itu keren banget karena banyak banget konflik, apalagi yang sudah jadi orangtua, bapak, sewaktu mengurus anak, belanja, itu beda banget. Wah ini bakal menyenangkan. Lihat daftar pemain, wah ini bakal lucu banget sih,” ungkap Tanta. 

3 Dara 2 diarahkan Monty Tiwa dengan naskah garapan Monty, Nataya Bagya, dan Fatmaningsih Bustamar. Selain mereka bertiga, pemeran lain yang terlibat adalah Cut Mini, Fanny Fabriana, Rania Putrisari, Ovi Dian, Dwi Sasono, dan Soleh Solihun. 

3 Dara 2 dijadwalkan rilis di bioskop pada 25 Oktober 2018.

(ASA)

Teaser dan Sinopsis Film DreadOut Dirilis

Jakarta: Proyek film horor DreadOut garapan sutradara Kimo Stamboel telah merilis video teaser perdana serta sinopsis resmi. Film ini diadaptasi dari gim video horor berjudul sama buatan studio Digital Happiness Bandung.

Dalam PopCon Asia 2018 di ICE BSD, sejumlah pemain telah dikenalkan. Ada Caitlin Halderman yang menjadi pemain utama pemeran remaja SMA bernama Linda. Lalu Jefri Nichol, Marsha Aruan, Irsyadillah, Susan Sameh, dan Ciccio Manassero berperan sebagai kawan Linda.

Dalam teaser 45 detik, penonton bisa menyimak cuplikan teror horor yang dihadapi oleh Linda dan kawan-kawan di sebuah apartemen terlantar. Dalam satu ruangan, mereka menemukan perkamen kuno dengan aksara asing. Dari situlah, masalah mereka bermula.

Sinopsis resmi yang kami terima cukup panjang, tetapi kami rangkum seperti berikut ini.

Lima remaja SMA hendak merekam petualangan mereka di sebuah apartemen angker untuk diunggah ke media sosial dan mendapat popularitas. Mereka mengajak Linda, yang kenal dekat dengan satpam apartemen, agar mendapat akses masuk.

Namun perjalanan senang-senang tersebut menjadi sangat salah ketika mereka mendobrak sebuah kamar misterius yang tampak seperti tempat pemujaan. Mereka menemukan sebuah perkamen kuno, yang ternyata membuka pintu supranatural dan membuat murka para makhluk penjaga.

Kisah film ini cukup berbeda dengan kisah utama dalam gim DreadOut dari segi luas lokasi. Dalam versi gim, Linda dan kawan-kawan terlantar di sebuah kota saat sedang liburan. Begitu masuk kota, mereka sadar ada hal jahat di situ. Sebagai Linda, pemain gim harus bertahan hidup dan keluar dari kota dengan bantuan berbagai gawai modern.

Film ini diproduksi GoodHouse.ID bersama CJ Entertainment, Sky Media, Nimpuna Sinema, dan Lyto. Naskahnya ditulis oleh Kimo, yang juga menjadi sutradara dan salah satu produser.

DreadOut belum punya jadwal rilis resmi, tetapi dalam rentang waktu akhir 2018 hingga awal 2019.

(DEV)

Tiga Film Terbaru Marvel Digarap Sutradara Perempuan

California: Setelah Captain Marvel dan Black Widow, Marvel Studios punya satu proyek film lagi yang akan digarap sutradara perempuan. Proyek ini diberi judul The Eternals dengan sutradara Chloe Zhao asal Tiongkok. 

Marvel, lewat waralaba Marvel Cinematic Universe, telah merilis 20 film sejak 2008 dan tidak ada satupun dari proyek itu yang dipimpin sutradara perempuan. Captain Marvel (Maret 2019), yang disutradarai duo Anna Boden dan Ryan Fleck, akan menjadi film pertama Marvel dengan kriteria tersebut. 

Film kedua adalah Black Widow dengan sutadara Cate Shortland. Film ini akan fokus kepada tokoh utama Natasha Romanoff alias Black Widow dengan bintang utama Scarlett Johansson. Proyek ini belum punya jadwal rilis. 

Lalu film ketiga, menurut laporan Indiewire, adalah The Eternals. Chloe Zhao, sineas muda asal Tiongkok yang bermukim di AS, telah direkrut untuk menjadi sutradara. 

Chloe telah membuat dua film panjang sejak 2015. Film terakhirnya, The Rider (2017), tayang perdana di Festival Film Cannes dan meraih Art Cinema Award. Film ini juga mendapat respons positif dari sejumlah kritikus, berdasarkan situs web agregator Rotten Tomatoes dan Metacritic. Hak edar The Rider untuk kawasan AS telah dibeli oleh Sony Classic. 

Eternals, seperti diceritakan dalam komik-komik Marvel, adalah makhluk kosmik sakti yang sudah ada di tata surya sejak jutaan tahun silam. Mereka tampak seperti manusia di luar, tetapi punya struktur biologis yang jauh lebih kuat sehingga bisa hidup lebih lama. Ras ini diciptakan oleh dewa-dewa semesta Celestials, yang juga menciptakan ras Deviants. 

Proyek film bersama Chloe Zhao belum punya jadwal rilis. Naskahnya ditulis oleh Matthew dan Ryan Firpo. Kevin Feige menjadi produser.

(DEV)

Caitlin Halderman Alami Insiden Terkena Celurit saat Syuting Film DreadOut

Jakarta: Aktor Caitlin Halderman memulai debut bermain film horor lewat DreadOut, film pertama yang diangkat dari gim berjudul sama. Tidak tanggung-tanggung, aktor berusia 18 tahun itu didapuk memerankan Linda, tokoh sentral dalam gim dan film.

Sebelumnya, Caitlin lebih sering bermain dalam film drama remaja. Dia bahkan sempat terkena celurit saat syuting.

“Ada kecelakaan kena celurit pocong di kaki,” kata Caitlin di kawasan ICE, BSD, Tangerang, Jakarta, Sabtu, 22 September 2018.

“Aku langsung shock karena si pocong enggak bisa lihat, makeup-nya macam-macam. Aku enggak nyalahin dia juga, tapi dia merasa bersalah banget, aku enggak tahu harus berkata apa. Aku langsung diangkat, tiduran, istirahat 2-3 jam. Habis tidur, lalu bangun lagi oke lanjut,” sambungnya.

DreadOut adalah film yang disadur dari gim karya Digital Happiness, pengembang gim yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Sesuai dengan gim, film ini mengambil tema horor dengan karakter sentral Linda bersama ponselnya menangkap penampakan para hantu.

Terlibat dalam proyek film horor ini, Caitlin tertarik untuk bermain film horor.

“Iya sih seru banget. Soalnya action-nya. Kalau drama kan melow ya, kata-kata puitis. Kalau ini benar-benar yang lo mau jelek pun just do it, enggak peduli lagi. Serunya di situ. Banyak banget kejadian aku sampai kena celurit pocong, bolong kena celurit, semoga hasilnya bagus,” kata Caitlin.

Caitlin menjalani syuting sejak April-Mei tahun ini. Dia menjalani syuting tanpa menggunakan stuntman meski banyak adegan-adegan ekstrem yang dijalani.

Untuk pendalaman karakter, Linda tidak bermain gim DreadOut. Dia mengaku takut. Maka, pendalaman karakter dilakukan lewat bincang-bincang bersama sutradara dan membaca review.

DreadOut disutradarai Kimo Stamboel. Produksi film bekerjasama dengan Sky Media, GoodHouse dan CJ Entertainment Korea.

DreadOut diprediksi tayang di bioskop Indonesia sekitar Desember 2018-Januari 2019.

 
(ELG)

Film DreadOut Tunjuk Caitlin Halderman sebagai Pemeran Linda

Tangerang: Film DreadOut mengumumkan daftar lengkap pemain. Dalam jumpa media di Pop Con Asia 2018, tim produksi menampilkan sejumlah aktor muda yang turut berperan termasuk sosok pemeran Linda, sosok sentral dalam cerita.

Tokoh Linda akan diperankan Caitlin Halderman, bersama Jefri Nichol, Marsha Aruan, Irsyadillah, Susan Sameh dan Ciccio Manassero yang berperan sebagai teman-teman SMA Linda. Beberapa aktor senior yang ikut dilibatkan antara lain Hannah Al Rashid, Miller Khan, Salvita DeCorte dan Mike Lucock.

“Kebetulan Jefri, Caitlin yang menurut gue bisa merankan karakter ini. Gue tanya sama kreator-nya Si Linda itu setengah-setengah, ada keturunannya. Kita casting banyak tapi akhirnya kita pilih Caitlin,” ungkap Kimo Stamboel, sutradara DreadOut usai jumpa media di ICE BSD, Tangerang, Sabtu, 22 September 2018.

Film ini menjadi debut Caitlin bermain dalam genre horor action.

“Pengalaman baru banget di film-film sebelumnya kan drama. Aku mau ambil tantangan dengan main di film DreadOut ini. Horornya bukan cuma sekadar horor. Benar-benar intens, aku harus latihan juga. Lama banget itu. Benar-benar harus matang banget persiapannya,” kata Caitlin.

Sebelumnya, Caitlin kerap bermain dalam film drama remaja. Dia mengaku sulit ketika harus bermain dalam film horor.

“Sulit jujur. Belajar banyak juga. Apalagi main filmnya sama Mas Kimo. Kalau main game-nya aku enggak. Tapi aku tahu. Aku kan takutan, jadi aku nonton orang main saja,” kata Caitlin.

DreadOut adalah gim pertama yang diangkat dari gim besutan Digital Happiness, pengembang gim yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Film ini diangkat ke layar lebar lewat sutradara Kimo Stamboel. Produksi film bekerjasama dengan Sky Media, GoodHouse dan CJ Entertainment Korea.

DreadOut diprediksi tayang di bioskop Indonesia sekitar Desember 2018-Januari 2019.
 
(ELG)

Pidi Baiq Beberkan Sosok Pacar Dilan setelah Milea

Jakarta: Surayah atau dikenal dengan nama pena Pidi Baiq pekan lalu mengunggah sebuah sampul Ancika Mehrunisa Rabu melalui akun Instagram. Sampul itu berjudul Dilan yang Bersamaku: Cerita dari Ancika Mehrunisa Rabu, sosok ini disebut-sebut perempuan lain yang bersama Dilan setelah Milea.

Dari keterangan tertulis pada foto, Pidi membuat sampul Ancika Mehrunisa Rabu di sela kegiatan menyunting film Koboy Kampus dan persiapan syuting film Dilan 1991. “Gak tau kapan bukunya akan selesai. Pokoknya tetap riang, jangan kalah sama anak PAUD,” tulis Pidi Baiq.

Ancika Mehrunisa Rabu diketahui sebegai perempuan yang bersama Dilan setelah putus dari Milea. Namun, kisah itu tidak diceritakan lebih lanjut dalam tiga novel Dialn-Milea yakni Dilan: Dia adalah Dilanku 1990, Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991 dan Milea: Suara dari Dilan.

Ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta, Pidi Baiq menjelaskan motif di balik sampul Ancika Mehrunisa Rabu yang diunggahnya.

“Entah bagaimana banyak kawan-kawan Twitter baca blogspot aku itu. Terusin, dong. Sampai cukup untuk satu buku banyak penerbit minta diterbitkan. Tentu saja aku ke Mizan karena sebelum nerbitin buku juga aku nerbitin buku yang lain ke Mizan, jadi novel. Saya terkejut, oh itu novel ya,” cerita Pidi sambil berkelakar, Kamis, 20 September 2018.

“Kalau penulis tahu kaidah membuat novel, aku enggak. Orang ngomong tanggung ceritanya. Aku terusin lagi. Terus setelah satu dan dua orang nyalahin Dilan. Kok disalahin? Putus gara-gara ada perempuannya. Berarti Dilan harus bercerita dong. Jadi, aku bikin buku itu lagi. Pesenan bukan. Saya pikir enggak, karena mereka menstimulus energiku dong, ya,” jelasnya.

Pidi Baiq membuat cerita baru yang dirangkum dalam 70 halaman, cukup untuk sebuah buku menurut Pidi.

“Aku nanya Si Ancika Mehrunisa Rabu, mau enggak kamu cerita tolong jelasin semua itu. (Dia) Enggak mau,” kata Pidi.

Cerita yang mulanya cukup dikemas dalam 40 halaman, rupanya dapat menghasilkan 70 halaman. Pidi mengatakan, Cika sebenarnya orang yang sibuk. Pidi memang punya karakter unik yang menganggap karakter-karakter ciptaannya adalah sosok nyata, tidak heran jika dia menyebut karakter rekaannya sibuk dan sebagainya.

“Aku pancing-pancing jadi banyak. Ternyata tanpa dia sedia cerita, sudah cerita sebetulnya,” kata Imam Besar The Panas Dalam Bank itu.

Buku Ancika nantinya akan bercerita ketika berpacaran dengan Dilan dan bagaimana sikapnya.

Sementara itu, film sekuel Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991 rencananya akan tayang di bioskop 2019.

(ASA)

Begini Cara Aruna & Lidahnya Menggugah Selera Makan Kita

Jakarta: Drama pertemanan dan percintaan di film Aruna & Lidahnya dikemas dalam perjalanan keempat tokoh menyusuri empat kota untuk urusan pekerjaan sekaligus kuliner. Belasan menu makanan lokal yang muncul, selain berfungsi menguatkan cerita, juga berupaya menggugah fantasi penonton atas makanan enak.

Bagaimana rangsangan selera makan itu dibangun di film?

Sutradara Edwin bercerita kepada Medcom.id beberapa hal teknis dan non-teknis yang mereka lakukan untuk memenuhi tujuan itu. Menurut rangkuman kami, selain teknik gambar close-up, setidaknya ada lima hal lain seperti berikut ini.

1. Akting

Akting, sudah pasti. Maksudnya, para pemain harus berakting seolah-olah menyantap makanan dengan nikmat. Apa susahnya? Edwin menyebut bagian ini cukup menantang karena pemain  berhadapan dengan makanan yang panas. Makanan yang tampak “panas” dan beruap diyakini mampu memberi kesan enak yang kuat, seperti sering kita lihat di iklan-iklan televisi.

“Kalau mau kelihatan panas, (masakan) harus panas banget. Kalau mau dimakan sungguhan, enggak enak karena kepanasan. Lalu (makanan) itu cepat dingin, jadi harus banyak. Jadi, susah buat aktor untuk pura-pura enak, padahal panas banget,” kata Edwin.

2. Uap

“Asap (uap) itu selalu menggugah, kelihatan berasa panas, begitu,” ujar Edwin.

Seperti bisa kita lihat lewat video teaser, uap muncul dalam close-up masakan berkuah, seperti sop buntut, soto lamongan, dan rujak soto. Ada pula pengkang Pontianak yang sedang dibakar.

3. Warna netral

Terkait nuansa warna gambar, Edwin menyebut mereka harus bertahan dengan gaya warna yang netral. Tujuannya adalah membuat makanan tampak familiar seperti dilihat manusia sehari-hari. Karena itu, kuah soto Lamongan tetap kekuningan di sini. 

“Warnanya dinetralkan, dibikin familiar, enggak dilebih-lebihkan warna tertentu. Misalnya soto, ya warna soto,” kata Edwin.

4. Penata makanan

Edwin dan tim memang mengambil gambar di warung masakan aslinya di empat kota. Namun ada sejumlah adegan yang mereka garap di dalam studio, yaitu ketika makanan, bahan-bahan, dan proses masaknya tampak dalam jarak sangat dekat. Untuk adegan ini, mereka melibatkan food stylist atau penata makanan. 

“Kami bekerja juga dengan food stylist, namanya Pak Puji, untuk yang close-up kayak daging dimasukkan ke rawon atau ulekan bumbu,” ujar Edwin.

“Bukan untuk cantik-cantikan, tetapi waktu syuting (di lokasi), itu enggak bisa karena dapur mereka di pinggir jalan banget, terlalu menganggu (warung). Kalau close-up, itu teknis banget ya, lampunya jadi banyak, jadi menganggu aktivitas warung. Itu dikerjakan di studio,” jelasnya.

5. Detail suara

“Suara punya peran penting. (Saya) enggak tahu orang bisa dengar atau enggak, tetapi banyak detail yang kami tambahkan, kayak suara kuah mendidih, sendok masuk ke kuah, bahkan seperti bawang jatuh itu terdengar, kecil-kecil,” ungkap Edwin.

Menurut Edwin, sadar tak sadar, suara semacam itu membuat penonton lebih peka dan sensitif. Sebagian penonton mungkin tidak biasa mendengar detail suara yang kecil, kendati suara itu ada di sana. Untuk film ini, detail suara diharapkan mampu ikut merangsang rasa lapar.

Pengerjaan suara juga membutuhkan tindakan ekstra. Suara dipertebal atau ditambahkan dalam pasca-produksi karena mereka tidak bisa sekadar mengandalkan hasil syuting. Ketika syuting, detail suara semacam itu ada tetapi sulit terekam langsung.

“Jadi, harus dibuat. gimana caranya seperti yang kita dengar. Jadi itu diakali dengan sesuatu yang lebih gede lagi. Sebenarnya enggak didramatisasi, tetapi secara teknis, mikrofon (biasa enggak menangkap). Misalnya menjatuhkan koya, suaranya enggak dapat,” terang Edwin. 

Aruna & Lidahnya akan dirilis di bioskop pada 27 September 2018.

(ASA)

Ada 21 Macam Santapan di Film Aruna & Lidahnya

Jakarta: Kisah utama film Aruna & Lidahnya adalah drama pertemanan dan percintaan antara Aruna dengan ketiga kawannya sepanjang perjalanan Surabaya hingga Pontianak. Namun film ini punya sajian lain yang tak kalah menarik dan menyatu dengan cerita, yaitu beragam santapan kuliner penggugah selera makan.

Menurut sutradara Edwin, total ada 21 macam makanan yang ditampilkan di film.

Ragam makanan itu disantap keempat tokoh selama perjalanan lima kota, antara lain sop buntut, rawon Surabaya, soto Lamongan, kacang kowa, rujak soto, choi pan, pangkang, bakmi kepiting Pontianak, serta kue seperti madumongso. Makanan dipilih atas berbagai pertimbangan selama  riset dan praproduksi, dengan referensi utama novel aslinya karya Laksmi Pamuntjak.

“(Kami memilih) dari buku dan dari pengalaman saya setelah riset,” kata Edwin usai pemutaran Aruna khusus media di XXI Plaza Indonesia, Kamis, 20 September 2018.

“Misalnya ke Pontianak, lihat bukunya ada apa saja. Sambil riset itu, kami juga berkeliling makan. Contohnya ya di Madura, kalau di buku ada sate lalat dan bebek sinjay, tetapi waktu jalan, kok ada sesuatu yang spesifik banget, seperti campor lorjuk ini. Jadi itu kami masukkan,”

Campor lorjuk dari Pamekasan, Madura, tidak diceritakan di novel, tetapi dipilih karena alasan “kekhasan”. Jika bicara Pamekasan, bebek sinjay mungkin memang lebih populer. Namun Edwin menemukan makanan lain yang lebih otentik.

“Kami juga mencari yang lain sampai pada akhirnya, ketemu lorjuk di Pamekasan. Karena harus memilih, kami harus pilih sesuatu yang lebih baru dan bahkan enggak ada di buku,” ujar Edwin.

“Ini makanan yang sangat khas dengan Pamekasan, hanya ada di pesisir kota Pamekasan karena kerang bambu lorjuk ditangkap di situ. Selain area itu, enggak ada lagi. Ini sesuatu yang menarik untuk diselipkan, betapa macam-macam bentuk makanan kita,” jelasnya.

Aruna & Lidahnya dibintangi Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara. Edwin menjadi sutradara dengan naskah adaptasi tulisn Titien Wattimena. Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia menjadi produser dalam bendera Palari Films, bekerja sama dengan Go-Studio, CJ Entertainment, BASE Entertainment, dan Ideosource.

Kisahnya mengikuti perjalanan Aruna melakukan investigasi kasus flu burung di sejumlah kota Indonesia, sembari menyantap makanan lokal bersama Bono dan Nad. Tak disangka, Aruna berjumpa dengan seseorang dari masa lalunya, Farish. Sembari menikmati masakan nusantara, mereka terlibat pembicaraan yang mengungkap rahasia terpendam.

Aruna & Lidahnya akan dirilis di bioskop pada 27 September 2018.

(ELG)

Produser Sebut Aruna & Lidahnya Lebih Kasual Ketimbang Posesif

Jakarta: Setelah debut Posesif meraih Piala Citra, Palari Films mengerjakan dan merilis film cerita kedua mereka, Aruna & Lidahnya. Menurut produser Muhammad Zaidy, film Aruna punya sajian yang lebih kasual dibanding Posesif.

“Dengan Posesif, kami punya target berbeda. Posesif film remaja yang punya isu (kekerasan),” kata Zaidy usai penayangan terbatas Aruna bagi awak media di XXI Plaza Indonesia, Kamis, 20 September 2018.

“Sementara Aruna lebih kasual, lebih santai, karakter-karakternya lebih dewasa, dan hal yang dibicarakan itu sehari-hari tentang makanan, pekerjaan, cinta, dan persahabatan. Semoga film ini bisa diterima masyarakat luas dan mewakili kehidupan mereka,” lanjutnya.

Senada, produser Meiske Taurisia menyebut bahwa film Aruna menonjolkan obrolan sehari-hari yang wajar antara teman-teman di meja makan.

“Kita itu sehari-hari seperti apa sih, kalau ngobrol sambil makan sama geng kita, teman-teman kita. Film ini justru akan sangat memotret kehidupan kita sehari-hari, obrolan kita, tingkah laku kita, kok tegang banget, padahal kalau sudah lewat, biasa saja kali ya,” ungkap Meiske dalam kesempatan sama.

Film ini disutradarai Edwin dengan naskah adaptasi tulisan Titien Wattimena. Ini menjadi film cerita panjang keempat Edwin sebagai sutradara. Sebelumnya, dia mengerjakan Babi Buta yang Ingin Terbang, Postcards from the Zoo, dan Posesif.

Edwin menyebut bahwa film dengan “obrolan wajar” adalah sesuatu yang dia usahakan sejak lama. Namun baru lewat Aruna, dia bisa mengarahkan lebih banyak pemain dengan dialog yang lebih panjang.

“Ini pertama kali saya bikin film dengan empat karakter. Sebelumnya lebih sedikit,” kata Edwin.

“Saya bekerja dengan empat aktor yang sangat bersemangat ini untuk menghadirkan obrolan yang wajar dan itu memang usaha saya sejak dulu, tapi mungkin film-film dulu enggak banyak dialog. Sekarang, banyak sekali dialog dan memang ingin menampilkan dialog dalam film yang sewajar-wajarnya,” ungkapnya.

Aruna melibatkan pemain Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara. Film diproduksi Palari bersama Go-Studio, CJ Entertainment, BASE Entertainment, dan Ideosource. Kisahnya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak.

Kisahnya mengikuti perjalanan Aruna melakukan investigasi kasus flu burung di sejumlah kota Indonesia, sembari menyantap makanan lokal bersama Bono dan Nad. Tak disangka, Aruna berjumpa dengan seseorang dari masa lalunya, Farish. Sembari menikmati masakan nusantara, mereka terlibat pembicaraan yang mengungkap rahasia terpendam.

Aruna & Lidahnya akan dirilis di bioskop pada 27 September 2018.

(ELG)

Alasan Daniel Mananta Mantap Pilih Laura Basuki Perankan Susy Susanti

Jakarta: Produser film Daniel Mananta dari rumah produksi Damn! I Love Indonesia Movies untuk film Susy Susanti: Love All mengaku sudah mantap memilih Laura Basuki sebagai peran utama ketimbang kandidat lain.

Daniel memiliki alasan khusus menggandeng Laura untuk memerankan Susy. Menurutnya, peran ini sangat cocok dengan Laura mulai dari penampilan hingga karakter.

“Untuk pemilihan Laura Basuki, kami ada beberapa casting. Sebelum Laura Basuki enggak tahu kenapa dari hati, gue tau dia yang bakal jadi. Dari gaya bicara, look itu sudah dapat banget,” papar Daniel di Senayan, Jakarta, Rabu, 19 September 2018.

“Tantangan terbesar kami bagaimana Laura Basuki bisa di Sunda-sundain (berbahasa Sunda). Ternyata bisa dan bagus banget. Saya lihat beberapa potongan shoot-nya keren,” jelas Daniel.

Susy Susanti, atlet legenda cabor bulutangkis turut memberikan komentar selaras. “Saya melihat kemampuan Laura dalam film-film sebelumnya cukup baik ya, dari karakternya dan penjiwaannya juga saya yakin sekali bahwa saat melihat casting Laura pun dia bisa menjiwai dengan begitu dalam.”

“Pada saat syuting dia juga berlatih agar bisa menjadi seperti saya, meskipun mungkin dengan susah payah karena dia bukan seorang atlet, tapi dia mau melakukan itu untuk mencapai hasil yang baik,” kata Susy.

Sementara untuk peran Alan Budikusuma yang merupakan juga atlet dan suami Susy jatuh ke tangan Dion Wiyoko. Ditunjuknya Dion dan Laura membuat mereka kembali dipasangkan sebagai pasangan suami istri di film.

“Untuk Alan sendiri adalah Dion Wiyoko. Sebenarnya gua agak gimana ya, mereka sudah main film bareng banyak. Tapi produser dan sutradara sudah milih Dion Wiyoko ternyata memang chemistry mereka bagus banget,” kata Daniel.

Sebelum proyek film Susy Dusanti, Dion Wiyoko dan Laura Basuki sebelumnya berperan sebagai sepasang kekasih atau suami istri di film Terbang (2018). Keduanya ikut terlibat dalam judul film sama di antaranya Haji Backpacker (2014), Love and Faith (2015) dan serial web Sunshine.

“Apalagi di sini peran Susy atau Laura lebih besar. Jadi, lebih besar dari Dion. Ini yang beda,” kata Daniel.

Susy Susanti: Love All diprediksi tayang di bioskop Februari-Maret 2019.

(ELG)

Ini Film-film Pesaing Marlina untuk Oscar 2019

Jakarta: Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak telah resmi diumumkan sebagai perwakilan Indonesia untuk seleksi nominasi Academy Awards ke-91 di AS dalam kategori Best Foreign Language Film. Sejauh ini, sudah ada 55 negara lain yang mengirim film mereka masing-masing.

Keputusan tentang submisi film Marlina diumumkan oleh komite khusus bentukan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) di Jakarta pada Selasa, 18 September 2018. Setidaknya enam negara lain, seperti dilaporkan Deadline, juga baru saja mengumumkan film mana yang akan mereka kirim.

Thailand mengirim Malila: The Farewell Flower dari sutradara Anucha Boonyawatana. Lebanon mengirim Capernaum, yang belum lama ini hak edarnya dibeli Sony Classic. Pakistan mengirim drama komedi Cake, yang punya serial sambungannya di YouTube.

Lalu ada Brazil dengan The Great Mystical Circus garapan Carlos Diegues, Slovenia dengan Ivan garapan Janez Burger, dan Bulgaria dengan Omnipresent garapan Ilian Djevelekov.

Buffalo Boys, film drama laga western koproduksi perusahaan Indonesia dan Singapura, dipilih sebagai film perwakilan dari Singapura. Italia dan Prancis, dua negara peraih kemenangan paling banyak di kategori ini, belum membuat pengumuman.

Sejak Academy Awards atau Piala Oscar punya kategori kompetisi Best Foreign Language Film pada 1956, Italia dan Prancis adalah dua negara peraih nominasi terbanyak. Bersama Jepang, mereka menjadi negara yang paling sering mengirimkan film ke sana.

Sejak 1956, sudah ada 11 film Italia dan sembilan film Prancis peraih Piala Oscar. Jepang meraih empat kemenangan, termasuk yang terakhir Departures pada 2008. Spanyol juga telah menang empat kali dan film terakhir adalah The Sea Inside pada 2004.

Indonesia sudah mengikuti ajang seleksi ini 20 kali sejak 1987. Film pertama adalah Nagabonar garapan MT Risyaf dan film terakhir sebelum Marlina adalah Turah garapan Wicaksono Wisnu Legowo. Jika nanti Marlina lolos seleksi tahap pertama lalu berlanjut ke lima besar, Piala Oscar 2018 akan menjadi kali pertama film Indonesia melaju sebagai nomine.

Berikut daftar 56 negara peserta seleksi Oscar 2019 beserta judul filmnya dan nama sutradara, seperti dikutip oleh Deadline pada Rabu, 19 September.

1. Aljazair – Until The End Of Time – Yasmine Chouikh
2. Austria – The Waldheim Waltz – Ruth Beckermann
3. Belanda – The Resistance Banker – Joram Lürsen
4. Belarusia – Crystal Swan – Darya Zhuk
5. Belgia – Girl – Lukas Dhont
6. Bolivia – Muralla – Rodrigo Patiño
7. Bosnia – Never Leave Me – Aida Begic
8. Brasil – The Great Mystical Circus – Carlos Diegues
9. Bulgaria – Omnipresent – Ilian Djevelekov
10. Ceko – Winter Flies – Olmo Omerzu
11. Cile – And Suddenly The Dawn – Silvio Caiozzi
12. Dominika – Cocote – Nelson Carlo de los Santos
13. Ekuador – A Son Of Man – Jamaicanoproblem and Pablo Agüero
14. Estonia – Take It Or Leave It – Liina Trishkina-Vanhatalo
15. Finlandia – Euthanizer – Teemu Nikin
16. Georgia – Namme – Zaza Khalvashi
17. Kamboja – Graves Without A Name – Rithy Pan
18. Kolombia – Birds of Passage, Cristina Gallego & Ciro Guerra
19. Kroasia – The Eighth Commissioner – Ivan Salaj
20. Mesir – Yomeddine – Abu Bakr Shawky
21. Indonesia – Marlina The Murderer In Four Acts – Mouly Surya
22. Inggris – I Am Not A Witch – Rungano Nyoni
23. Irak – The Journey – Mohamed Al-Daradji
24. Iran – No Date, No Signature – Vahid Jalilvand
25. Israel – The Cakemaker – Ofir Raul Grazier
26. Jepang – Shoplifters – Hirokazu Kore-eda
27. Jerman – Never Look Away – Florian Henckel von Donnersmarck
28. Korea Selatan – Burning – Lee Chang-dong
29. Kosovo – The Marriage – Blerta Zeqiri
30. Latvia – To Be Continued – Ivars Seleckis
31. Lebanon – Capernaum – Nadine Labaki
32. Lithuania – Wonderful Losers: A Different World – Arunas Matelis
33. Luksemburg – Gutland – Govinda Van Maele
34. Maroko – Burnout – Nour Eddine Lakhmari
35. Meksiko – Roma – Alfonso Cuarón
36. Norwegia – What Will People Say – Iram Haq
37. Palestina – Ghost Hunting – Raed Andoni
38. Pakistan – Cake – Asim Abbasi
39. Panama – Ruben Blades Is Not My Name – Abner Benaim
40. Peru – Eternity – Oscar Catacora
41. Portugis – Peregrinacao – Joao Botelho
42. Romania – I Do Not Care If We Go Down In History As Barbarians – Radu Jude
43. Serbia – Offenders – Dejan Zecevic
44. Singapura – Buffalo Boys – Mike Wiluan
45. Slovenia – Ivan – Janez Burger
46. Slowakia – The Interpreter – Martin Sulik
47. Spanyol – Champions – Javier Fesser
48. Swedia – Border – Ali Abbasi
49. Swiss – Eldorado – Markus Imhoof
50. Taiwan  – The Great Buddha+ – Huang Hsin-Yao
51. Thailand – Malila: The Farewell Flower – Anucha Boonyawatana
52. Tunisia – Beauty And The Dogs – Kaouther Ben Hania
53. Turki – The Wild Pear Tree – Nuri Bilge Ceylan
54. Ukraina – Donbass – Sergei Loznitsa
55. Venezuela – The Family – Gustavo Rondon Cordova
56. Yunani – Polyxeni – Dora Masklavanou

(ELG)

Trailer Perdana Captain Marvel Dirilis

California: Marvel Studios telah merilis trailer perdana untuk Captain Marvel, film ke-21 dalam waralaba Marvel Cinematic Universe. Trailer ini menampilkan Brie Larson, yang memerankan pilot dan superhero bernama Carol Danvers alias Captain Marvel.

Kisah film ini mengambil latar Bumi era 1990-an versi semesta fiksi Marvel, ketika Carol Danvers telah mendapatkan kekuatan alian dan menjadi superhero. Bersama dengan grup alien Kree, Carol harus berhadapan dengan grup alien Skrulls yang mampu berubah bentuk.

Selain cuplikan adegan pertarungan, trailer ini juga menampilkan Carol yang “mendarat” di Bumi,  kenangan masa kecil, serta kejadian yang memberinya kekuatan asing.

Pemeran lain yang bisa dikenali adalah Samuel L Jackson sebagai Nick Fury dan Clark Gregg sebagai Coulson. Kemunculan dua tokoh ini menjadi penghubung antara Captain Marvel dengan kisah besar Marvel Cinematic Universe.

Pemeran Captain Marvel Sempat Ragu Bergabung ke Film-Film Marvel

Dalam film sebelumnya, Avengers: Infinity War, tokoh Captain Marvel telah dikenalkan secara singkat dalam adegan ekstra. Sebelum ikut musnah karena Thanos, Nick Fury sempat mengirim pesan Carol lewat penyeranta. Film Captain Marvel akan menjadi kisah latar belakang Carol, sebelum dia tampil di Avengers 4.

Captain Marvel disutradarai Anna Boden dan Ryan Fleck. Film ini dijadwalkan rilis pada awal Maret 2019.

(ELG)

Agatha Chelsea Tertantang Jalani Adegan Ekstrem di Film The Sacred Riana

Agatha Chelsea (Foto: dok. pribadi)

Jakarta: Agatha Chelsea mengaku antusias ketika diajak membintangi film The Sacred Riana: Beginning. Pasalnya, film ini merupakan film horor pertama yang pernah dia bintangi.

Di film The Sacred Riana, Agatha berperan sebagai Lusi yang merupakan teman dekat dari Riana. Banyak hal seru dialami gadis 16 tahun ini selama satu pekan syuting di Tegal.

“Main film horor itu benar-benar tantangan buat saya karena banyak adegan ekstrem yang cukup menguras tenaga, namun dari semua ini saya jadi belajar,” kata Agatha Chelsea dalam keterangan tertulisnya.

The Sacred Riana: Beginning merupakan film yang mengangkat kisah hidup pesulap dengan nama panggung: The Sacred Riana. Nama Riana makin menjulang ketika menjuarai Asia’s Got Talent dan menjadi finalis America’s Got Talent.

Film yang disutradarai sutradara Billy Christian ini berkisah tentang latar belakang Riana dan boneka Riani. Riana menjadi pemeran tokoh utama, yang karakternya disusun sesuai citra di publik selama ini, yaitu gadis misterius irit bicara yang selalu berseragam sekolah Jepang dan membawa boneka berkostum serupa.

Selain Agatha dan Riana, artis lain yang ikut bergabung dalam film ini yaitu, Aura Kasih, Prabu Revolusi dan Citra Prima. The Sacred Riana: Beginning dijadwalkan tayang pada 2019.

“Senang juga menambah ilmu dari pengalaman dan dari orang-orang yang lebih senior yang lebih lama berkecimpung di dunia seni peran,” kata Agatha.

Agatha Chelsea memulai kariernya ketika mengikuti ajang pencarian bakat Idola Cilik. Selain dikenal sebagai penyanyi, dia juga mulai terjun ke dunia akting ketika membintangi film Ada Cinta di SMA dan Meet Me After Sunset.

“Saya bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan, terutama kesempatan dalam berkarier ini sebelum saya berangkat melanjutkan studi ke luar negeri,” ucapnya.

 
(ELG)